Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Survei menyimpulkan para gig worker di Indonesia sangat merasakan dampak pandemi Covid-19, dan mereka membutuhkan peluang baru serta keterampilan baru.

Survei menyimpulkan para gig worker di Indonesia sangat merasakan dampak pandemi Covid-19, dan mereka membutuhkan peluang baru serta keterampilan baru.

Survei: Pekerja Indonesia Butuh Keterampilan dan Peluang Baru

Jumat, 11 September 2020 | 21:38 WIB
Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Flourish Ventures, salah satu perusahaan modal ventura global dengan investasi portofolio di Indonesia dan  Asia, merilis laporan baru yang mengevaluasi bagaimana pekerja independen atau gig worker dalam ekonomi informal Indonesia.

Para pekerja yang dimaksud, seperti para pengemudi berbagi tumpangan atau ridesharing, penjual online, penyedia jasa rumah tangga, dan kurir pengiriman dalam usaha mereka mengatasi pandemi Covid-19.

Sebagian besar dari mereka telah terkena dampak yang besar, 86% responden menyatakan bahwa penghasilan mereka berkurang.

Laporan yang berdasarkan survei dari 586 gig worker di Indonesia dengan tajuk  The Digital Hustle: Gig Worker Financial Lives Under Pressure, menyimpulkan para gig worker di Indonesia sangat merasakan dampak pandemi Covid-19, dan mereka membutuhkan peluang baru serta keterampilan baru.

Managing Partner Flourish Ventures Tilman Ehrbeck mengatakan,  dalam penurunan ekonomi akibat pandemi Covid-19, pekerja independen secara signifikan terkena dampaknya dan mereka tetap rentan mengalami kesulitan dalam hal finansial.

“Ekonomi dengan sistem gig worker memungkinkan jutaan pekerja dalam sektor informal Indonesia, yang secara historis kurang diperhatikan oleh industri finansial. Kami melakukan riset ini untuk memahami bagaimana perusahaan Fintech dapat dengan lebih baik melayani para pekerja independen, serta individu dan usaha kecil yang rentan mengalami kesulitan, selama krisis ini dan di masa mendatang,” kata Tilman melalui siaran pers, Jumat (11/9).

Temuan-temuan penting dalam laporan tersebut antara lain:

Pertama, jumlah  gig worker di Indonesia dengan penghasilan lebih dari Rp 3 juta per bulan (US $200) mengalami penurunan yang tajam. Dari 43% pada bulan Maret 2020, menjadi 5% pada bulan Juni-Juli 2020. Selain itu, terdapat lonjakan besar dalam jumlah gig worker dengan penghasilan kurang dari Rp 1 juta ($70), dari 8% pada bulan Maret 2020, menjadi 55% pada bulan Juni-Juli 2020.

Kedua, 74% responden sangat khawatir tentang Covid-19. Gig worker lebih khawatir tentang dampaknya pada mata pencaharian mereka (52%) daripada  kesehatan mereka (14%).

Ketiga, pekerjaan yang memerlukan interaksi tatap muka lebih terkena dampaknya. 71% penyedia layanan kesehatan di rumah (seperti mereka yang menawarkan jasa pijat di rumah), 65% pengemudi berbagi tumpangan atau ridesharing, dan 55% pengemudi pengiriman telah kehilangan penghasilan.  Sementara, penjual online dan pekerja rumah tangga lainnya, seperti asisten rumah tangga, tidak terlalu terkena dampaknya.

Keempat, tidak ada perbedaan penghasilan antara jenis kelamin. Laporan menunjukkan bahwa pria dan wanita sama terpengaruhnya oleh penurunan ekonomi akibat Covid-19 di Indonesia. Di negara-negara lain yang disurvei sebagai bagian dari seri The Digital Hustle, kaum wanita lebih terkena dampaknya.

Keenam,  gig worker di kota-kota besar paling terkena dampaknya. 63% responden kehilangan penghasilan, dibandingkan dengan 49% di kota-kota yang lebih kecil.

Ketujuh, gig worker di Indonesia hidup dalam tekanan. Hampir 60% responden mengatakan bahwa jika mereka kehilangan sumber penghasilan utama mereka, mereka tidak akan dapat mencukupi pengeluaran rumah tangga mereka dalam satu bulan tanpa meminjam uang.

Meski demikian, dari laporan tersebut, para gig worker juga menemukan cara-cara baru untuk mengatasi kesulitan tersebut.

Pertama, di antara 66% dari mereka yang mengurangi konsumsi, konsumsi makanan merupakan pengeluaran utama yang mereka kurangi.

Kedua,61% responden menemukan pekerjaan baru atau pekerjaan tambahan, sebagian besar melalui platform digital, seperti penjualan ritel online atau pekerjaan berdasarkan permintaan. Selanjutnya, hampir 40% berencana untuk mencari pekerjaan baru dalam bulan-bulan mendatang.

Peluang Fintech

Di sisi lain, meskipun terdapat kekhawatiran akibat penuruan daya beli, masih terdapat peluang yang dapat dimanfaatkan oleh para gig worker. Peluang ini hendaknya dapat menjadi perhatian bagi penyedia platform fintech.

Dari laporan tersebut, diungkapkan, menabung demi masa depan merupakan tujuan nomor satu jangka pendek dan jangka panjang para gig worker. Karena, sebanyak 81% responden sangat mengkhawatirkan kemampuan mereka menabung untuk usia tua nanti.

Selanjutnya, keamanan menjadi yang paling utama. Secara spesifik, risiko tidak mampu bekerja. Sebagian besar responden sangat khawatir tentang bagaimana jika mereka tidak mampu bekerja apabila mereka jatuh sakit atau terlibat dalam kecelakaan (66%), atau jika telepon atau mobil mereka rusak (59%).

Lalu, gig worker lebih gelisah tentang kebutuhan uang tunai jangka pendek daripada pendanaan jangka panjang. Sebanyak 63% responden sangat khawatir tentang apakah mereka memiliki cukup banyak uang tunai untuk melakukan pekerjaan mereka, dibandingkan dengan hanya 32% yang khawatir tentang akses ke pendanaan aset.

“Pandemi menggarisbawahi tantangan yang dihadapi  gig worker di Indonesia, serta kemampuan beradaptasi mereka dan dorongan kewirausahaan mereka dalam menghadapi kesulitan,” kata Smita Aggarwal, Global Investments Advisor Flourish Ventures.

Dia menambahkan, walaupun gig worker telah menunjukkan ketabahan yang luar biasa dalam menghadapi krisis ini, pihaknya percaya terdapat peluang yang berarti untuk platform kerja independen dan Fintech guna memenuhi kebutuhan finansial pekerja yang belum terpenuhi, dan membantu likuiditas jangka pendek, perlindungan penghasilan, serta resiliensi jangka panjang.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN