Kejar Target Laba Bersih Rp2,5 Triliun i

Suasana di Pelabuhan Benoa, Bali, yang dikelola PT Pelindo III, dengan latar belakang MV Artemis yang tengah melakukan pendalaman di alur Pelabuhan Benoa (26 Juli 2018).

Oleh : Fajar Widhiyanto / FW | Sabtu, 11 Agustus 2018 | 20:18 WIB

Dengan sejumlah aksi korporasi di tahun ini, Pelindo III menyiapkan belanja modal hingga Rp12 triliun. Sebesar Rp6,2 triliun di antaranya dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, sementara sebesar Rp1,5 triliun disiapkan untuk dana akuisisi.

Perusahaan pun berani mentargetkan laba bersih sebesar Rp2,5 triliun di tahun ini. Sementara untuk memacu kinerja di lingkup internal, perusahaan mematok target laba sebesar Rp3 triliun. Pada tahun 2017, laba bersih yang berhasil diraup perusahaan tercatat Rp2,054 triliun. Hingga semester I/2018, Pelindo III telah berhasil mencatatkan laba sebelum pajak Rp1,54 triliun. Sejauh ini kontribusi sebagian besar masih berasal dari jasa kepelabuhanan 80% dan non jasa kepelabuhanan seperti oil and gas, listrik, dan properti sebesar 20%.

Di tahun 2019, perusahaan berpotensi akan memperoleh tambahan revenue lebih besar lagi, mengingat kontrak Dubai Port World di PT Terminal Peti Kemas Surabaya akan berakhir pada April 2019. Sejauh ini dari pola kerja sama pengelolaan tersebut, Pelindo III menerima pendapatan sebesar Rp600 miliar per tahun, dan angka yang juga diterima oleh Dubai Port World.

“PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) mereka selesai pada April 2019 dan kita akan take over 100%. Mereka akan lepas sesuai kontrak, otomatis pendapatan Rp600 miliar akan jadi tambahan ke kita, jadi total Rp1,2 triliun net profit after tax per tahun. Saat ini kita cuma dapat Rp600 miliar per tahun,” ujar Ari.

Perseroan juga menyimpan rencana untuk memperbesar skala usahanya dengan menawarkan jasanya untuk menjadi pengelola pelabuhan lain di luar negeri. Salah satunya adalah Port Klang, perusahaan jasa pengelolaan kepelabuhanan milik Malaysia. Saat ini Pelindo III tengah mengkaji potensi dilakukannya share swap pengelolaan pelabuhan oleh kedua belah pihak. Dikatakan Ari, Port Klang tertarik dengan salah satu terminal pelabuhan peti kemas yang dikelola oleh Pelindo III, yakni Terminal Teluk Lamong di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Sementara itu Pelindo III akan diberikan kewenangan untuk mengelola salah satu pelabuhan yang dikelola oleh Port Klang. “Kita ada rencana dengan Port Klang, operator pelabuhan terbesar di Malaysia berupa share swap. Itu merupakan bentuk dari pengembangan, bisa akuisisi merger atau cara share swap,” kata Ari.

Alasan kerja sama dalam bentuk share swap menurut Ari karena perusahaan ingin mengembangkan operasi hingga ke luar negeri. “Kita belum pernah ada operasi di luar negeri jadi cara yang paling prudent dan mudah adalah share swap. Kita harapkan bisa terlaksana pada Kuartal pertama 2019,” imbuhnya.

Sejauh ini penjajakan masih dilakukan kedua belah pihak, dan masih menghitung valuasi masing-masing pelabuhan yang akan dikelola.

Sejatinya tawaran kerja sama untuk pengelolaan pelabuhan dengan skema share swap juga sempat ditawarkan Pelindo III pada Dubai Port World. Namun baru Port Klang yang menanggapi tawaran kerja sama tersebut.

Sementara itu bicara soal masa bongkar muat (Dwelling time) di pelabuhan yang dikelola Pelindo III, rata-rata masa dwelling time di Pelindo III adalah 4,5 hari. Tercepat adalah di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya yang selama 3,5 hari, dan Semarang sekitar 5 hari.



Selengkapnya
 
MORE STORIES