Kapasitas Produksi Precast Jadi 41 Juta Ton pada 2019 i

Salah satu proyek jalan tol PT Waskita Beton Precast Tbk.

Oleh : Fajar Widhiyanto / FW | Rabu, 19 Sepember 2018 | 11:35 WIB
Kategori :

Pengembangan infrastruktur yang marak digelar oleh pemerintah di dalam negeri telah mendorong tingginya kebutuhan terhadap materi pendukung seperti beton yang juga cukup besar.

Dikatakan Lukman Hakim, Kepala Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang mewakili Menteri PUPR Mochamad Basoeki Hadomoeljono dalam kesempatan pembukaan Concrete Show South East Asia 2018 di JIExpo, Jakarta (19/9), beton masih menjadi bahan baku utama konstruksi yang memiliki kelebihan seperti ketersediaan bahan baku yang melimpah, mudah didesain, tahan panas serta mampu mencapai skala keekonomian dan ramah lingkungan.

Sejauh ini diakui Lukman, masih ada catatan dalam pengembangan bahan baku pendukung infrastruktur berupa beton dan precast. Yakni dampak lingkungan seperti limbah B3, hingga Abu terbang.

“Untuk itu dibutuhkan sejumlah inovasi dan teknologi baru yang bisa meminimalkan dampak lingkungan tersebut,” kata Lukman melansir pernyataan dari Menteri PUPR Basoeki Hadimoeljono.

Dalam kesempatan yang sama Wilfred Singkali, Ketua Umum AP3I- Asosiasi Perusahaan Pracetak dan Prategang Indonesia / Indonesian Precast and Pre-stressed Companies Association, mengatakan bahwa dalam pengembangan infrastruktur, pemerintah meminta supaya bahan baku pendukung berupa Precast harus mencapai minimal 30% dari total kebutuhan beton pada pembangunan infrastruktur tahun 2019.

“Artinya akan ada kapasitas terpasang sebesar 41 juta ton precast pada tahun 2019. Pada tahun lalu, dari 42 anggota asosiasi yang memiliki 76 pabrik telah memiliki kapasitas sebesar 34 juta ton precast, dan pada tahun ini akan ditingkatkan kapasitasnya menjadi 37 juta ton,” ujar Wilfred.

Demand yang muncul dari pengembangan nfrastruktur dan konstruksi di Tanah Air tahun ini diperkirakan sama dengan kapasitas yang dimiliki oleh anggota asosiasi, yakni sebesar 37 juta ton.

Pada tahun ini sebagian besar precast masih digunakan untuk pengembangan infrastruktur seperti jalan dan jembatan, sementara sebagian lagi diserap oleh industri perumahan. Sehingga, kata Wilfred, jikapun terjadi pengurangan proyek strategis nasional dalam sejumlah proyek infrastruktur yang dicanangkan pemerintah, asosiasi masih optimistis tingkat kenutuhan precast masih akan tinggi, atau bertumbuh 10% pada tahun ini, dan bertumbuh di kisaran yang sama pada tahun 2019.

“Sehingga kapasitas produksi precast pada tahun depan diperkirakan akan sama dengan tingkat demand yang dibutuhkan oleh pengembangan infrastruktur dan perumahan yakni sebesar 41 juta ton,” imbuh Wilfred.

Ia sendiri tak bisa menyebutkan seberapa besar investasi yang harus dibelanjakan para anggota AP3I untuk meningkatkan kapasitas dan teknologi di fasilitas produksi mereka. Namun seperti PT Wika Beton, kata Wilfred, tiap tahun setidaknya anak usaha PT Wijaya Karya Tbk tersebut harus mengeluarkan investasi sebesar Rp200 miliar.

Masih dalam  kesempatan serupa, Hermanto Dardak selaku Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menyebutkan, precast mampu mempercepat pekerjaan sejumlah proyek infrastruktur. Ia menyebut salah satunya adalah pembangunan jembatan Suramadu yang bsia lebih cepat dikerjakan. Precast dan beton telah membentuk wajah kota besar di Indonesia khususnya di Ibukota DKI Jakarta.

Hermanto Dardak juga menyebut penggunaan precast telah mempercepat pengerjaan flyover tol Bandara di KM 26 dan KM 27 yang beberapa tahun lalu sempat mengalami penurunan permukaan tanah. Dengan penggunaan precast, pengerjaan flyover dan peningkatan tinggi jalan di KM 26 dan KM 27 di Tol Bandara bisa dilakukan lebih cepat, yakni hanya dalam waktu 8 bulan. “Itu sudah termasuk pengerjaan tanggul jalan di sisi utara,” kata Dardak.



Selengkapnya
 
MORE STORIES