Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wapres Jusuf Kalla. Foto: IST

Wapres Jusuf Kalla. Foto: IST

Wapres: Efisiensi Industri Solusi Tingkatkan Produksi Dalam Negeri

Kamis, 11 Juli 2019 | 15:43 WIB

JAKARTA, investor.id - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan efisiensi industri, yakni menghasilkan barang dengan cepat, lancar dan hemat, menjadi solusi yang saat ini dilakukan Pemerintah untuk meningkatkan produktivitas dalam negeri.

"Pilihannya sulit memang, mana yang kita pilih: kepentingan rakyat yang ingin murah atau kepentingan industri yang tidak efisien? Tapi Pemerintah justru mengambil jalan agar industri kita lebih efisien juga. Itu saja solusinya," kata Wapres JK dalam Smart Business Talk with Jusuf Kalla di Hotel Aryaduta Jakarta, Kamis.

Dengan berkembangnya teknologi yang membawa sistem robotik atau otomasi, Wapres mengatakan industri di Indonesia harus dapat menyesuaikan diri supaya produk industri dalam negeri tidak kalah dengan produksi luar negeri, khususnya dari Tiongkok.

JK mencontohkan jatuhnya BUMN penghasil baja Krakatau Steel disebabkan oleh sistem industrinya yang tidak efisien, seperti penggunaan teknologi lama sehingga menyebabkan kualitas dan kuantitas produk bajanya kalah dengan produk baja dari Tiongkok.

"Katakanlah Indonesia bikin baja harga pokoknya US$ 600 per ton, tapi Tiongkok bisa bikin US$ 400 per ton. Kalau untuk harga US$ 500, dia untung US$ 100, kita rugi US$ 100. Jadi semua industri kita harga pokoknya di atas itu. Jadi yang harus menentukan efisiensinya ya Krakatau Steel, harus efisien," jelasnya.

Begitu juga dengan produksi semen; di Indonesia, pabrik semen memiliki pegawai bisa 600 - 800 orang, sementara pabrik semen milik Tiongkok hanya mempekerjakan 70 orang karena sistem produksinya yang sudah otomasi sehingga ongkos produksinya murah.

Hal itu juga menyebabkan harga produk buatan industri dalam negeri menjadi mahal karena masih banyak menggunakan tenaga manusia dibandingkan pemakaian robot, sehingga menimbulkan dilema.

"Jadi semua ada risikonya, risikonya itu efisiensi. Jadi, semua yang mahal akan mati. Ya tinggal mana yang kita pilih itu tadi, kepentingan rakyat atau kepentingan industri?" ujarnya. (gr)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA