×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

MRT Jakarta Fase 1 Beroperasi Terbatas pada 12 Maret

(gor/ant), Rabu, 27 Februari 2019 | 14:56 WIB

JAKARTA – Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyebutkan Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta fase 1 akan mulai beroperasi secara terbatas bagi publik pada 12 Maret 2019. Hal tersebut menyusul proses perizinan dan sertifikasi oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang dijadwalkan selesai pada 4 Maret 2019.

“Pada 12 Maret, MRT kami rencanakan sudah bisa dideliver kepada masyarakat dalam bentuk uji coba fungsional terbatas. Ini karena ditargetkan seluruh rekomendasi teknis terkait dengan perizinan dan sertifikasi akan diselesaikan tanggal 4 Maret,” kata Plt Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Widjatmoko di Jakarta, Selasa (26/2).

Sigit menambahkan, pengoperasian terbatas bagi publik ini bagian dari sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat menjelang beroperasinya MRT secara komersial yang ditargetkan mulai akhir Maret 2019.

Saat pengoperasian terbatas, lanjut Sigit, masyarakat tidak dikenakan tarif. “Nanti jadi tidak pakai tariff dahulu. Sedangkan, untuk tarifnya masih dilakukan pembahasan dan nanti diumumkan. Yang pasti untuk tarif ini akan ada subsidi,” terang Sigit.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengutarakan, MRT fase 1 Lebak Bulus- Bundaran HI akan mulai beroperasi pada akhir Maret 2019. Namun, peresmian moda transportasi senilai Rp 16 triliun itu dijadwalkan baru berlangsung pada April 2019.

“Jadi peresmiannya pada April, setelah satu bulan beroperasi,” imbuh Menhub.

Budi menambahkan, guna pemanfaatan MRT Jakarta yang optimal saat beroperasi, pihaknya bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan PT MRT Jakarta menyiapkan rencana angkutan antarmoda yang akan menjadi pengumpan MRT.

Selain itu, kawasan transit oriented development (TOD) harus juga disiapkan guna memaksimalkan keberadaan MRT. Adapun MRT Jakarta fase 1 Lebak Bulus-Bundaran HI mencakup tujuh stasiun layang dan enam stasiun bawah tanah.

“Ini masukan bagi kami, Pemprov, dan PT MRT untuk meningkatkan fungsi TOD dan (angkutan) feeder karena di masa mendatang diupayakan semua pergerakan orang itu menggunakan angkutan massal,” papar Budi.

Terkait tarif, Budi menyatakan, pihaknya belum mengetahui secara rinci berapa besarannya karena menjadi kewenangan gubernur Jakarta. Namun demikian, Kemenhub dimintai masukan perihal besaran yang cocok untuk tarif MRT.

“Kami juga memang diminta untuk memberikan masukan, tapi yang pasti MRT ini harus disubsidi. Karena kalau tidak, masyarakat cukup berat untuk membayarnya,” terang Menhub.

MRT Fase 2

Sementara itu, Menhub memperkirakan, pembangunan MRT Jakarta Fase 2 dimulai pada Maret 2019. Saat ini, prosesnya masih menunggu surat rekomendasi dari Sekretariat Negara (Setneg) terkait pemanfaatan lokasi Monumen Nasional (Monas) sebagai salah satu titik pembangunan proyek senilai Rp 22,5 triliun itu. (esa)

BAGIKAN