Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bandara Kertajati. Foto: IST

Bandara Kertajati. Foto: IST

Investor Malaysia Suntik Bandara Kertajati Rp 291 M

Thresa Sandra Desfika/Tri Murti, Senin, 9 September 2019 | 11:17 WIB

JAKARTA-Perusahaan Malaysia, Muhibbah Engineering (M) Bhd, tengah memfinalisasi pembelian 11,6% saham pemilik Bandara Kertajati, PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB), dengan nilai sekitar Rp 291 miliar. Muhibbah tertarik berinvestasi karena Bandara Kertajati berlokasi di segitiga emas Rebana (Cirebon-Patimban-Kertajati) yang disiapkan menjadi pusat ekonomi baru dan kawasan ekonomi khusus (KEK) terbesar di Indonesia.

Bersamaan dengan masuknya Muhibbah Engineering, PT Angkasa Pura (AP) II segera menyuntikkan modal ke PT BIJB. AP II (Persero) akan mengakuisisi 25% saham badan usaha milik daerah (BUMD) Jawa Barat (Jabar) yang menjadi pengelola, operator, sekaligus pengembang Bandara Kertajati tersebut.

Selain itu, pemilik maskapai Cathay Pacific, Swire Group, telah menyatakan ketertarikannya untuk membuka terminal kargo di Bandara Kertajati. Perusahaan pengelola dan investasi bandara, Swire Group dan Manchester Airports Group, juga berminat mengembangkan Bandara Kertajati, bersama Bandara Nusawiru (Pangandaran) dan Cikembar (Sukabumi).

Sebanyak 97,6% saham PT BIJB saat ini dikuasai Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar. Sisanya dimiliki BUMD Jabar lainnya, yakni PT Jasa Sarana dan Koperasi Praja dengan porsi kepemilikan masing-masing sebesar 0,8 % dan 1,6%. PT BIJB telah disiapkan sebagai perusahaan holding yang melakukan pengusahaan Bandara Kertajati, termasuk membangun dan mengembangkan Kertajati Aerocity.

Direktur PT BIJB Muhamad Singgih mengungkapkan, ketertarikan Muhibbah sudah ditunjukkan saat Managing Director Muhibbah Engineering (M) Bhd Mac Ngan Boon menemui Gubernur Jabar Ridwan Kamil pada 1 Agustus lalu di Bandung. Realisasi masuknya Muhibbah ke BIJB tinggal tahap finalisasi.

“Saat ini masih dalam tahap proses penjualan saham, masing-masing kepada Muhibbah sebesar 11,6% dan AP II sebesar 25%. Kedua perusahaan ini memang yang paling serius," kata Singgih kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Muhibbah Engineering (M) Bhd adalah perusahaan publik yang melantai di bursa saham Malaysia (Kuala Lumpur Stock Exchange/KLSE) dengan kode saham MUHI. Didirikan pada 1972, Muhibbah merupakan salah satu perusahaan rekayasa konstruksi multidisiplin terkemuka di Malaysia.

Proyek yang digarap Muhibbah antara lain mencakup pengerjaan infrastruktur dan bangunan, fasilitas pendukung bandara dan maskapai penerbangan, fasilitas migas dan petrokimia, konstruksi pelabuhan dan laut, pembuatan derek, pembuatan kapal, perbaikan kapal, fabrikasi untuk struktur baja darat dan lepas pantai utama, serta penanganan limbah.

Muhamad Singgih menjelaskan, operasional Bandara Kertajati mulai menggeliat setelah dilakukan penataan rute dengan Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Kondisi itu pula yang mendorong Muhibbah ikut dalam bursa penyertaan 11,6% saham BIJB dengan nilai konversi sekitar Rp 291 miliar. Apalagi Bandara Kertajati disiapkan untuk mengurangi beban Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Cengkareng.

Singgih menambahkan, AP II juga segera menyuntikkan modal ke PT BIJB. BUMN tersebut akan mengakuisisi 25% saham BIJB. Namun, ia tidak bersedia merinci berapa nilai 25% saham BIJB yang akan diakuisisi AP II.

Singgih mengatakan, sejumlah investor lainnya pun berminat menanamkan modal di Bandara Kertajati. Pemilik maskapai Cathay Pacific, Swire Group, misalnya, telah menyatakan ketertarikannya untuk membuka terminal kargo di Bandara Kertajati. Perusahaan pengelola dan investasi bandara, Swire Group dan Manchester Airports Group, juga berminat mengembangkan Bandara Kertajati, beserta Bandara Nusawiru, Pangandaran dan Cikembar, Sukabumi.

Menurut Singgih, BIJB sudah menerapkan beberapa persyaratan bagi investor yang tertarik berinvestasi di BIJB. Persyaratan-persyaratan itu di antaranya sehat secara finansial, berpengalaman mengoperasikan bandara, dan bisa membawa tenant (penyewa) ke Bandara Kertajati.

"Harapan kami ke depan, setelah investor asing masuk, Bandara Kertajati bisa berkembang dan diutilisasikan secara optimal sesuai kapasitas yang sudah dibangun dan ada transfer knowledge dan pengalaman. Dengan begitu, ke depannya BIJB bisa mengoperasikan sendiri bandaranya," papar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA