Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ni Xingjun, Chief Technology Officer, Ant Group, operator Alipay

Ni Xingjun, Chief Technology Officer, Ant Group, operator Alipay

Mengakhiri Kesenjangan Keterampilan Digital di Masa Pandemi

Jumat, 11 Juni 2021 | 21:33 WIB
Ni Xingjun *)

Pandemi Covid-19 yang terjadi di berbagai negara mengingatkan bahwa perjalanan kita masih panjang sebelum kehidupan dapat kembali ke situasi normal. Kenyataan bahwa virus corona memberi dampak besar bagi Negara berkembang dan negara kurang berkembang, serta makin memperlebar kesenjangan ekonomi dan sosial.

Awal tahun ini, lembaga konsultan McKinsey memprediksikan bahwa akhir pandemi Covid- 19 sudah dekat bagi beberapa Negara di dunia, terutama negara maju yang warganya bisa lebih mudah mendapat akses ke vaksin. Namun sejak itu, pandemi memburuk secara dramatis di negara-negara ber kembang di Afrika, Asia dan Amerika Latin yang melaporkan peningkatan kasus dan angka kema tian karena Covid-19.

Indonesia pun merasakan kenaikan kasus Covid-19 setelah meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur panjang Idulfitri bulan Mei lalu, dengan pertumbuhan kasus aktif diperkirakan mencapai puncaknya pada pertengahan Juni 2021.

Bagi banyak negara berkembang dan kurang berkembang, penundaan untuk kembali ke situasi normal membawa dampak serius bagi bisnis, kesehatan mental, serta pendidikan. Selain juga meningkatkan kebutuhan untuk mendorong urgensi mewujudkan dunia yang lebih inklusif dan setara. Cara yang efektif untuk mencapainya adalah melalui penerapan teknologi digital yang inovatif.

Di Indonesia, misalnya, pemerintah dan swasta bergandeng tangan menciptakan sejumlah aplikasi digital yang pintar untuk melakukan tracing, tracking, dan fencing Covid-19, serta memantau penyelenggaraan program vak sinasi di seluruh Indonesia.

Dalam upaya untuk meningkatkan belanja lokal dan mempercepat pemulihan ekonomi, pemerintah Indonesia menggelar festival belanja online nasional yang telah diluncurkan untuk membantu menghidupkan kembali belanjakon sumen, melibatkan 70 platform e-commerce untuk bergabung dalam upaya tersebut.

Walaupun metodenya berbeda, jelas lebih banyak perhatian diperlukan untuk memastikan bahwa warga di negara-negara berkembang dan kurang berkembang dibekali keterampilan digital sehingga mereka dapat meng atasi pandemi serta menemukan solusi inovatif untuk menum buh kan perekonomian.

Untuk mewujud kannya, kita membutuhkan pelatihan yang tidak hanya mengajarkan keterampilan nyata, namun juga memungkinkan peserta didik untuk menciptakan lebih banyak peluang bagi semua orang di era digital yang semakin cepat.

Dalam laporan ‘Future of Jobs for 2020’, World Economic Forum menemukan bahwa individu dan masyarakat yang paling terdampak oleh Covid-19 adalah “mereka yang sudah paling dirugikan”. Hal ini mempertegas ketidakse taraan yang ada.

Laporan tersebut memperkirakan bahwa hingga tahun 2025, ada 85 juta pekerjaan yang mungkin hilang, dan 97 ju ta pekerjaan baru yang akan muncul dan mungkin lebih bisa disesuaikan dengan pergeseran pembagian kerja antara manusia, mesin dan algoritma.

Sebuah studi dari Bank Dunia menemukan bahwa Indonesia di perkirakan akan mengalami kesenjangan pekerja digital terlatih dan semi-terlatih sebanyak 9 juta orang pada pada 2015-2030.

Adanya kesenjangan digital yang semakin besar dan potensi disrupsi pekerjaan inilah yang memotivasi International Finance Corporation (anggota World Bank Group) dan Alipay untuk bekerja sama pada tahun 2018 dan meluncurkan inisiatif filantropi ‘10x1000 Tech for Inclusion’, dengan tujuan memberikan pelatihan kepada 10.000 talenta baru dan pemimpin teknologi baru dalam waktu sepuluh tahun.

Harapan kami adalah talenta teknologi ini tidak hanya membawa inovasi baru dan pertumbuhan bagi perusahaan atau institusi tempat mereka bekerja, tapi juga menginspirasi, memotivasi dan membantu membina 100.000 talenta baru di pasar dan negara asal mereka dengan berbagi pengalaman, membimbing bakat baru atau memberikan peluang baru.

Satu contohnya adalah Aruna, star t-up asal Indonesia. Kedua pendirinya pernah mendapatkan pelatihan program inisiatif ‘10x1000 Tech for Inclusion’. Platform mereka menghubungkan nelayan lokal langsung kepelanggan, sehingga membantu mereka mendapat lebih banyak penghasilan dari hasil tangkapan harian, serta keluar dari kemiskinan. Aruna juga membina “pahlawan lokal,” yaitu generasi muda di kota dan desa pesisir yang membantu mendidik dan memberikan pengaruh kepada nelayan tentang manfaat dari digital.

Tanggal 24 Mei 2021, inisiatif tersebut memperkenalkan platform online baru yang menampilkan Program Fintech Foundation, dengan lebih 160 praktisi dari 17 negara di Asia bergabung.

Pelatihan digital khusus yang menghadirkan pengajar fintech profesional dari seluruh dunia ini akan menanamkan pola pikir penggunaan teknologi untuk inklusi lebih lanjut, menumbuhkan kepemimpinan, sekaligus memberikan paparan kepada peserta mengenai wawasan dan tren industri.

Seperti yang ditegaskan oleh Rosy Khanna, Direktur Industri Regional, Asia Selatan dan Asia Timur & Pasifik, IFC dalam pidatonya saat peluncuran Program Yayasan Fintech, “Generas i 2021 telah bergabung dalam waktu yang sangat tidak biasa bagi umat manusia, membuat peran, wawasan, dan tindakan Anda menjadi lebih penting lagi untuk membantu nega ranegara pulih dari pandemi global secara berkelanjutan."

Pandemi Covid-19 terbukti men jadi tantangan global yang membutuhkan semua inovasi dan tekad bersama dari semua Negara un tuk mengatasinya. Saat kita bersiap untuk menghadapi krisis kesehatan dan ekonomi yang berkepanjangan, dunia membutuhkan solusi lokal dan jangka panjang yang dapat membantu mengakhiri kemiskinan ekstrem dan meningkatkan kemakmuran bersama.

Inilah sebabnya kami percaya bahwa menutup kesenjangan keterampilan digital di Negara ber kembang dan kurang berkembang, serta melatih pemimpin teknologi masa depan mereka merupakan kebutuhan mendesak dan cara maju untuk membangun dunia yang lebih sehat, lebih inklusif dan berkelanjutan.

*) Chief Technology Officer, Ant Group, operator Alipay

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN