Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Semuel Abrijani Pangerapan, Direktur Jenderal APTIKA Kemkominfo dalam acara Lintasarta Cloudeka Conference, ICT & Business Outlook 2022 secara virtual, Rabu (15/9).. Foto: Dok. Lintasarta Conference - 2021

Semuel Abrijani Pangerapan, Direktur Jenderal APTIKA Kemkominfo dalam acara Lintasarta Cloudeka Conference, ICT & Business Outlook 2022 secara virtual, Rabu (15/9).. Foto: Dok. Lintasarta Conference - 2021

Strategi Pemulihan Ekonomi Nasional Melalui Digitalisasi

Rabu, 15 September 2021 | 15:05 WIB
Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) membeberkan sejumlah langkah yang harus dilakukan oleh perusahaan dalam mempercepat pemulihan ekonomi nasional melalui strategi digitalisasi. Hal itu perlu dilakukan, mengingat saat ini, Indonesia masih dilanda pandemi Covid-19.

“Berdasarkan situasi yang dihadapi saat ini, pemerintah berharap perusahaan dapat mempersiapkan tiga hal, agar bisa mendukung pertumbuhan di tahun 2022,” kata Semuel Abrijani Pangerapan, Direktur Jenderal APTIKA Kemkominfo dalam acara Lintasarta Cloudeka Conference, ICT & Business Outlook 2022 secara virtual, Rabu (15/9).

Menurut Semmy, sapaan Semuel, langkah pertama yang dilakukan adalah pembuatan stratgei digital.

“Di era digital, terlebih saat pandemi, platform digital telah menjadi salah satu strategi yang penting yang harus dilakukan pelaku bisnis skala besar mapun Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk dapat bertahan dan meningkatkan proses pengembangan bisnis,” ujar Semmy.

Kedua, lanjut Semmy, memperhatikan ketersediaan sistem infrastruktur yang memadai. Ketersediaan sistem digitalisasi dinilai sangat penting dipenuhi oleh pelaku bisnis saat ini, untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan. Selain itu, teknologi harus lebih dimanfaatkan, karena platform digital membantu memastikan bisnis dapat terus berjalan tanpa kehadiran fisik di kantor atau di lokasi pabrik

“Kami memahami ketersediaan infrastruktur membutuhkan resources yang sangat besar. Namun kolaborasi antar perusahaan dapat menjadi solusi yang baik, khsuusnya di era pandemi ini. Sehingga, perusahaan dapat mendukung satu sama lain, dan mewujudkan sinergi yang harmonis,” ungkap Semmy.

Ketiga, perusahaan perlu memiliki fungsi komunikasi yang agile dan responsif. Fungsi komunikasi ini sangat penting di masa krisis saat ini. Karena banyak keputusan yang harus dibuat secara cepat.

“Maka dari itu, perusahaan harus menjalankan fungsi komunikasi ini sejalan dengan struktur krisis manajemen dan memperkuat komunikasi kepada publik. Sehingga, berbagai pihak eksternal dapat dengan cepat menangkap informasi yang hendak dikomunikasikan perusahaan,” jelas Semmy.

Di sisi lain, Semmy juga memberikan insight terkait perkembangan cloud di Indonesia. Menurut dia, perkembangan cloud saat ini adalah pengulangan dari masa lalu.

“Kalau kita lihat sejarah pertama, waktu jaman saya masik sekolah, itu masih jamannya main frame. Networking itu baru saja diperkenalkan. Kaenapa waktu itu main frame yang digunakan, karena memang computer base size-nya besar. Tetapi juga karena jaringannya tidak sebanyak sekarang. Nah, ini kembali lagi. Sekarang main frame-nya adalah cloud,” tutur Semmy.

Semmy menuturkan, pemerintah pun sekarang sudah mendorong pemanfaatan cloud. Pasalnya, spending pemerintah untuk kebutuahan ini dinilai terlalu besar. Hal itu terjadi, karena setiap instansi pemerintah me-manage server dan pusat data sendiri.

“Itu dihitung kalau kita bisa menggunakan cloud, pengehematan itu bisa Rp 20 T setahun. Ini tentu pemerintah mendorong, karena Surat Edaran (SE) yang juga memastikan semua agency pemerintahan itu tidak lagi membeli server, tetapi menggunakan cloud. Artinya ada suatu peluang bisnis yang besar,” ungkap Semmy.

Pemerintah disarankan supaya memberikan pengelolaan cloud kepada pihak yang expert. Sehingga, pemerintah hanya fokus pada kinerja pemerintahan dan birokrasi.

“Kita memberikan layanan kepada expert yang menanangani. Jadi yang namanya pemerintah hanya pada substansinya, apa yang harus dilakukan. Karena biayanya sangat besar kalau kita memiliki sendiri,” tegas Semmy.

Semmy menanmbahkan, penggunaan cloud sudah menjadi policy dari pemerintah Indonesia. Sehingga, dia meminta supaya setiap perusahaan yang memiliki layanan cloud untuk bisa membaca peluang ini.

“Dan Indonesia pun sekarang, karena tadi policy di pemerintah, bahwa pemerintah akan menggunakan cloud, jadi sekarang industri cloud di Indonesia sudah bertumbuh sangat pesat. Saat ini sudah ada 11 pemain yang memberitahukan kepada kami. Belum lagi, negara-negara di sekitar Indonesia juga sudah mengalami restricted terkait pengadaan data center. Karena mereka tidak punya energi. Artinya, Indonesia akan jadi hub data center di kawasan. Ini semua terjadi karena pemerintah merubah aturan-aturan yang ada saat ini,” tandas Semmy.

“Diharapkan industri ini dapat berkembang dan harapannya Lintasarta, juga bisa menjadi pemain yang tangguh. Dan kami lihat ada pertumbguhan ke arah sana. Dan market pemerintah ini harus dilihat dan digarap dengan baik, karena kalau pemerintah semunya menuju ke era pemerintahan berbasis elektronik, kita memiliki peluang yang sangat besar,” ucap Semmy.

Pemanfaatan Teknologi

Presiden Direktur Lintasarta Arya Damar
Presiden Direktur Lintasarta Arya Damar

Presiden Direktur Lintasarta Arya Damar mengungkapkan, pandemi Covid-19 justru memicu dan mampu memaksimalkan penggunaan teknologi. Bahkan, pemanfaatan teknologi dinilai mampu meningkatkan ekonomi di Indonesia.

Menyitir studi dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Asian Developments Bank (ADB), disebutkan, penggunaan teknologi mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,25%. Sehingga, dengan teknologi diharapkan mampu membantu Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

“Data-data sekarang ini, bahwa masyarakat menggunakan teknologi dalam belanja menggunakan e-commerce, itu kalau kita lihat data Bank Indonesia (BI) tahun 2020, pembelanjaan melalui e-commerce itu sebesar Rp 266 T. Tahun 2021 diperkirakan akan tumbuh mencapai Rp 395 T. Artinya, penggunaan e-commerce hampir tumbuh 50%,” ungkap Arya.

Dari sisi masyarakat sendiri dengan adanya pandemi sudah menjadi terbiasa bekerja di luar kantor bahkan di rumah. Bahkan menurut riset Gartner, bahwa jika pandemi selesai, 51% orang tetap akan bekerja secara hybrid. Jadi ini membuat masyarakat semakin digital.

“Digitalisasi tidak hanya dinikmati masyarakat, tetapi juga dinikmati oleh perusahaan. Menurut riset Gartner, perusahaan-perusahaan yang menerapkan digitalisasi, itu sales-nya 21% lebih tinggi dibandingkan perusahaan-perusahaan yang tidak menerapkan. Bahkan keuntungannya 16% lebih tinggi dibandingkan perusahaan-perusahaan yang tidak menerapkan,” tambah Arya.

Bahkan setelah itu, perusahaan-perusahaan kemudian meningkatkan belanja teknologinya. Sebanyak 42% perusahaan-perusahaan meningkatkan belanja teknologinya 1-5%. bahkan lebih dari 50% itu 30%-nya meningkatkan belanja teknologinya. Artinya lebih dari 70% perusahaan meningkatkan teknologi untuk membantu proses bisnisnya.

“Namun demikian, dengan kemudahan bekerja di mana-mana artinya, data perusahaan atau proses-proses aplikasi perusahaan dapat diakses dari mana-mana di seluruh dunia. Yang perlu diperhatikan, bahwa belakangan ini hasil riset Gartner, serangan siber meningkat 400%. sehingga, setiap peruahaan selain menyiapkan aplikasi yang bisa diakses di mana-mana, harus juga menyiapkan teknologi cyber security,” tutur Arya.

Arya juga menyarankan kepada perusahaan yang menerapklan teknologi harus tetap bijaksana. Harus menggunakan teknologi yang tepat. Selain itu, mengenai kapsitas harus pas sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Selanjutnya, jangan terjebak kepada perubahan-perubahan teknologi yang kian cepat, sehingga bakal menambah biaya-biaya perusahaan.

“Untuk itu, pandemi ini menjadi pelajaran penting adalah, dalam mengahadapi kesulitan, kita harus bersama-sama. Termasuk dalam teknologi. Dalam teknologi kita harus berpikir bagaimana supaya efisien. Bagaimana kita bisa berkolaborasi sesama industri, bagaimana kita berkolaborasi secara group, bagaimana kita berkolaborasi dengan perusahaan lain, sehingga dalam penggunaan teknolologi secara bersama-sama,” ungkap Arya.

Pada kesempatan tersebut, Arya juga mengumumkan layanan Cloud, yang bernama Cloudeka. Layanan cloud ini disasar untuk segmen indsutri, sehingga dapat membantu industri mempercepat pertumbuhan bisnis dan juga lebih efisien.

“Hari ini Lintasarta meluncurkan brand cloudeka, yaitu brand di mana kita menyiapkan cloud kepada seluruh indutri, dimana bisa di-bundling dengan infrastrukturnya, cloud-nya, security, bahkan sampai aplikasinya. Sehingga dengan cloudeka hasil karya anak bangsa ini, mudah-mudahan ini bisa membantu industri untuk pertumbuhan ekonomi secara bersama-sama,” tandas Arya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN