Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings selaku moderator, Primus Dorimulu (kiri) bersama para pembicara diantaranya: Staf Khusus Menkominfo Bidang Digital dan SDM, Juru Bicara Kemenkominfo Dedy Permadi, Pengamat Ekonomi Digital Heru Sutadi, Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Tokopedia Astri Wahyuni, CEO BRI Ventures Nicko Widjaja dan COO dan CO Founder Xendit Tessa Wijaya dalam acara virtual conference Economic Outlook 2021 hari ketiga sesi ketiga dengan tema Membangun Industri Lewat Perusahaan Teknologi Digital live streaming di Beritasatu TV, Kamis (26/11/2020). Acara ini terselenggara atas kerjasama Berita Satu Media Holdings dengan Xendit. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings selaku moderator, Primus Dorimulu (kiri) bersama para pembicara diantaranya: Staf Khusus Menkominfo Bidang Digital dan SDM, Juru Bicara Kemenkominfo Dedy Permadi, Pengamat Ekonomi Digital Heru Sutadi, Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Tokopedia Astri Wahyuni, CEO BRI Ventures Nicko Widjaja dan COO dan CO Founder Xendit Tessa Wijaya dalam acara virtual conference Economic Outlook 2021 hari ketiga sesi ketiga dengan tema Membangun Industri Lewat Perusahaan Teknologi Digital live streaming di Beritasatu TV, Kamis (26/11/2020). Acara ini terselenggara atas kerjasama Berita Satu Media Holdings dengan Xendit. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

2021, Investasi Start-up Bisa Capai US$ 5 Miliar

Jumat, 27 November 2020 | 08:31 WIB
Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id) ,Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Investasi pada usaha rintisan berbasis teknologi (start-up) Indonesia diproyeksikan mencapai US$ 4-5 miliar pada 2021 dari perkiraan investasi tahun ini sekitar US$ 2,5 miliar. Indonesia masih menjadi tujuan utama investasi modal ventura untuk kawasan Asia Tenggara dan pusat ekonomi digital di Asia yang diproyeksikan tahun depan tumbuh di atas 10%.

Berbagai sektor ekonomi digital yang akan tetap tumbuh bagus di tahun depan di antaranya perdagangan secara elektronik (e-commerce) dan lapak daring (marketplace), media daring (online), dan teknologi keuangan (fintech).

Untuk mempertahankan potensi pertumbuhannya, pemerintah pun diharapkan berkolaborasi dengan pelaku industri dan akademisi untuk mempercepat akses infrastruktur teelekomunikasi (internet) hingga ke desa, penyiapan SDM digital, regulasi yang mendukung, dan memberikan insensif pajak, antara lain tax holiday.   

Hal tersebut merupakan benang merah dari webinar bertema ’Membangun Industri Lewat Perusahaan Teknologi Digital’ yang terselenggara atas kerja sama Berita Satu Media Holdings dengan dengan Xendit pada Kamis (26/11).

Hadir sebagai pembicara pada acara itu Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Digital dan SDM Dedy Permadi, CEO BRI Ventures Nicko Widjaja, COO dan Co-Founder Xendit Tessa Wijaya, Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Tokopedia Astri Wahyuni, pengamat digital yang juga Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi, serta dipandu oleh News Director Berita Satu Media Holdings Primus Dorimulu.  

Nicko Widjaya menyampaikan, tahun 2021, investasi para pemodal dari modal ventura dari dalam dan luar negeri ke usaha start-up di Indonesia berpotensi naik dua kali lipat menjadi US$ 4-5 miliar dari tahun ini diproyeksikan sekitar US$ 2,5 miliar.

“Dana modal ventura yang masuk ke start-up di Indonesia tahun ini bisa mencapai US$ 2,5 miliar. Tahun depan, nilainya bisa naik dua kali lipat menjadi US$ 4-5 miliar seperti tahun-tahun sebelumnya, sebelum pandemi Covid-19,” ujar Nicko.

CEO BRI Ventures
CEO BRI Ventures

Dia juga memproyeksikan, start-up teknologi keuangan (fintech) dan perbankan yang terdigitilasisi akan terus berkembang pesat tahun depan. E-wallet seperti LinkAja dan OVO pun akan masuk ke derah-daerah hingga ke desa untuk mewujudkan inklusi keuangan Indonesia.

Menurut dia, hampir seluruh pendanaan terhadap start-up di Indonesia ditampung dulu di holding start-up yang umumnya berbasis di Singapura. Bayangkan, dari tahun 2009 hingga kuartal III-2020, total dana yang  diinvestasikan kepada start-up Indonesia sudah sekitar US$ 14 miliar.

Puncaknya, pada 2018, dari data yang tersedia, investasi untuk start-up di Indonesia hampir mencapai US$ 7 miliar. Tahun 2020 hingga kuartal III, pun tidak jelek, start-up Indonesia masih mampu mencatat kucuran modal hampir US$ 2 miliar meski di tengah masa sulit pandemi Covid-19.

Indonesia pun diproyeksikan akan menjadi pusat pertumbuhan dan investasi start-up Asia dan Asia Tenggara tahun 2021. Sebab, ekonomi digital Tiongkok  mulai mengalami kejenuhan seiring dengan munculnya kecenderungan monopoli dan duopoli pasar oleh raksasa start-up seperti Alibaba dan Tencent. Sementara itu, ekonomi digital Jepang dan Korea Selatan sedang tak banyak berkembang.

“Dan kalau kita perhatikan juga dari seluruh pasar Asean, meskipun start-up itu berasal dari Malaysia, berasal dari Singapura, namun semua fokus ke pasar Indonesia yang besar,” ujarnya.

Nicko pun meminta kepada pemerintah untuk memberikan insentif pajak bagi modal ventura di Indonesia agar para investor dan holding start-up yang saat ini mayoritas ada di Singapura mau pindah ke Indonesia, sehingga memberikan lebih banyak manfaat untuk kepentingan nasional.

“Kalau itu (insentif) diberikan, saya yakin, 2-3 tahun dari sekarang banyak modal ventura besar mau berbadan hukum Indonesia karena mereka oportunistik secara bisnis,” kata Nicko.  

Indonesia punya modal dan potensi besar untuk perkembangan ekonomi digital  karena punya 196 juta pengguna internet dari 400 juta pengguna internet di Asia Tenggara. Selain itu, Indonesia saat ini punya lima dari 12 unicorn di kawasan Asia Tenggara.

Rakyat Sejahtera

Pengamat telekomunikasi Heru Sutadi. Foto: itoday.co.id
Pengamat telekomunikasi Heru Sutadi. Foto: itoday.co.id

Sementara itu, Heru Sutadi memproyeksikan, tahun 2021, ekonomi digital Indonesia bisa tumbuh di atas dua digit, pada kisaran 10-20%. Angka tersebut sudah cukup bagus bagi Indonesia.

“Tahun ini sebenarnya kita memasuki tahap survival. Kita bertahan aja sudah untung karena banyak start-up yang menghadapi kendala, banyak yang tutup. Kalau ada peningkatan 10-20% di 2021, itu juga sudah cukup baik bagi ekonomi digital Indonesia,” ungkap Heru.

Namun, dia juga mengingatkan, pertumbuhan ekonomi digital harus bisa memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia. “Goal dari perkembangan ekonomi digital Indonesia harus punya satu visi memberikan kesejahteraan yang maksimal untuk rakyat Indonesia,” ungkapnya.

Mengutip pernyataan Presiden Jokowi, dalam acara Asean Business Investment Summit, Heru pun mengungkapkan, Indonesia harus menjadi negara dengan ekonomi digital yang terdepan di Asia Tenggara.

Dia juga mengakui, banyak tantangan yang harus diselesaikan Indonesia untuk menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di antara negara-negara Asean. Salah satunya, ketersediaan infrastruktur digital yang belum menjangkau ke semua desa sebagai calon pusat-pusat pertumbuhan masa depan.

Saat ini, Indonesia juga masih cenderung menjadi pasar dan belum menjadi produsen produk untuk dipasarkan secara digital. Selanjutnya, literasi digital masih minim agar menjadi lebih produktif ketika memanfaatkan internet. Lalu, kehadiran teknologi baru yang cepat belum bisa diimbangi dengan keteresediaan SDM yang andal.

Heru juga menilai, saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, sektor UMKM menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah krisis dan resesi. Karena itu, sektor ini perlu terus didorong dan didukung perkembangannya.

Peran Xendit

Co-Founder Xendit
Co-Founder Xendit

Sementara itu, Tessa Wijaya menuturkan, Xendit saat ini merupakan perusahaan yang banyak bergerak di bidang payment gateway. Meski demikian, pihaknya juga ingin membantu pengembangan infrastruktur digital di Indonesia melalui berbagai solusi yang ditawarkan, terutama bagi perusahaan business to business (B2B) dan UMKM.

“Layanan yang ditawarkan memang awalnya kami fokus di pembayaran. Ke depan, dari segi UMKM, kami tidak hanya pembayaran saja, tetapi juga financing. Kami juga akan menyediakan pinjaman modal kerja dan sebagainya,” ungkap Tessa.

Dia juga menyampaikan, pebisnis di Indonesia saat ini banyak yang membutuhkan solusi Software as a Service (SaaS) untuk membantunya masuk ke ranah digital (go online). Xendit pun akan menyediakan layanan solusi dalam satu platform untuk menyelesaikan berbagai masalah ketika pelaku usaha mendigitalisasi bisnisnya.

“Kami ke depan akan menjadi super app untuk B2B. B2B dan UMKM memerlukan super app, seperti dari pembayaran, financing, security dan SaaS, dan sebagainya dalam satu platform,” jelas dia.

Dia menuturkan, negara yang ingin mengembangkan ekonomi digitalnya menjadi besar membutuhkan tidak hanya payment gateway. Banyak aspek yang dibutuhkan, sehingga bisa menjadi satu ekosistem yang mumpuni. Xendit pun akan berperan dengan memberikan solusi yang terpadu bagi pebisnis.

Tokopedia

Sementara, Astri Wahyuni mengungkapkan, sebagai salah satu platform e-commerce terbesar Indonesia, Tokopedia mampu memberdayakan ekonomi rakyat.  Saat ini, Tokopedia sudah beroperasi selama 11 tahun dan misi utamanya mendorong pemerataan ekonomi Indonesia secara digital.

Berdasarkan riset yang dilakukan pada 2019, sebanyak 1% ekonomi Indonesia bergerak di Tokopedia serta Tokopedia sudah mampu menjangkau 98% kecamatan. Lalu, Tokopedia juga punya 100 juta pengguna aktif setiap bulan dan yang bergabung hampir 10 juta penjual.

“Pandemi ini justru menjadi akselerator adopsi digital, baik bagi penjual maupun pembeli. Karena, sebanyak 86,5% adalah pendatang baru, yaitu orang yang mulai berjualan, kemudian jadi pengusaha mandiri, produk yang ditawarkan juga beraneka ragam, saat ini sudah terdaftar 350 juta produk di Tokopedia,” tutur Astri.

Menurut dia, hal penting yang dilakukan untuk mendorong perkembangan ekonomi digital di Indonesia adalah dengan berkolaborasi. Tokopedia saat ini sudah berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Perindutsrian, dan Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi.

“Saat ini, kami mampu meningkatkan penjualan 22%, kemudian menciptakan 10,3% dari total lapangan pekerjaan baru pada 2018, lalu sebanyak 98% adalah penjual skala mikro, dan 90% dari mereka melakukan transasksi secara aman dan nontunai secara efisien,” ungkapnya.

Astri juga optimistis, tahun depan, masih menjadi momentum pertumbuhan terbaik (great momentum) bagi Tokopedia. Pasalnya, kalau dilihat dari data Google dan Temasek, Indonesia potensi growth-nya masih sangat tinggi.

Transformasi Digital

Dedy Permadi menyampaikan, ekonomi digital dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Indonesia justru sedang menggeliat di tengah sektor lain yang terpuruk karena pandemi Covid-19.

Data Badan Pusat Statistik menyebutkan, pertumbuhan sektor TIK nasional pada dua kuartal berturut-turut tumbuh dua digit, yakni kuartal II-2020 sebesar 10,83% dan kuartal III tahun yang sama tumbuh 10,61%.

Pada 2020, BI memproyeksikan ekonomi digital Indonesia senilai Rp 429 triliun, suatu lompatan luar biasa dari tahun 2019 masih Rp 205,5 triliun. Jumlah transaksi e-commrce juga melonjak luar biasa.

“Ini adalah pertumbuhan yang cukup mengembirakann di tengah kelesuan yang sektor lain,” ungkap Dedy.

Sementara itu, pemerintah, melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), punya agenda besar percepatan transformasi digital nasional. Program ini di dalamnya terdiri atas pembangunan infrastruktur telekomunikasi, adopsi teknologi baru, penyiapan talenta digital nasional, dan penuntasan legistasi primer.  

Pertama, pada akhir 2022, Kemenkominfo akan menuntaskan pembangunan akses infrastruktur telekomunikasi berteknologi 4G bagi 12.548 desa dan kelurahan. Selanjutnya, penyediaan akses internet untuk 150 ribu titik layanan publik pada kuartal III-2023 melalui peluncuran satelit Satria 1.

Kedua, pemerintah punya agenda adopsi teknologi baru, di antaranya dengan membangun pusat data nasional, penataan (farming) dan refarming frekuensi radio, dan juga pembangunan pusat monitoring kualitas telekomunikasi nasional.

Ketiga, agenda berkaitan dengan talenta digital untuk program basic digital skill, intermediate digital skill, dan juga advance digital skill. Terakhir, pemerintah di antaranya juga sedang menunggu pengesahan Rancangan Undang-Undang tentang Perlindungan Data Pribadi menjadi UU.

“Melalui empat pilar ekosistem transformasi digital tersebut, kami yakin akan menghadirkan ekosistem yang lebih sehat untuk pertumbuhan ekonomi digital Indonesia,” pungkas Dedy.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN