Penertiban KJA di Waduk Jatiluhur Harus Ditingkatkan i

Dirut PJT II Djoko Saputro (kanan) bersama Ketua IKAL PPSA Group XXI Komjen (Pur) Arif Wachjunadi (kiri). (Sumber: Investor Daily/Gora Kunjana)

Oleh : L Gora Kunjana / GOR | Senin, 22 Oktober 2018 | 23:03 WIB

PURWAKARTA- Penertiban Karamba Jaring Apung (KJA) di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat harus ditingkatkan, agar kemampuan danau untuk menerima pencemaran akibat sisa pakan yang tidak termakan ikan tetap terjaga.

Demikian dikemukakan Dirut Perum Jasa Tirta (PJT) II Djoko Saputro di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Senin (22/10), usai menerima kunjungan Ikatan Alumni Lemhannas (IKAL) Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXI yang terdiri dari Komjen Pol (Pur) Arif Wachjunadi - Ketua IKAL PPSA Group XXI, Mayjen TNI Ilyas Alamsyah, Lily Wasitova, Caturida Meiwanto Doktoralina, dan AM Putut Prabantoro.

“Sebanyak 2.500 lebih KJA sudah ditertibkan Satgas Penertiban KJA di Waduk Jatiluhur dari pertengahan April 2017 hingga Oktober 2018. Tapi ini masih kurang banyak. Kami harapkan intensitas penertiban bisa ditingkatkan lagi," kata Djoko Saputro.

Dijelaskan Djoko, sebelum dilakukan penertiban oleh Satgas --yang terdiri dari Pemkab Purwakarta, Dandim, Kapolres, Kajari, dan PJT II-- ada 30 ribu lebih KJA di Waduk Jatiluhur. Jumlah tersebut di atas kemampuan danau untuk menerima pencemaran akibat sisa pakan yang tidak termakan ikan. Bahkan di musim kemarau tingkat kontaminasi air bertambah tinggi seiring menyusutnya tinggi muka air danau.

"Pencemaran membuat air bersifat sangat asam. Sudah kami teliti karena sangat asam, tingkat korosivitas yang dihasilkan juga sangat tinggi. Itu dari sisa-sisa pakan yang tidak termakan ikan yang jumlahnya ratusan ton yang masuk ke danau setiap harinya," jelas Djoko Saputro.

Ia menegaskan KJA tidak ramah lingkungan. Awalnya KJA sangat memberikan manfaat, namun lama kelamaan air menjadi tercemar. Kini, pencemaran yang terjadi di Waduk Jatiluhur akibat KJA sudah menimbulkan kerusakan cukup tinggi.

"Udara di area PLTA sangat pekat, bau asamnya tinggi sekali. Kesehatan para operator terancam. Hampir setiap hari (peralatan PLTA) disiram air bersih biar tidak korosi. Biaya operasional jadi bertambah," katanya.

Djoko mengingatkan bahwa air di Waduk Jatiluhur memasok 80% kebutuhan air baku Jakarta. “Bisa dibayangkan jika pasokan ke Jakarta terganggu dan kualitas airnya sangat buruk. Tentu biaya operasional membersihkan air di Jakarta akan sangat mahal," sambung dia.

Manfaat untuk negeri
Terkait aksi demo menolak penertiban KJA yang dilakukan sejumlah pihak, Djoko mengimbau untuk melihat persoalan dengan jernih dan holistik. Ia mensinyalir reaksi negatif terhadap upaya pengembalian kualitas air Jatiluhur menjadi lebih baik dan jauh lebih sehat datang dari oknum pengusaha pakan dan benih.

“Kalau hari ini kita menghadapi penolakan, kita lihat mana yang lebih memberikan manfaat untuk negeri ini. Saat ini yang perlu dilihat adalah kondisi lingkungan dan perekonomian masyarakat lokal yang harus ditingkatkan," tegasnya.

Lebih jauh Djoko menjelaskan bahwa PJT II berkomitmen meningkatkan perekonomian masyarakat sekaligus menjaga lingkungan dan kualitas air Waduk Jatiluhur.

Hal itu dilakukan antara lain melalui program Culture Based Fisheries (CBF), atau program pengelolaan sumber daya ikan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

"Kami perkenalkan progam CBF kepada masyarakat lokal agar mereka benar-benar mendapat penghidupan, bukan sekadar menjadi buruh. Program ini kita harapkan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan di lain sisi masyarakat merasa memiliki lingkungan," pungkasnya. (*)



Selengkapnya
 
MORE STORIES