Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Indonesia Berpeluang Pacu Ekspor

Oleh Imam Suhartadi dan Tri Murti, Selasa, 27 Maret 2018 | 13:21 WIB

JAKARTA – Indonesia diyakini bisa mengambil peluang dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, karena produk-produk yang menjadi sasaran perang dagang kedua negara itu dapat disubstitusi oleh produk-produk Indonesia. Tiongkok di antaranya telah menetapkan sekitar 120 produk AS yang bakal dikenai tarif bea masuk, sehingga Indonesia bisa memetakan produk-produk tersebut untuk dijadikan peluang ekspor.



Sementara itu, Presiden AS Donald Trump telah menandatangani kebijakan pembatasan impor dengan menetapkan tarif 25% untuk baja dan 10% untuk alumunium dari Tiongkok. Hal tersebut dapat menjadi peluang untuk meningkatkan ekspor aluminium Indonesia ke AS. Saat ini kontribusi ekspor aluminium ke AS mencapai sekitar 31% dari total ekspor aluminium Indonesia.



Perang dagang antara AS dan Tiongkok dipicu oleh kebijakan poteksionisme Donald Trump. Dia pun menuding Tiongkok tidak menerapkan perdagangan secara adil sehingga membuat defisit neraca perdagangan AS terus meningkat. Berdasarkan data US Census Bureau, pada 2017, AS mencatatkan defisit neraca perdagangan sebesar US$ 375,23 miliar dengan Tiongkok, atau meningkat dibandingkan tahun 2016 sebesar US$ 347,02 miliar dan tahun 2015 sebesar US$ 367,26 miliar.


Tiongkok siap bereaksi atas kebijakan AS tersebut dengan menerapkan tarif impor untuk produk ekspor unggulan AS seperti daging babi, aluminium daur ulang, pipa baja, buah-buahan, dan minuman anggur.



Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$ 9,67 miliar dengan AS pada 2017, atau meningkat dari posisi tahun 2016 sebesar US$ 8,84 miliar. Sebaliknya, Indonesia mencatatkan defisit perdagangan sebesar US$ 12,72 miliar dengan Tiongkok pada 2017 dan US$ 14,01 miliar pada 2016. (bersambung)


Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/home/kebijakan-jagung-kedelai-tiongkok-bisa-untungkan-produk-sawit-indonesia/173736


BAGIKAN