Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo OutSystems, platform pengembangan aplikasi low-code.

Logo OutSystems, platform pengembangan aplikasi low-code.

39% Pemimpin TI Asia Pasifik Bergantung pada Alat Pengembang Aplikasi Visual

Kamis, 26 November 2020 | 08:43 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – OutSystems mengeluarkan hasil studi InfoBrief berjudul “Survei Perangkat Lunak Asia/Pacific 2020: DevOps, DevSecOps dan Masa Depan Inovasi Digital”, yang menunjukkan tentang bagaimana organisasi di Asia-Pasifik dapat memanfaatkan pabrik inovasi digital untuk tumbuh dan berkembang dalam lingkungan bisnis masa kini.

Hasil studi yang dilakukan oleh firma riset dan penasehat pasar IDC itu menemukan, 39% pemimpin teknologi informasi (TI) di Asia-Pasifik bergantung pada peralatan pengembangan aplikasi yang dipandu secara visual. Terdapat tiga alasan yang mereka berikan, yakni percaya bahwa peralatan pengembangan yang dipandu secara visual adalah masa depan, mempermudah pengalaman bagi pengembang aplikasi, dan lebih intuitif.

Bahkan terdapat 29% organisasi di Asia Tenggara yang berencana menggunakan peralatan pengembangan aplikasi visual dalam kurun waktu 18 bulan mendatang.

Selain itu, lebih dari setengah pengambil keputusan di Asia-Pasifik merasa yakin, bahwa organisasi mereka akan bergantung pada platform low-code untuk mengerjakan lebih dari seperempat proyek yang mereka miliki, dan peralatan pengembangan low-code akan mencapai puncak penggunaannya pada 2021.

Menurut Vice President Asia Pacific OutSystems Mark Weaser, dengan pertumbuhan Asia-Pasifik yang demikian cepat, wilayah tersebut akan menjadi pusat data yang sangat penting pada 2024.

“Langkah berikutnya bagi perusahaan di wilayah ini adalah memanfaatkan keuntungan yang diberikan peralatan pengembangan visual untuk membangun aplikasi cloud-native. OutSystems merasa beruntung bisa mendukung kebutuhan pelaku bisnis akan teknologi low-code serta cloud untuk mewujudkan potensi penuh wilayah ini sebagai pusat data yang penting di masa yang akan datang,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (25/11).

Di sisi lain, seiring dengan bertumbuhnya Asia Tenggara menjadi pusat data penting di masa depan, sebagian organisasi masih mengalami kesulitan untuk mengadopsi proses dan praktik agile serta DevOps dalam siklus hidup pengembangan perangkat lunak.

Namun bagi negara yang sudah selangkah lebih maju seperti Singapura dan Indonesia, penekanannya adalah pada cara-cara memaksimalkan tim DevOps dan mengamankan prosesnya. Oleh karena itu, integrasi dan pengelolaan open source menjadi prioritas tertinggi bagi organisasi di wilayah ini.

Vice President APAC OutSystems, Mark Weaser. ( Foto: Istimewa )
Vice President APAC OutSystems, Mark Weaser. ( Foto: Istimewa )

Tantangan Keamanan

Hal menarik dalam survei itu menunjukkan adanya perbedaan tantangan yang dihadapi Asia Tenggara dibandingkan di Asia Pasifik. Isu keamanan dan integrasi pengembangan dianggap sebagai tantangan paling tangguh yang dihadapi oleh 58% organisasi. Tantangan berikutnya adalah soal pembentukan tim dengan berbagai disiplin ilmu (48%), dan meyakinkan jajaran pimpinan perusahaan akan pentingnya DevOps (47%).

“Setelah berbicara dengan berbagai pengembang di Asia Tenggara, OutSystems sadar akan munculnya kebutuhan integrasi keamanan, terutama dengan semakin meningkatnya skala dan jenis pencurian data akhir-akhir ini. OutSystems menyediakan berbagai fungsi keamanan yang meliputi keamanan aplikasi, infrastruktur Virtual Private Cloud (VPC), dan tim penanganan insiden yang selalu siap (always-on). Walaupun OutSystems ingin mempercepat proses pengembangan aplikasi, kami juga percaya bahwa cepat juga harus aman. Kami memberikan lingkungan runtime yang aman dan peralatan yang dibutuhkan oleh klien untuk memastikan pengembangan aplikasi mereka aman,” demikian penjelasan Weaser.

Sementara itu, IDC memperkirakan bahwa siklus hidup pengembangan perangkat lunak akan jadi semakin singkat. Perusahaan juga harus semakin berhati-hati dan mengintegrasikan keamanan ke dalam fase perencanaan agar tetap kompetitif. Ekspektasi pelanggan yang semakin tinggi, harus dipenuhi dengan memberikan pengalaman pelanggan yang inovatif agar dapat menjangkau pangsa pasar dan audiens baru. Ini termasuk berani mengambil risiko, analisis data dan senantiasa mendengarkan masukan dari pelanggan akan berdampak baik pada munculnya ide-ide cemerlang di platform yang baru.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN