Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu proyek  pembangunan jalan tol. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Salah satu proyek pembangunan jalan tol. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

390 Km Jalan Tol dan 800 Km Jalan Baru Dibangun di Perbatasan

Jumat, 20 November 2020 | 19:44 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id - Sekitar 390 km jalan tol dan 800 km jalan baru berhasil dibangun di wilayah perbatasan negara pada 2020. Ketersediaan infrastruktur jalan diharapkan berdampak positif bukan saja terhadap ekonomi, tapi juga aspek ideologi politik, sosial, budaya, serta pertahanan dan keamananan nasional di perbatasan.

"Ini memang prestasi Presiden Joko Widodo. Tahun ini saja jalan tol sepanjang 390 km lebih dan jalan baru sepanjang 800 km di perbatasan sudah terbangun," kata Direktur Preservasi Jalan dan Jembatan Wilayah II Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga Kementerian PUPR, Thomas Setiabudi Aden dalam webinar soft launching buku berjudul Jalan di Indonesia dari Sabang sampai Merauke, di Jakara, Jumat (21/11).

Menurut Thomas, keberhasilan membangun jalan akan berpengaruh positif terhadap aspek ideologi politik, ekonomi, sosial, budaya, serta pertahanan dan keamananan nasional (poleksosbud hankamnas), terlebih di wilayah perbatasan.

Dia menjelaskan, dalam proses pembangunan infrastruktur jalan, Bina Marga PUPR berupaya agar proses pembebasan lahan dikerjakan lebih baik sehingga infrastruktur yang dibangun tidak mengganggu masyarakat.

"Bahkan, kini peraturan mengenai pembebasan tanah juga sudah diubah sehingga dapat mendukung proses percepatan pembebasan lahan, sehingga masyarakat tidak lagi mendapatkan ganti rugi, melainkan ganti untung," ujar dia.

Thomas Setiabudi mengungkapkan, panjang jalan di Indonesia sekitar 500.000 km dan hanya 47.000 km yang merupakan jalan nasional. "Jadi, mungkin hanya sekitar 9% yang ada di bawah wewenang kami (Bina Marga). Sisanya ada jalan provinsi, kabupaten, lokal, dan jalan khusus," tutur dia.

Meski demikian, kata Thomas, jika terdapat infrastruktur jalan, baik di kabupaten maupun kota, yang kondisinya memerlukan perbaikan, Bina Marga akan memperbaikinya. Begitu pula jika ada infrastruktur jalan yang rusak sebelum melewati umur rencana.

Dia menambahkan, berkurangnya umur rencana merupakan salah satu bagian dari indeks kinerja Bina Marga. Untuk itu, jika ada jalan rusak, Bina Marga akan memperbaikinya, lebih-lebih jalan nasional. "Perkara nanti siapa yang bertanggung jawab, kami nggak akan menghabiskan waktu di situ. Kalau masih menjadi tanggung jawab kontraktornya, kami akan tagih dia. Pokoknya public first," tegas dia.

Terus Berlanjut

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad), Reiza Dienaputra mengemukakan, pembukaan wilayah yang dilalui jalan nasional harus mampu menciptakan sentra-sentra ekonomi, khususnya ekonomi berbasis kerakyatan.

"Ini juga dipertegas presiden bahwa jalan menjadi dasar dan perhatian penting pemerintah dalam lima tahun ke depan. Terbukti presiden menempatkan pembangunan infrastruktur dalam tahapan pertama dari lima tahapan besar pembangunan yang akan dikerjakan dalam lima tahun ke depan" papar dia.

Dengan demikian, menurut Reiza Dienaputra, jalan nasional harus dikoneksikan dengan sentra-sentra ekonomi kerakayatan, industri, dan simpul-simpul ekonomi lainnya. "Jadi, pembangunan jalan harus dapat menjawab kenapa dan apa tujuan dari jalan nasional itu dibangun," tandas dia.

Thomas Setiabudi mengakui, pemerintah berkomitmen untuk terus menciptakan sentra-sentra ekonomi baru melalui pembangunan jalan. Itu sebabnya, pembangunan infrastruktur pada masa pandemi tetap berlanjut.

"Di saat banyak kegiatan dan proyek lain dikurangi, pembangunan infrastruktur jalan tidak. Sebab, presiden yakin dengan adanya infrastruktur jalan yang baik, ekonomi akan tetap bergerak meskipun dalam situsi sulit," ujar dia.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN