Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Boeing 737 MAX. Foto: AFP

Boeing 737 MAX. Foto: AFP

Garuda Belum Batalkan Pemesanan Boeing 737 Max

Minggu, 22 November 2020 | 13:09 WIB
Tri Murti

JAKARTA, investor.id - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menyebut kontrak pesanan pesawat Boeing 737 Max 8 masih dalam status belum dibatalkan meski pada awal tahun maskapai penerbangan itu memastikan tidak akan melanjutkan pembelian 49 pesawat jenis tersebut yang sedianya mulai dikirim pada 2020.

“Mengenai order (pesanan) yang ada dengan Boeing, kami memang ada order dan ada banyak pembicaraan kami dengan Boeing. Klasifikasinya belum ter-cancel (dibatalkan). Jadi tentu saja pembicaraan ini akan kami teruskan dengan pihak manufacturer yaitu Boeing,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam jumpa pers secara daring di Jakarta, Jumat (20/11).

Irfan Setiaputra, Dirut Garuda. Sumber: BSTV
Irfan Setiaputra, Dirut Garuda. Sumber: BSTV

Irfan menuturkan, pihaknya telah mendengar kabar soal dicabutnya larangan terbang pesawat Boeing 737 Max oleh Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) pada Rabu (18/11). Namun, lanjut Irfan, perusahaan juga harus menunggu aturan dan persetujuan otoritas Indonesia mengenai izin terbang pesawat tersebut.

Ia juga menjelaskan, untuk kemudian bisa menggunakan pesawat Boeing 737 Max, perusahaan juga membutuhkan sejumlah persiapan termasuk kesiapan pesawat hingga pelatihan kembali (retraining) pilot.

“Karena ada jangka waktu cukup lama di mana pilot kami harus melalui proses training dan sertifikasi lagi,” katanya.  

Di sisi lain, Irfan menambahkan, maskapai belum bisa memutuskan mengoperasikan pesawat tersebut, mengingat masih banyak pesawat yang grounded, di tengah kondisi sulit karena pandemic seperti saat ini.

Dengan kondisi tersebut, maskapai mengoperasikan pesawat dengan prinsip menyesuaikan kebutuhan. Ada pun saat ini Garuda Indonesia memiliki satu unit pesawat Boeing 737 Max 8.

“Teman-teman ketahui kami memiliki beberapa pesawat yang grounded, belum terbang, karena memang demand-nya belum ada, sehingga belum sampai hingga bisa menerbangkan semua pesawatnya,” katanya.

Sementara itu, Garuda Indonesia akan fokus hanya pada layanan penerbangan meski banyak perusahaan aviasi yang kini merambah lini bisnis lain agar bisa bertahan saat pandemi Covid-19 saat ini.

“Kami memang secara sadar tidak akan masuk ke bisnis yang beberapa airlines (lain) lakukan, yang menurut saya impact-nya secara finansial tidak signifikan tapi juga secara persepsi menurut kami bukanlah sesuatu yang pas dilakukan,” kataIrfan.

Irfan menuturkan, fokus perusahaan itu ditegaskannya lantaran mandat Garuda Indonesia sebagai BUMN yang sejak awal diberikan untuk bisa membangun industri penerbangan nasional. Di tengah kondisi pandemi, Garuda Indonesia akan memfokuskan diri pada layanan kargo, khususnya untuk kebutuhan ekspor, serta charter atau penyewaan.

Khusus untuk layanan kargo ekspor, Garuda telah membuka beberapa rute penerbangan baru langsung ke tujuan ekspor, di antaranya Manado-Tokyo hingga Bali-Hong Kong, untuk memenuhi kebutuhan angkutan ekspor produk kelautan dan perikanan. Maskapai pelat merah itu juga memiliki layanan pengiriman berbasis digital Kirim Aja melalui lini usaha transportasi dan logistik, PT Aerojasa Cargo.

“Layanan ini kita harap bisa sangat membantu teman UMKM meningkatkan profitabilitasnya dengan cara kita bebaskan atau kita berikan diskon kirim barang antarkota sampai 50%,” katanya.

Sementara untuk layanan charter, Irfan menjelaskan layanan tersebut diberikan atas dasar diskusi dengan pelanggan atas penilaian penerbangan yang aman.

“Kita akan sangat juga fokus ke charter karena dari banyak diskusi dengan para pelanggan, kita menemukan banyak fakta Garuda dianggap penerbangan yang aman dan mereka berkeinginan uuntuk terbang dari satu tempat ke tempat lain tanpa perlu transit dan mengikuti penerbangan reguler. Oleh karenanya bisnis charter kita juga meningkat sangat tinggi,” imbuhnya.

Sementara itu, akibat pandemi, sejumlah maskapai penerbangan terpaksa merambah bisnis lain agar bisa bertahan. Air Asia, misalnya membuka bisnis perdagangan daging aqiqah.

Sementara itu, Thai Airways memanfaatkan aset katering untuk berjualan gorengan, roti, serta memanfaatkan aset properti untuk dijadikan restoran. (ant)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN