Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Arief Yahya. Foto: IST

Arief Yahya. Foto: IST

Menpar Optimistis Devisa Pariwisata 2019 Tembus US$ 18 Miliar

EPA, Rabu, 15 Mei 2019 | 23:29 WIB

JAKARTA – Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya memproyeksikan devisa pariwisata Indonesia menembus US$ 18 miliar atau jauh melampaui CPO yang selama ini menjadi penghasil devisa terbesar pada 2019. Devisa ini diperoleh dari 18 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada 2019.

“Saya sudah sampaikan angka ini kepada Presiden Joko Widodo ketika Presiden menanyakan proyeksi pariwisata tahun ini,” kata Arief Yahya di Jakarta, Selasa (14/5).

Menpar menjelaskan, angka proyeksi 18 juta wisman tersebut, meskipun masih di bawah target yang ditetapkan sebesar 20 juta, telah menunjukkan per tumbuhan pariwisata Indonesia selama lima tahun ini yang sudah dua kali lipat atau rata-rata 20% per tahun.

Tahun lalu, kata Arief Yahya, ketika devisa pariwisata mencapai US$ 16,1 miliar dari kunjungan sebanyak 16,4 juta wisman, posisi pariwisata sudah menyamai CPO, sedangkan devisa dari batubara stabil berada di posisi ketiga.

“Kalau dahulu di era 1980-an ketika migas berjaya, kita menyebut dua sumber terbesar devisa yaitu migas dan nonmigas, sekarang kita ubah sumber devisa pariwisata dan nonpariwisata,” kata Arief Yahya.

Menpar menjelaskan, pihaknya bersama stakeholder pariwisata akan menjalankan empat program realistis untuk mencapai 18 juta kunjungan wisman yakni border tourism, hot deal, tourism hub, dan LCC terminal.

“Dari program border tourism kita proyeksikan akan mendapat 3,4 juta wisman. Bila tahun lalu sebesar 18%, diproyeksikan naik menjadi 20% dari target wisman tahun ini,” ujar dia.

Dia memberikan perbandingan (bencmark) Malaysia yang mampu menjaring wisman dari border tourism sebesar 60-70%, sedangkan Prancis dan Spanyol di atas 80% karena secara natural wisman Eropa yang berkunjung ke negeri itu adalah wisatawan overland.

Sementara itu, untuk program diskon besar-besaran kunjungan wisman di saat low season atau hot deals tahun ini, menurut Arief Yahya, diharapkan menghasilkan 2-2,5 juta wisman.

“Program hot deals tahun lalu mampu menjual 700 ribu pax, terbesar dari Kepri mencapai 20%,” kata Arief Yahya.

Sementara itu program tourism hub dilakukan melalui Singapura dan Kuala Lumpur Malaysia. “Program ini sebagai solusi terhadap direct flight yang sulit dilakukan dan membutuhkan waktu relatif lama,” kata Arief Yahya.

Dia memberikan contoh, untuk menarik kunjungan wisman dari pasar India yang tahun lalu memberikan kontribusi sekitar 600 ribu wisman, dengan direct flight dari Mumbai, India, ke Bali hanya melayani tiga kali per minggu, sedangkan penerbangan dari India ke Singapura atau Kuala Lumpur Malaysia sebanyak 70 kali per minggu.

“Kita fokus menggarap program tourism hub dari Singapura dan Kuala Lumpur,” kata Arief Yahya.

Menpar mengatakan, program yang menentukan dalam mencapai target wisman tahun ini adalah low cost carrier terminal (LCCT). Dalam catatan Kemenpar, kunjungan wisman tahun 2017 lebih dari 55% menggunakan full service carrier (FSC) sisanya menggunakan low cost carrier (LCC). Namun, ternyata pertumbuhan FSC rata-rata hanya 12%, di bawah LCC yang tumbuh rata-rata 21%.   

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN