Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Cikarang Dry Port Dukung Penurunan Dwelling Time

Sabtu, 8 Oktober 2016 | 16:59 WIB

JAKARTA – Cikarang Dry Port (CDP) mendukung kebijakan pemerintah untuk menurunkan masa bongkar muat (dwelling time) di Pelabuhan Tanjung Priok hingga menjadi 2,1 hari dari saat ini 3-4 hari. Dukungan tersebut diberikan seiring dengan kemudahan yang diberikan CDP untuk proses clearance hingga barang masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok.

 

GM Commercial Cikarang Dry Port Imam Wahyudi mengatakan, dengan adanya sistem dry port di Cikarang, maka penumpukan peti kemas bisa terurai serta dapat mendukung penurunan dwelling time di Pelabuhan Tanjung Priok hingga menjadi 2,1 hari.

 

Menurut dia, CDP saat ini baru melayani 60.000-70.000 TEUs (twenty- feet equivalent units) per tahun, dengan pangsa pasar sekitar 3% dari 62% arus barang kawasan industri Cikarang, Bekasi, yang dikapalkan melalui Pelabuhan Tanjung Priok Ke depan, CDP akan meningkatkan kapasitas lapangan penumpukan peti kemas hingga menjadi 2,5 juta TEUs per tahun dari saat ini 400.000 TEUs per tahun.

 

Imam mengatakan, sebanyak 62% barang yang dihasilkan dari kawasan industri Cikarang dikirim melalui Pelabuhan Tanjung Priok, sehingga potensi pasar CDP masih besar. “Jika bisa mencapai kapasitas maksimal, CDP bakal menguasai sekitar 60% pangsa pasar,” kata dia saat berkunjung ke redaksi Investor Daily, Jumat (7/10).

 

Meski demikian, Imam mengakui tidak mudah mengubah pola logistic industri, terutama untuk perusahaan- perusahaan multinasional. Saat ini pengguna CDP sekitar 30% berasal dari sektor ritel dan otomotif 30%.

 

“Ada beberapa hal yang menjadi hambatan, misalnya untuk ekspor. Banyak budaya produksi kita yang suka terlambat. Ada juga yang melihat harga kita lebih mahal, meskipun jika dilihat biaya logistik secara total kami lebih efektif,” kata Imam.

 

Imam mengatakan, untuk arus logistik yang lancar, idealnya ada satu pelabuhan dengan sistem one stop service. Pada kenyataannya, Tanjung Priok masih menjadi pelabuhan utama untuk di wilayah Jakarta dan Cikarang, sehingga sistem dry port pun cukup efektif untuk melancarakan arus logistik.

 

Setiap tahunnya pertumbuhan bisnis Cikarang Dry Port mencapai sekitar 20-30%. “Idealnya, untuk arus logistik memang one stop service di pelabuhan, sehingga dalam satu pelabuhan ada multi-layer. Saat ini belum ada, jadi adanya Cikarang Dry Port ini merupakan solusi untuk 62% arus barang dari Tanjung Priok ke Cikarang,” kata Imam. (bersambung)

 

Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/infrastructure/ada-30-shipping-line-gerakkan-barang/150921

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN