Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto: IST

Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto: IST

Menperin: Kawasan Industri Batang Lebih Strategis

Ridho Syukra, (elgor)  Selasa, 30 Juni 2020 | 17:42 WIB

BATANG, investor.id - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan alasan pemerintah menggeser pengembangan kawasan industri dari Brebes ke Batang, salah satunya karena letak lokasi Batang lebih strategis dan potensial untuk dijadikan kawasan industri terpadu.

Secara geografis, akses Kabupaten Batang lebih dekat ke Kota Semarang yang memiliki Bandara Internasional Ahmad Yani sehingga untuk melakukan urusan bisnis gampang dan aksesnya lebih mudah.

"Batang adalah lokasi yang lebih baik karena memiliki lebih banyak fasilitas dan dekat dengan bandara internasional," ujar dia ketika ditemui dalam Peninjauan Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah, Selasa (30/6).

Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan fasilitas kawasan industri memiliki infrastruktur jangka panjang termasuk pasokan energi dan akses logistik.

Rencananya kawasan industri tersebut akan menggunakan lahan milik PT Perkebunan Nusantara (Persero) atau PTPN IX dengan luas 4.300 hektare.

Menurut Menperin, langkah tersebut harus dilakukan karena pemerintah harus cepat bergerak mengembangkan kawasan industri untuk mendorong investor asing ke Indonesia. Jika harus membangun dari nol pasti akan memakan waktu lama.

Konsep baru

Bahlil Lahadalia. Foto: IST
Bahlil Lahadalia. Foto: IST


Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan pihaknya menyiapkan konsep baru di mana investor tidak perlu membeli lahan di kawasan industri tersebut.

Kawasan Industri Batang dibangun di atas lahan seluas 4.300 hektare. Menurutnya, di kawasan ini seluruh investor yang masuk nantinya tidak perlu beli tanah. "Mereka bisa sewa dalam waktu panjang bekerja sama dengan BUMN,” katanya.

Dia juga menjelaskan masalah tanah menjadi salah satu alasan investor lebih memilih Vietnam daripada Indonesia untuk berinvestasi.

Selain itu, regulasi di Indonesia yang berbelit-belit juga masih menjadi faktor utama terhambatnya investasi.

Bahlil optimistis proses pembangunan kawasan industri Batang dimulai tahun depan, dan kawasan industri ini akan lebih kompetitif serta berdaya saing jika dibandingkan dengan Vietnam.  

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN