Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Chairman CISSReC Dr Pratama Persadha di Indosec 2019, Jakarta, baru-baru ini.

Chairman CISSReC Dr Pratama Persadha di Indosec 2019, Jakarta, baru-baru ini.

Keamanan Siber Kunci Sukses Ekonomi Digital

Jumat, 6 September 2019 | 07:00 WIB

JAKARTA, investor.id - Ekonomi berbasis digital menjadi peluang bagi Indonesia untuk kembali meraih kesuksesan setelah era minyak pada 1980-an. Namun, tantangan utamanya adalah kesiapan kita terutama menghadapi era siber. Pemerintah harus melihat keamanan siber sebagai hal yang penting, tidak hanya dalam kepentingan negara dan bisnis, namun juga sampai pada tingkat individu.

Keamanan siber semakin penting di era serba digital dan menyosong ekonomi digital. Apalagi, Indonesia baru saja diramaikan dengan berbagai peristiwa yang berhubungan dengan keamanan siber, mulai dari error-nya sistem Bank Mandiri, lalu padam massal (blackout) listrik PLN, dan tentu saja ramainya RUU tentang Keamanan dan Ketahanan Siber.

Menurut pakar keamanan siber Pratama Persadha, kunci sukses menwujudkan keamanan serta pertahanan siber yang kuat salah satunya adalah bagaimana mengelola teknologi, baik dari sisi sumber daya manusia (SDM), infrastruktur, maupun industrinya, atau ekonomi digitalnya.

Karena itulah, The Indonesia Security Summit (Indosec 2019) menjadi ajang tahunan yang penting untuk saling berbagi informasi dan ilmu bagi para pakar keamanan siber.

Sementara itu, dalam pemaparannya, di Sheraton Hotel Jakarta, Pratama menekankan pentingnya rancangan jangka panjang negara dalam membangun keamanan siber. Lebih jauh, di acara yang dihelat Selasa-Rabu (3-4/9) itu, dia juga menyampaikan pentingnya negara fokus kepada empat hal untuk menguatkan dunia siber di Tanah Air.

Pertama, mengamankan infrastruktur kritis. Menurut dia, peristiwa blackout PLN, beberapa waktu lalu, membuat sadar betapa masih rapuhnya kita.

“Paling tidak, harus ada pengamanan siber yang diperkuat untuk sektor kelistrikan, air, transportasi, pendidikan, kesehatan, perbankan, dan instansi pemerintah. Ditambah sekarang adanya fintech juga harus benar-benar aman, karena masyarakat mulai banyak menyimpan uangnya di sana,” jelas pria asal Cepu Jawa Tengah ini.

Kedua, mewujudkan dunia siber yang aman dan kondusif. Salah satu edukasi yang penting adalah penggunaan privillaged access management (PAM). PAM sangat berguna dalam menjamin keamanan data yang dikelola oleh pengguna yang memiliki privileged access di dalam perusahaan maupun institusi pemerintah.

“Para pemilik privillage accsess seringnya menjadikan orang yang diintai para peretas maupun pihak dalam yang berniat jahat. Dengan PAM, seharusnya bisa lebih memperkuat sistem dalam sebuah institusi maupun perusahaan,” jelas chairman lembaga riset keamanan siber CISSReC (Communication and Information System Security Research Center) ini.

Ketiga, mewujudkan ekosistem yang baik di dunia siber Tanah Air. Dengan keamanan siber yang baik bisa tercipta ekosistem dunia siber yang baik. Ekosistem yang baik otomatis melahirkan ekonomi digital yang kuat, bahkan secara fundamental bisa saja tidak tergantung asing.

Ditambahkan oleh Pratama, potensi ekonomi digital Indonesia sangat menggiurkan. Menurut riset Google dan Temasek, dalam e-Conomy SEA 2018 Report, diperkirakan, ekonomi digital Indonesia akan menembus US$ 100 miliar pada 2025. Angka ini akan jauh meninggalkan Thailand dan Singapura.

Pada akhirnya, kita paham, mengapa banyak sekali perusahaan teknologi asing ingin berkiprah dan mengambil pasar Tanah Air.

“Jadi, potensi ekonomi digital kita ditunjang bonus demografi pada 2022-2030. Karena itu, sudah benar ada program digital talent. Tahun 2019 saja, dilalokasikan Rp 140 miliar untuk penyiapan SDM keamanan siber, cloud computing, dan artificial intelligence,” terangnya.

Jumlah netizen Indonesia juga terus bertumbuh. Pada 2010, baru ada 40 juta orang mengakses internet. Kini, tahun 2019, jumlahnya mungkin sudah lebih dari 180 juta yang mengakses internet. Ini menjadi modal bagus untuk membesarkan industri siber di Tanah Air. Bahkan, Gojek kini bisa masuk ke negara lain.

Pada poin keempat, Pratama menekankan pentingnya kerja sama internasional. Namun, kerja sama yang saling menguntungkan. Ada sharing pengalaman, teknologi, dan saling mengisi. Di sinilah, Indonesia bisa mengambil peran. (lm)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA