Airnav Denpasar Targetkan Layani 35 Penerbangan Per Jam di Bandara Ngurah Rai i

General Manager Airnav Indonesia Cabang Denpasar Rosedi (kiri) dan Manajer Perencanaan dan Evaluasi Operasi Airnav Indonesia Cabang Denpasar I Gede Cakra Warsita (kanan) memaparkan operasional Airnav Indonesia Cabang Denpasar kepada wartawan di kantor Airnav Cabang Denpasar, Bali, Kamis (22 November 2018).

Oleh : Nurjoni / GOR | Jumat, 23 November 2018 | 10:27 WIB

DENPASAR -- Air Navigasi (Airnav) Indonesia Cabang Denpasar, Bali, berupaya meningkatkan kapasitas layanan navigasi di Bandara Ngurah Rai Denpasar menjadi 35 slot time penerbangan (kedatangan dan keberangkatan) per jam pada tahun depan dari saat ini 30 penerbangan per jam.

General Manager Airnav Indonesia Cabang Denpasar Rosedi mengatakan, peningkatan layanan navigasi itu sejalan dengan keberadaan menara (tower) air traffic control (ATC) baru di Bandara Ngurah Rai yang telah dioperasikan penuh sejak 1 September 2018 untuk mendukung pelaksanaan pertemuan tahunan IMF-World Bank pada awal Oktober lalu.

"Komitmen memberikan pelayanan navigasi terbaik sudah menjadi misi kami dan kami harus lebih baik dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Airnav Indonesia memberikan pelayanan navigasi sesuai standar internasional," ujar Rosedi kepada wartawan di kantor Airnav Indonesia Cabang Denpasar, Bali, Kamis (22/11).

Menurut dia, peningkatan layanan navigasi tersebut mengantisipasi trafik pergerakan pesawat (traffic movement) di Bandara Ngurah Rai yang terus meningkat rata-rata 10% per tahun. "Pada tahun 2016 trafik pergerakan pesawat sebanyak 139.287 dan meningkat di tahun 2017 menjadi 147.256. Sedangkan hingga Oktober tahun ini sudah tercatat 135.721 trafik pergerakan pesawat," jelas dia.

Menurut dia, maskapai penerbangan yang beroperasi di Bandara Ngurah Rai sebanyak 32 maskapai internasional dan 9 maskapai domestik. Hingga September 2018, komposisi penerbangan di Bandara Ngurah Rai sebanyak 55.118 penerbangan internasional (46%) dan 65.943 penerbangan domestik (54%).

Saat ini, kata Rosedi, di Indonesia ada 680 bandara aktif, namun baru 286 bandara yang dilayani Airnav. Sementara satu cabang Airnav bisa melayani banyak bandara. Contohnya Airnav Cabang Denpasar. Selain melayani Bandara Ngurah Rai, juga membawahi operasional navigasi bandara Labuan Bajo (Manggatai Barat), Waingapu (Sumba Timur), dan Tambolaka (Sumba Barat Daya).

Di tempat yang sama, Manajer Perencanaan dan Evaluasi Operasi AirNav Indonesia Cabang Denpasar I Gede Cakra Warsita mengungkapkan, untuk mendukung peningkatan layanan navigasi, pihaknya mendapatkan tambahan sumber daya manusia (SDM) sebanyak 6 orang ATC dan 5 orang teknisi. "Saat ini total SDM di Airnav Denpasar sebanyak 180 orang," ujar dia.

Selain itu, lanjut Gede Cakra, peningkatan layanan navigasi di Bandara Ngurah Rai juga akan didukung rencana penambahan landasan pacu (runway) 400 meter dari saat ini 3.000 meter dan pembuatan rapid taxi way yang saat ini 90 derajat menjadi 30 derajat oleh pihak Angkasa Pura I untuk mempercepat pergerakan pesawat menuju apron.

Tower ATC Baru
Di sisi lain, Rosedi mengatakan, tower baru berada di selatan runway untuk menggantikan peran tower lama di Bandara Ngurah Rai yang telah beroperasi sejak 1991.

"Tower baru ini tingginya 39 meter dan memiliki delapan lantai. Tower baru bisa melihat 360 derajat, kalau tower lama sudah tidak bisa, karena terhalang gedung terminal baru yang ada di Ngurah Rai. Dengan pandangan 360 derajat, tower baru dapat menjangkau seluruh wilayah apron bandara," kata Rosedi.

Selain itu, tower baru sudah dilengkapi peralatan terbaru, seperti AWOS (Automated Weather Observing System) dan client radar untuk memberikan akurasi informasi data cuaca, Lidar (light detection and ranging) untuk memantau sebaran abu vulkanik sejauh 20 km, wind profiler untuk mendeteksi potensi angin kencang, serta teknologi canggih airfield lighting (AFL) untuk menyalakan listrik runway dengan touch screen.

Menurut Gede Cakra, dalam pengoperasian Lidar, pihaknya berkoordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Dengan adanya Lidar, lanjut dia, pergerakan dan ketebalan abu vulkanik akan bisa diketahui dengan cepat dan akurat sehingga dapat dipergunakan sebagai informasi dalam pengambilan keputusan untuk penutupan bandara atau tetap beroperasi.

Sebagai informasi, Bandara Ngurah Rai pernah ditutup akibat abu vulkanik dari letusan Gunung Agung membahayakan keselamatan penerbangan pesawat dari dan menuju bandara tersebut. (*)



Selengkapnya
 
MORE STORIES