Menu
Sign in
@ Contact
Search

IPW: Kemacetan Parah Brebes Harus Diusut Tuntas

Sabtu, 9 Juli 2016 | 12:19 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA- Indonesia Police Watch (IPW) mendesak kasus kemacetan parah di jalur tol Brebes, Jawa Tengah, saat arus mudik Lebaran 2016 agar diusut tuntas supaya bisa diketahui penyebab kemacetan selama 25 jam di tol Brebes itu.

"Belasan orang tewas akibat terjebak dalam kemacetan parah di jalur tol Brebes saat mudik Lebaran 2016. Siapa yang salah? Siapa yang harus bertanggung jawab? Apakah pantas kasus ini didiamkan saja? Padahal saat meresmikan tol Brebes, Presiden Jokowi mengatakan jalan tol tersebut akan memperlancar arus mudik," kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane, di Jakarta, Sabtu.

Menurutnya, kemacetan parah yang menyebabkan tewasnya belasan orang di Brebes adalah tanggung jawab Kakorlantas Polri dan Kapolda Jateng.

Dikatakannya, dalam mengendalikan arus mudik ada lima instansi yang terlibat yakni manajemen Badan Perencanaan Nasional (Bappenas), Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PUPR) terkait uji masalah kelaikan jalan yang di dalamnya ada Badan Pengelolaan Jalan Tol (BPJT).

Ketiga, Kementerian Perhubungan dalam mengontrol masalah kelaikan kendaraan (angkutan umum) dan fasilitas kelaikan keselamatan lalu lintas. Keempat, Polri yang bertanggung jawab dalam rekayasa lalu lintas, pembinaan, dan penegakan hukum.

Kelima, Kementerian Kesehatan yang bertanggung jawab pascakejadian atau penanganan korban laka lantas postcrash.

"Dari lima instansi ini bisa diketahui, siapa yang harus bertanggung jawab dalam kasus ’jalur neraka’ yang menewaskan belasan orang tersebut," katanya seperti dikutip dari Antara.

Dengan adanya kasus itu, kata dia, konsep atau kebijakan Zero Accident yang selalu dikampanyekan menjelang musim mudik 2016 menjadi omong kosong.

Neta mengatakan pemerintah khususnya Polri harus menjadikannya sebagai pembelajaran dan bertanggung jawab agar ke depan jajaran Korlantas dan Polda bersungguh-sungguh dalam mencermati dan melakukan rekayasa lalu lintas arus mudik maupun arus balik.

"Kakorlantas harus berani mengambil keputusan tepat dan cepat yang bersinergi dengan BPJT. Kasus Brebes pada mudik 2016 harus membuat jajaran Korlantas dan Polda Jateng instrospeksi untuk kemudian berbuat maksimal," katanya.

 

Salah rancangan exit

Sementara itu, peneliti pada laboratorium transportasi Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Djoko Setijowarno, mengatakan kemacetan Tol Brebes Timur karena salah rancangan pintu exit.

“Harusnya, pintu keluar dirancang tanpa traffic light dengan membangun interchange,” katanya seperti dilansir tribunews, Senin (4/7).

Ia menuturkan, macet di tol sungguh membahayakan dan bisa membuat stress berkepanjangan. Selain itu, jika terjadi kemacetan, maka sulit melakukan penanganan bila terjadi kondisi darurat.

"Lain halnya di jalan non tol jalur pantura,‎ lebih lengang dan banyak dinikmati sepeda motor. ‎Pemudik dapat kapanpun memilih untuk beristirahat dan menikmati kuliner," ujarnya.

Lebih lanjut Djoko mengatakan, minat transportasi umum cukup tinggi, terutama moda kereta api (KA).

Pada tahun depan, menurutnya, masih ada peluang menambah kuota angkuran KA.

Caranya, yaitu menambah frekuensi dan menambah jumlah kereta setiap rangkaian. Satu rangkaian bisa hingga 30 kereta yang ditarik lokomotif. (gor)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com