Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sebuah printer di meja. Foto ilustrasi: IST

Sebuah printer di meja. Foto ilustrasi: IST

Efek Pandemi, Industri Printer di Indonesia Merosot -45%

Rabu, 7 April 2021 | 18:26 WIB
Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Lembaga riset International Data Corporation (IDC) melalui IDC Worldwide Quarterly Industrial Printer Tracker, melaporkan, kombinasi dari semua produk Industrial Printer/LFP di Indonesia turun secara signifikan sebesar -45,3% Year on Year (YoY) dibanding 2019.

“Dampak pendemi Covid-19, terasa begitu nyata khususnya untuk market printing. Dengan resesi ekonomi yang diperkirakan berlangsung hingga Q1 2021 ini, kondisi Industrial Printer akan tetap berada di bawah tekanan setidaknya hingga Q3 2021 setelah Idul Fitri dan bulan Ramadhan. ” kata Muhammad Faris Latief, IPDS Market Analyst di IDC Indonesia melalui siaran pers, Rabu, (7/4).

IDC melaporkan Computer Aided Design (CAD) atau Printer Teknikal (Plotter) adalah produk yang paling tergerus secara unit dan value selama masa pandemi. Keterbatasan anggaran dari perusahaan untuk membeli peralatan baru (termasuk plotter) dan dihentikannya proses pengadaan tender barang dan jasa di bawah LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah) selama masa pandemi adalah penyebab utama dari menurunnya market CAD.

“Sejauh ini, kondisi pasar CAD mengalami penurunan -65% YoY. Di sektor grafik, penurunan menunjukkan -36,4% YoY. Pemain printing di sektor grafik didominasi oleh Jasa Printing Digital atau komersial juga mengklaim bahwa volume cetak turun lebih dari 50% dibandingkan 2019,” ujar Latief.

Merujuk pada value, pasar Industrial Printer pada 2020 menunjukkan penurunan setidaknya -9,93% YoY. Nilai penurunan ini dirasa tidak signifikan, meskipun terjadi penurunan besar-besaran dalam jumlah unit yang tiba di Indonesia.

Segmen grafik memang memiliki nilai paling besar. Namun di sisi lain, Industri tekstil dan kemasan label pada 2020 juga memberikan dampak positif yang signifikan selama masa pandemi ini, sehingga berpengaruh besar untuk menjaga value pangsa pasar relatif stabil dengan penurunan hanya dibawah 10%.

Tren selama Covid-19

Masa pandemi tidak selamanya memberikan dampak negatif terhadap perkembangan tren dalam dunia cetak. Menjamurnya mesin PET-Direct to Film menjadi bukti konkrit sebuah alternatif jenius dalam pasar cetak tekstil. Teknologi ini adalah substitusi dari teknologi sablon tradisional dan diperkirakan akan manjadi penantang terberat market DTG dan Polyflex.

“Biaya mencetak satu T-Shirt dengan ukuran A4 di muka depan kaos adalah sekitar Rp 3000 untuk full color-nya. Biaya ini ditenggarai yang termurah dibanding teknologi lainnya yang serupa dalam segmen grafik tekstil ” ungkap Latief.

“Kami tentunya optimis dengan berbagai pengembangan teknologi cetak pada 2021 yang diharapkan dapat menumbuhkan kreativitas, inovasi dan hasil cetak yang sesuai bahkan melampaui expektasi. Sebagai penutup, Kami berharap yang terbaik agar kondisi pasar dapat pulih secara maksimal di tahun ini,” terang Latief.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN