Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
WhatsApp.

WhatsApp.

WhatsApp Perbarui Kebijakan Privasi Pengguna

Jumat, 8 Januari 2021 | 15:15 WIB
Investor Daily

JAKARTA, investor.id – WhatsApp, platform perpesanan singkat global asal Amerika Serikat dari Facebook Group, secara bertahap memperbarui kebijakan privasi para penggunanya di seluruh dunia.

"Menghargai privasi Anda sudah ditanamkan dalam DNA kami," ungkap WhatsApp, di laman FAQ resminya, seperti dikutip Jumat (8/1).

Pembaruan kebijakan itu juga telah mulai diumumkan kepada setiap penggunanya. Hari Jumat ini,  ketika membuka aplikasi, WhatsApp mengirimkan laman persetujuan sebelum pengguna bisa kembali mengakses pesan.

Pengguna pun disarankan untuk menyetujui kebijakan baru tersebut agar tetap bisa menggunakan platform WhatsApp. Jika tidak, pengguna tidak bisa lagi mengaksesnya mulai 8 Februari 2021.

Melalui kebijakan baru itu, WhatsApp akan mengumpulkan data para pengguna, antara lain berupa nomor ponsel, informasi perangkat dan koneksi, lokasi, log, dan cookies.

Sementara itu, untuk pesan, WhatsApp menyatakan akan menyimpannya di perangkat pengguna, bukan server WhatsApp. "Begitu pesan terkirim, mereka akan dihapus dari server kami," ujar WhatsApp.

Jika pesan tidak bisa terkirim, misalnya karena penerima pesan sedang tidak tersambung ke akses internet, WhatsApp akan menyimpannya dan dilindungi dengan enkripsi selama 30 hari. Jika telah lewat dari 30 hari, pesan tersebut akan dihapus dari server WhatsApp.

Ancaman Privasi

Sementara itu, laman teknologi Phone Arena menuliskan, data yang dihimpun dari pengguna WhatsApp akan digunakan bersama perusahaan yang satu grup dengan Facebook Inc, antara lain Facebook Payments, CrowdTangle, dan Onavo.

Bagi pegiat keamanan siber, pembaruan WhatsApp dinilai tergolong meresahkan. Pakar keamanan siber Jiten Jain, dikutip dari laman Times of India, berpendapat, meskipun WhatsApp memberi opsi untuk memilih, atau tidak, kebijakan baru itu merupakan ancaman bagi privasi bagi pengguna.

Menurut Jain, penggunaan data pengguna WhatsApp bersama untuk keperluan bisnis juga bisa diartikan bahwa WhatsApp akan membuka data untuk pemerintah dan penegak hukum.

"Data yang tersedia dan dibagikan oleh WhatsApp mulai mirip dengan Facebook. Facebook membagikan data ke pemerintah jika ada permintaan. Sepertinya, WhatsApp akan mulai melakukan hal yang sama," kata Jain.

Sementara itu, bagi pengacara bidang teknologi di India, Mishi Choudhary, Facebook sebenarnya memberikan persetujuan yang memaksa dengan meminta pengguna harus mengklik  setuju (agree) bagi para pengguna WhatsApp.

Sebab, jika tidak setuju, pengguna tidak akan bisa lagi menggunakan WhatsApp mulai Februari mendatang.

 

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : ANTARA

BAGIKAN