Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Industri mamin. Foto ilustrasi: IST

Industri mamin. Foto ilustrasi: IST

Industri Orientasi Ekspor Juga Mulai Tumbuh

Senin, 3 Mei 2021 | 10:55 WIB
Leonard Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com) ,Sanya Dinda Susanti

JAKARTA, investor.id –  Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani mengatakan, sektor industri manufaktur yang sudah pulih dari dampak pandemi Covid-19 misalnya industri makanan dan minuman. Industri lain yang berorientasi ekspor juga mulai tumbuh, misalnya industri besi dan baja, sepatu, serta TPT, karena terdorong permintaan ekspor yang mulai pulih dengan kuat sejak kuartal IV- 2020.

“Namun, tidak semua perusahaan di sektor manufaktur sudah pulih, karena tingkat utilisasi mesin-mesin produksi di sektor manufaktur umumnya belum kembali ke level utilisasi di 2019. Perluasan kembali lapangan kerja juga sangat terbatas bahkan di sektor-sektor yang sudah pulih lebih cepat. Oleh karena itu, banyak pelaku usaha yang masih bersusah payah mempertahankan eksistensi usaha, mempertahankan operasi, dan mempertahankan lapangan kerja,” kata Shinta kepada Investor Daily, Sabtu (1/5).

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani. Foto: IST
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani. Foto: IST

Karena itu, dia berharap kelompok buruh juga rasional dan realistis terhadap kondisi saat ini. Shinta berharap kelompok buruh mau berbela rasa, berbagi kepentingan, dan bekerja sama agar baik buruh maupun pelaku usaha bisa keluar dari krisis akibat pandemi Covid-19.

Dia meminta buruh dan pelaku usaha bekerja sama meningkatkan produktivitas, supaya perekonomian bisa segera pulih.

Pertumbuhan ekonomi kuartalan sejumlah negara
Pertumbuhan ekonomi kuartalan sejumlah negara

Lindungi dari Banjir Impor

Untuk TPT, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil mengatakan, utilisasi secara umum kemungkinan sudah berada di atas 70%, bahkan ada yang lebih tinggi. Namun tidak berlaku untuk semua sektor industri TPT karena variasinya yang beragam, mulai dari serat, benang, kain, tenun, sampai garmen. Dia menuturkan utilitas garmen lokal yang memenuhi kebutuhan sarung sudah 100%. Sementara untuk garmen yang orientasi ekspor malah overcapacity.

Secara umum, industri garmen lokal saat ini masih lemah utilisasinya karena tertekan dengan banyaknya impor yang membanjiri pasar. Maka itu, industri TPT kini mengajukan safeguard untuk pakaian jadi dengan skema harga ketimbang persentase, sejalan dengan usulan Kementerian Perindustrian.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil. Foto: IST
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil. Foto: IST

Dia mencontohkanbila menggunakan skema persentase, maka untuk pakaian impor branded dengan harga Rp 2 juta hanya akan mendapat tambahan biaya Rp 40 ribu.

“Kalau Rp 40 ribu, itu enggak berpengaruh. Jadi, kita minta bea masuk spesifik per HS per rupiah. Saat ini, utilitas garmen lokal di bawah 60%,” ucap Rizal.

Sekjen Apsyfi Redma Gita Wiraswasta. Foto: twitter
Sekjen Apsyfi Redma Gita Wiraswasta. Foto: twitter

Sementara itu, pada April 2020, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wiraswasta pernah menyebutkan, sebanyak 70% perusahaan tekstil terancam tutup permanen akibat pandemi Covid-19.

Para pelaku industri TPT saat itu dihadapkan pada persoalan keterbatasan arus kas, karena sejumlah biaya dan denda mesti dibayarkan padahal penjualan produk anjlok di awal pandemi, sehingga sangat menantikan dukungan stimulus dari pemerintah.

Adhi S Lukman, Foto:: IST
Adhi S Lukman, Foto:: IST

Senada, Ketua Umum Gapmmi Adhi S Lukman mengatakan sebelumnya, industri makanan dan minuman terpuruk pada kuartal II-2020. Ini terjadi karena terbatasnya daya beli pada segmen menengah bawah.

Selain itu, lanjut dia, pada segmen menengah -atas, keyakinan konsumen rendah, yang perlu diatasi dengan program vaksinasi Covid-19.

Top 5 investasi Triwulan I 2020 & 2021
Top 5 investasi Triwulan I 2020 & 2021

Sementara itu, Kemenperin memperkirakan, pada 2021, pertumbuhan industri makanan dapat mencapai 4,49% persen, sedangkan untuk industri minuman bisa tumbuh hingga 4,39%. (ed/dho/tl/ac/pd/en)

Baca juga

https://investor.id/business/sektor-mamin-hingga-tpt-pulih

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN