Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Maskapai Sakit Harus Segera Merger

Oleh Tri Murti dan Abdul Aziz, Kamis, 26 Maret 2015 | 10:34 WIB

JAKARTA-Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan meminta maskapai penerbangan yang tidak layak secara bisnis segera merger agar memiliki permodalan yang sehat dan kuat. Ke depan, pemerintah tidak akan memberi kesempatan kepada maskapai ‘sakit’ untuk beroperasi di Indonesia.


“Kami menomorsatukan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan penumpang. Jadi, bagi maskapai penerbangan yang tidak mampu memberikan tiga hal tersebut, ya silakan tutup saja. Ini urusan nyawa manusia. Kami tidak mau main-main,” ujar Menhub saat berkunjung ke kantor Beritasatumedia Holdings di Jakarta, Rabu (25/3).


Di Indonesia saat ini terdapat 13 maskapai penerbangan niaga berjadwal yang beroperasi, yaitu PT Garuda Indonesia Tbk, PT Citilink Indonesia, PT Indonesia AirAsia, PT Lion Mentari Airlines, PT Wings Abadi Airlines, PT Sriwijaya Air, PT Kalstar Aviation, PT Travel Express Aviation, PT Transnusa Aviation Mandiri, PT Batik Air Indonesia, PT ASI Pudjiastuti Aviation, PT Aviastar Mandiri, dan TRI MG Air Airlines. Empat maskapai lainnya telah berhenti beroperasi, yaitu PT Merpati Nusantara Airlines, PT Mandala Airlines, PT Metro Batavia, dan PT Sky Aviation. Jumlah penumpang udara pada 2014 mencapai 72,6 juta orang, naik 5,6% dari tahun sebelumnya sebanyak 68,5 juta orang.


Menurut Jonan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sedang ‘menyaring’ maskapai penerbangan yang beroperasi di Tanah Air. Dengan demikian, hanya maskapai sehat yang kelak bisa melayani jasa angkutan penerbangan di Tanah Air. “Maskapai sakit kan tidak mungkin bisa menjaga keselamatan penumpang, makanya percuma dipertahankan,” tutur dia.


Sebagai bentuk seleksi tersebut, kata Jonan, maskapai penerbangan diberi waktu hingga pertengahan April 2015 untuk melaporkan kinerja keuangan 2014 yang telah diaudit akuntan publik. Maskapai yang telat mengumpulkan laporan keuangan terancam sanksi denda berupa uang. Beleid ini ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan (PM) Nomor 45 Tahun 2015 tentang Persyaratan Kepemilikan Modal Badan Usaha di Bidang Transportasi. Aturan itu juga menyatakan maskapai penerbangan wajib memenuhi persayaratan kepemilikan modal. Maskapai udara berjadwal dengan tipe pesawat terbesar berkapasitas lebih dari 70 tempat duduk wajib memiliki modal disetor minimal Rp 500 miliar.


Sedangkan yang menggunakan tipe pesawat udara terbesar berkapasitas kurang dari 70 tempat duduk wajib memiliki modal disetor minimal Rp 300 miliar. Adapun maskapai penerbangan tidak berjadwal dengan tipe pesawat terbesar berkapasitas lebih dari 70 tempat duduk wajib memiliki modal disetor minimal Rp 300 miliar.


Sedangkan maskapai penerbangan tidak berjadwal dengan tipe pesawat terbesar berkapasitas kurang dari 70 tempat duduk wajib memiliki modal disetor minimal Rp 150 miliar. Maskapai yang melanggar ketentuan persyaratan kepemilikan modal diancam sanksi administratif berupa peringatan tertulis, pembekuan izin, hingga pencabutan izin.


Selain modal disetor, menurut Jonan, Kemenhub memberikan ultimatum hingga 30 Juni tahun ini kepada maskapai untuk mematuhi aturan tentang pengoperasian pesawat dengan rasio 5:5 sebagaimana digariskan Undang-Undang (UU) No 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.


Berdasarkan aturan tersebut, maskapai niaga berjadwal wajib memiliki minimal lima unit pesawat dan menyewa minimal lima unit pesawat dengan jenis yang mendukung kelangsungan usaha sesuai rute yang dilayani. Maskapai yang melanggar beelid ini diancam sanksi administratif berupa peringatan atau pencabutan izin serta denda.


“Bagi yang tidak mampu memenuhi regulasi, dimerger saja. Misalnya mereka hanya punya tiga pesawat. Lha, kapan pesawat-pesawat itu dirawat? Kan setiap hari terbang untuk mengejar setoran. Itu artinya, peluang mereka untuk mengabaikan faktor keselamatan dan keamanan penumpang lebih besar,” kata dia. (c04/ad)

BAGIKAN