Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Operasional mesin-mesin pembuat tisu di pabrik Sun Paper Source di Mojokerto, Jawa Timur. Foto :Istimewa

Operasional mesin-mesin pembuat tisu di pabrik Sun Paper Source di Mojokerto, Jawa Timur. Foto :Istimewa

Sun Paper Source Ekspor 136,3 Ton Tisu

Jumat, 11 Juni 2021 | 07:45 WIB
Amrozi Amenan (ros_amrozi@yahoo.com)

MOJOKERTO - PT Sun Paper Source (SPS) mengekspor 11 kontainer berisi 136,3 ton tisu senilai USD 134 ribu ke Malaysia, Amerika Serikat, Australia dan Jamaica.

Pelepasan sebelas kontainer berisi parent roll dan finished good tisu oleh Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga bersama Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak di pabrik SPS di Ngoro, Mojokerto, Kamis (10/6/2021) itu sekaligus apresiasi pemerintah terhadap kinerja eksportir yang terus tumbuh dan berkontribusi pada surplus neraca perdagangan Indonesia di tengah masa pandemi Covid-19.

Presiden Direktur PT Sun Paper Source Ventje Hermanto mengemukakan, industri tisu Indonesia cukup berpotensi di pasar global. Bahkan, diharapkan bisa menjadi motor penggerak industri tisu di kawasan Asia. Mengutip laporan Fastmarket RISI 2021, pada 2020 Indonesia mencatat ekspor tisu naik 18 persen atau 122 ribu ton, dari 676.000 ton pada 2019 menjadi 798.000 ton pada 2020. Produk tisu dalam bentuk parent roll buatan Indonesia menguasai pasar Asia Pasifik.

“Sun Paper Source sendiri mencatat kenaikan ekspor 6 persen sepanjang tahun 2020 dan lonjakan ekspor terjadi tahun ini. Sampai Maret 2021 kenaikannya 37,16 persen dibandingkan Februari 2021,” kata Ventje.

Dia menyebut dua faktor yang membuat industri tisu Indonesia diperhitungkan di pasar global. Yaitu, populasi dan usia produktif yang cukup tinggi dan merata serta ketersedian bahan baku tisu yang cukup melimpah. Bahkan, selama pandemi industri tisu tetap tumbuh karena didukung pertumbuhan ekonomi Indonesia serta perubahan perilaku masyarakat yang peduli kesehatan membuat industri tisu tetap tumbuh.

“Penjualan lokal kita dari Februari ke Maret 2021 naik 51 persen. Hasil produksi kita 80 persen untuk ekspor ke 80 negara dan 20 persen untuk domestik,” tandas Ventje.

Dia mengatakan, dua poin penting tantangan yang dihadapi industri tisu Indonesia saat ini adalah masalah kenaikan freight akibat kelangkaan kontainer serta regulasi impor bahan baku. “Tentu ini akan membuat harga tisu menjadi tidak kompetitif dibanding negara lain yang masih rendah harga freight-nya. Daya saing jadi berkurang di pasar global. Padahal apabila kendala dan tantangan yang dihadapi eksportir dan produsen tisu dapat diurai satu per satu oleh pemegang kebijakan, potensi Indonesia untuk menjadi motor industri tisu dunia sangatlah besar,” terang Ventje.

Sementara itu, Jerry Sambuaga menyebutkan neraca perdagangan surplus di tahun 2020 mencapai sebanyak 21,74 miliar USD. Bahkan, neraca perdagang per April 2021 mengalami surplus sebanyak 7,71 miliar USD.

“Saya pikir pestasi ini yang patut kita syukuri di tengah masa pandemi kita masih mencetak surplus. Kita tetap harus mengembangkan apa yang bisa kita ekspor dengan produk-produk ekspor yang tepat sasaran, seperti kertas tisu. Ini saya pikir menjadi salah satu penyemangat kita, menjaga neraca perdagangan surplus,” ungkapnya.(ros)

 

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN