Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menandatangani prasasti tanda peresmian industri smelter nikel PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Konawe, Sulawesi Tenggara, Senin (25/2).

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menandatangani prasasti tanda peresmian industri smelter nikel PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Konawe, Sulawesi Tenggara, Senin (25/2).

Virtue Dragon Operasikan Smelter Nikel US$ 1 Miliar 

Laporan Leonard AL Cahyoputra, Senin, 25 Februari 2019 | 21:35 WIB

JAKARTA  - PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) menyelesaikan pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel di Konawe, Sulawesi Tenggara. Smelter senilai US$ 1 miliar atau setara Rp 14,01 triliun berkapasitas 800 ribu metrik ton per tahun ini telah beroperasi.

Presiden Direktur VDNI Zhu Min Dong mengatakan, pihaknya bertekad untuk menjadi industri smelter terbesar di Indonesia dan berkelas dunia di masa mendatang. “Fasilitas ini memiliki potensi besar untuk memberikan dampak positif terhadap pembangunan dan kemajuan Sulawesi Tenggara pada khususnya, serta umumnya bagi kemajuan Indonesia,” ujar dia, Senin (25/2/2019).

Dia menjelaskan, smelter nikel ini memiliki 15 tungku rotary kiln-electric furnace (RKEF) yang mampu menghasilkan 800 ribu metrik ton nickel pig iron (NPI) per tahun, dengan kadar nikel 10-12%. Fasilitas smelter seluas 700 hektare (ha) tersebut telah menyerap tenaga kerja sebanyak 6 ribu orang yang sebagian besar merupakan warga asli Sulawesi Tenggara.

"Tenaga kerja tidak langsung juga terserap sebanyak 10 ribu orang yang merupakan bagian dari multiplier effect,” tambah dia.
Dia berharap, kehadiran fasilitas smelter VDNI dapat memberi efek berantai yang luas dalam berbagai aktivitas industrialisasi di banyak bidang. Salah satunya adalah penggunaan tenaga kerja kontraktor yang menjadi rekanan bagi VDNI, seperti misalnya jasa logistik, penggunaan kapal tongkang, tenaga kerja konstruksi dan bongkar muat, serta pekerja pertambangan.

Zhu Min Dong juga mengemukakan, dengan adanya fasilitas dermaga yang memiliki kapasitas hingga 2,5 juta DWT per tahun, dapat menunjang mobilitas dan mempermudah proses logistik serta pengapalan mineral hasil olahan pabriknya. “Pada September 2017, untuk pertama kalinya PT VDNI telah melakukan kegiatan ekspor NPI sebanyak 7.733 metrik ton dengan tujuan ke Tiongkok,” ungkap dia.

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan, VDNI telah memberikan kontribusi cukup signfikan terhadap pertumbuhan nilai ekspor nasional. Pada tahun 2018, anak usaha Jiangsu Delong Nickel Industry Co, Ltd, produsen feronikel terkemuka di dunia ini, menyumbang ekspor sebesar US$ 142,2 juta dari pengapalan produk NPI.

Dia melanjutkan, perusahaan afiliasi PT VDNI juga sedang membangun pabrik smelter nikel dengan kapasitas produksi NPI sebanyak 1,2 juta ton per tahun dan pabrik untuk memproduksi stainless steel dengan kapasitas sebanyak 3 juta ton per tahun. Total nilai investasi ini diperkirakan mencapai US$ 2 miliar.

"Kami menyambut baik proyek ini, apalagi akan dilanjutkan menjadi industri yang terintegrasi dan menghasilkan stainless steel berkelas dunia,” kata Menperin.

Menperin optimistis, dengan beroperasinya pabrik-pabrik smelter di Konawe, Sulawesi Tenggara dan Morowali, Sulawesi Tengah akan menjadikan pulau Sulawesi sebagai pusat industri berbasis stainless steel berkelas dunia dengan total kapasitas melampaui 6 juta ton per tahun.

Rencananya, kata dia, di Konawe akan mampu memproduksi stainless steel dengan kapasitas sebanyak 3 juta ton per tahun, sedangkan di Morowali sudah menghasilkan 3,5 juta ton stainless steel per tahun. Apabila Indonesia mampu menembus kapasitas 6 juta ton stainless steel per tahun saja, itu dinilai menjadi produsen baja nirkarat keempat terbesar di dunia.

“Sebagai komponen utama, sektor industri logam berpotensi memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan ekonomi nasional melalui peningkatan added value sehingga akan terjadi multiplier effect dengan tumbuhnya industri lain serta terjadinya aktivitas sosial ekonomi, yang pada akhirnya akan menjadi push factor bagi peningkatan daya saing ekonomi bangsa,” kata dia. 

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN