Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi kejahatan  siber. (Sumber: blog.rackspace.com)

Ilustrasi kejahatan siber. (Sumber: blog.rackspace.com)

Investasi Keamanan Siber Global Tumbuh 12,4%

Kamis, 22 Juli 2021 | 21:46 WIB
Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Gartner, perusahaan riset teknologi informasi (TI) asal Amerika Serikat, memprediksi, pengeluaran untuk keamanan TI dan manajemen risikonya (siber) global tumbuh 12,4% mencapai US$ 150,4 miliar pada 2021. Keamanan siber dinilai penting untuk memastikan ketangguhan operasional perusahaan.

Menurut laporan tersebut, keamanan siber juga disebutkan menjadi prioritas utama untuk pengeluaran dengan 61% dari lebih dari 2.000 chief information officer (CIO) yang disurvei. Mereka akan meningkatkan investasi dalam keamanan informasinya tahun ini.

Layanan keamanan, termasuk konsultasi, dukungan perangkat keras, implementasi, dan layanan alih daya (outsourcing), mewakili kategori pengeluaran terbesar tahun 2021, atau hampir mencapai US$ 72,5 miliar di seluruh dunia.

Menurut analis keamanan siber global, sistem industri global masih belum cukup terlindungi dari risiko transformasi digital yang baru dan beragam, meskipun rentan terhadap peningkatan risiko selama bertahun-tahun.

Chief Information Security Officer AVEVA Tim Grieveson mengatakan bahwa  kebijakan keamanan siber perusahaan harus secara proaktif dan holistik mencakup seluruh organisasi.

“Sangat penting bagi perusahaan untuk tidak hanya fokus pada pelatihan staf, tetapi juga pada pemilihan mitra teknologi yang tepat dan terbaik yang membangun keamanan ke dalam ekosistem cara mereka beroperasi,” tutur Tim, dalam keterangannya, Kamis (22/7).

Menurut dia, pendekatan perusahaan terhadap keamanan menjadi bagian dari budaya organisasi yang sangat penting. Keamanan pun harus menjadi bagian integral dari desain proses, atau operasi dan secara mendasar dimasukkan ke dalam layanan yang mendukung pengoperasian sistem dan tujuan bisnis.

“Keamanan siber adalah multidisiplin yang membutuhkan pendekatan proaktif di seluruh bisnis. Agar perusahaan siap menghadapi ancaman, penting untuk mempertimbangkan elemen-elemen sumber daya manusia, jaringan, mitra, proses, dan perangkat,” imbuhnya.

Tim pun mengimbau perusahaan agar berinvestasi pada sumber daya manusia dengan memberikan pelatihan keamanan yang relevan dan tepat waktu untuk staf, kontraktor, dan pihak ketiga.

Hal tersebut tidak hanya untuk mendukung tujuan perusahaan, tetapi juga dapat digunakan dalam kehidupan digital pribadi masing-masing. Selain itu, sangat penting untuk mempertahankan gerbang searah antara sistem TI dan  operation technology, serta menjalankan penilaian kerentanan terus-menerus.

“Pilih vendor untuk melindungi data penting dan memahami keamanan, prinsip hukum, dan kebijakan privasi. Tentukan di mana dan bagaimana data akan dikumpulkan, digunakan, dan disimpan,” tutur dia.

Keamanan Mitra

Tim pun mengingatkan agar setiap perusahaan bisa memastikan mitra menyertakan keamanan sebagai komponen inti dari penawaran layanannya, bukan sebagai tambahan opsional.

“Pastikan mereka mengambil tanggung jawab bersama dan transparan tentang apa yang dapat dan tidak dapat mereka lakukan untuk mendukung perusahaan,” ucapnya.

Karena itu, saat mempertimbangkan penggunaan komputasi awan (cloud), atau mitra internet of things (IoT), beberapa pertanyaan kunci perlu diajukan, antara lain di mana layana cloud secara fisik, di mana data perusahaan akan disimpan, serta cara mengambil, menyimpan, dan menggunakannya.

Berikutnya, bagaimana data terlindungi saat diam, atau bergerak, bagaimana menangani autentikasi, otorisasi, dan manajemen akun. Selanjutnya, apakah ada pemantauan proaktif yang mengidentifikasi perilaku abnormal, apakah ada audit keamanan internal dan eksternal, serta sebagainya.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN