Airnav Gunakan Mobile Tower di Bandara Sis Al i

Air traffic Control AirNav Indonesia. GA Photo/Mohammad Defrizal

Oleh : Thresa Sandra Desfika / GOR | Selasa, 9 Oktober 2018 | 17:09 WIB

JAKARTA – Airnav Indonesia mulai menggunakan mobile tower untuk melayani penerbangan di Bandara Mutiara Sis Al Jufrie, Palu per 8 Oktober 2018. Sebelumnya, operator navigasi penerbangan itu memanfaatkan tower darurat sejak 1 Oktober 2018 karena menara navigasi di Bandara Sis Al Jufrie ambruk akibat gempa bumi.

"Mobile tower ini didatangkan langsung dari Lombok seusai menjalankan tugas pada bencana alam di Lombok. Mobile tower Airnav tiba di Pelabuhan Pantoloan pada Jumat (5/10) dan dijemput oleh tim teknik Airnav Indonesia. Begitu tiba di bandara, tim teknik Airnav langsung bekerja," kata Manajer Humas Airnav Indonesia Yohannes Sirait, Senin (8/10).

Dia menambahkan, Direktur Utama Airnav Indonesia Novie Riyanto menugaskan langsung Direktur Teknik Ahmad Aulia untuk memimpin langsung tim dan memastikan mobile tower segera beroperasi. Titik lokasi pemasangan ditentukan di dekat bangunan tower yang lama.

Tim kemudian menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan seperti jaringan power supply dan jaringan telepon, kemudian menaikkan kabin tower sesuai ketinggian yang dibutuhkan. "Karena berada di lokasi gempa dilakukan juga test kestabilan kabin," terang Yohannes.

Tahapan selanjutnya adalah melakukan penyesuaian frekuensi, seperti frequency tower saat ini, uji coba jangkauan peralatan VHF yang ada di kabin, serta memasang fasilitas komunikasi ground to ground untuk koordinasi. Menurut Yohannes, seluruh proses pemasangan ini dilakukan ekstra hati-hati sebab tidak boleh mengganggu operasional tower darurat yang beroperasi 24 jam.

"Tahap paling akhir adalah melakukan uji coba operasional. Setelah melakukan serangkaian uji coba, pelayanan navigasi akhirnya dipindah ke mobile tower mulai Senin (8/10) pagi," imbuh Yohannes.

Dia melanjutkan, pelayanan melalui mobile tower ini memiliki keunggulan dari tower darurat sebelumnya. Dilengkapi sejumlah peralatan canggih, jangkauan radio VHF di atas 100 nautical mile (NM) yang membuat jangkauan komunikasi lebih luas sehingga mempercepat komunikasi tower dengan pesawat.

Untuk petugas pemandu navigasi, mobile tower ini juga lebih bersahabat. Dimensi kabin dengan panjang 6,058 m, lebar 2,438 m, dan tinggi 2,438 m membuat ruang gerak petugas lebih leluasa. Selain itu, kabin juga dilengkapi dengan fasilitas lampu penerangan, control desk, head set/hand mike, recorder, signal light gun, emergency lamp serta pendingin ruangan.

Hal ini dibutuhkan agar air traffic controller (ATC) dapat konsentrasi sepenuhnya dalam melayani penerbangan, mengingat kepadatan penerbangan di Bandara Palu yang meningkat sangat signifikan.

"Sebelum bencana, setiap harinya maksimal hanya ada 35 penerbangan yang dilayani. Namun saat ini setiap harinya hampir 200 penerbangan dari dan ke Palu yang dilayani oleh Airnav Indonesia," ungkap Yohannes.

Beroperasinya mobile tower ini, sebut Yohannes, merupakan bentuk komitmen Airnav Indonesia dalam upaya pemulihan pascagempa dan tsunami di Palu. Saat Gempa terjadi pada Jumat (28/9), tower Airnav di Bandara Palu roboh dan sejumlah peralatan navigasi mengalami kerusakan. Bahkan seorang personel navigasi penerbangan, Antonius Gunawan Agung, turut gugur dalam gempa tersebut. Meski demikian, Airnav tetap bekerja memastikan bandara Palu dapat dibuka kembali. (*)



Selengkapnya
 
MORE STORIES