Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu pembuatan galangan kapal

Salah satu pembuatan galangan kapal

Industri Galangan Kapal Desak Penurunan Bunga Kredit

LEO, Kamis, 13 Juni 2019 | 11:56 WIB

JAKARTA – Industri galangan kapal dalam negeri mendesak pihak perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit pembangunan kapal dari 11-13% menjadi 7% agar bisa kompetitif. Tingginya bunga bank membuat kapal produksi lokal tidak bisa bersaing dari kapal impor yang harganya lebih murah.

Ketua Umum Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Eddy Kurniawan Logam mengatakan, industri galangan kapal Indonesia dibebankan bunga kredit di kisaran 11-13%, berbeda jauh dengan kompetitor lain seperti di Tiongkok yang sebesar 5-6%, dan Jepang yang bahkan hanya 1-2%.

“Kalau turun hingga menjadi 7%, akan membuat seimbang antara permintaan dari swasta dan produksi kapal dari industri. Jadi bisa mulai nyambung,” kata dia di Jakarta, Rabu (12/6).

Eddy menerangkan, pihaknya sudah beberapa kali bertemu secara intensif dengan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) melalui focus group discussion (FGD), dengan pembahasan yang detail dan mendapat respon yang positif.

“Mudah-mudahan hal tersebut bisa bergulir dan diikuti bank-bank pemerintah lainnya,” kata dia.

Dia menambahkan, asosiasi juga terus mendorong usulan agar kapal menjadi bagian dari infastruktur, karena kapal merupakan alat untuk menyambungkan antar dua pelabuhan. Ketika kapal sudah menjadi bagian dari infrastruktur, perbankan dapat memberikan pembiayaan dengan bunga 7%, dan akan membuat harga kapal lebih kompetitif.

Menurut dia, seringkali perusahaan pelayaran dalam negeri lebih suka membeli kapal dari luar negeri, baik baru ataupun bekas, karena perbankan luar negeri berani membiayai galangan. Hal ini membuat galangan kapal luar negeri bisa membangun kapal dengan hanya membayar uang muka 5-10%, dan 90%nya dibiayai perbankan.

“Kami belum punya kemampuan untuk melayanicustomer yang membayar 10%, dan 90% kami yang harus biayai. Untuk menjembatani hal itu, pihak perbankan yang harus bener-benar melakukan sesuatu,” ungkap Eddy.

Dia meyakini, ketika hal ini bisa terjadi, pemesanan kapal bukan hanya akan datang dari swasta saja, tetapi juga dari pihak penyebrangan seperti ASDP. “Itu akan membuat industri galangan kapal menggeliat luar biasa, menciptakan lapangan pekerjaan, dan otomatis defisit transaksi berjalan akan berkurang,” kata dia.

Eddy menilai, tingginya harga komponen kapal yang dikenakan tarif bea masuk (BM) sebesar 5-12% juga menjadi faktor mahalnya harga kapal dalam negeri. Pengenaan BM yang awalnya bertujuan melindungi industri komponen galangan kapal di Indonesia, tetapi justru berbalik merugikan, karena masih banyak komponen kapal yang harus diimpor akibat belum dapat diproduksi di dalam negeri.

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN