Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu industri TPT. Foto ilustrasi: Joanito de Saojoao

Salah satu industri TPT. Foto ilustrasi: Joanito de Saojoao

Pebisnis Tekstil Soroti RPP UU Cipta Kerja

Senin, 11 Januari 2021 | 23:46 WIB
Leonard Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id – Pebisnis tekstil dan produk tekstil (TPT) menyoroti Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Undang-Undang No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja di bidang perdagangan dan perindustrian. Sebab, dalam RPP perdagangan tidak mengatur jaminan pasar domestik.

Hal ini mencerminkan pemerintah tidak berpihak kepada industri dalam negeri tidak berniat mendorong investasi bagi pelaku usaha. “Kalau importir terus-terusan diberikan kemudahan, industri tekstil bisa mati. Pandemi ini sudah buat kita terpuruk, jangan sampai RPP ini malah membuat rumit. Kami juga masih menuntut  revisi Permendag 77 tahun 2019,” ujar Direktur Eksekutif Ikatan Ahli Tekstil (IKATSI) Riza Muhidin, belum lama ini.

Menurut dia, industri TPT tertekan luar biasa dari banjir barang impor secara masif. Hal ini menyebabkan daya saing TPT terganggu dan memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran. Terbitnya UU Cipta Kerja berserta turunannya dalam bentuk RPP sebenarnya merupakan salah satu solusi konkret untuk menyelesaikan masalah tata niaga impor.

Namun, RPP itu, kata dia, tetap harus dikritisi lantaran ada beberapa poin yang tidak tercantum dalam aturan itu. Padahal, jika RPP ini pro terhadap produsen lokal, akan mengakibatkan tumbuhnya investasi bagi pelaku usaha, mengurangi PHK, bahkan dapat menciptakan lapangan kerja baru.

Dia menambahkan, pandemi Covid-19 membuat industri tekstil terpaksa melakukan PHK ataupun merumahkan pekerja agar dapat bertahan. Akibatnya, lulusan akademisi tekstil tahun ini banyak yang kurang terserap, karena industri masih mempekerjakan kembali pekerja yang dirumahkan saat awal pandemi. 

"Jika RPP ini dapat menjamin pasar dalam negeri, ini akan menjadi obat yang manjur bagi industri tekstil yang sedang terpuruk sekarang, bahkan pelaku usaha dapat membuka lapangan kerja lagi,” terang dia.
 

 

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN