Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Edy Tuhirman, Direktur Utama PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia dalam Economy Outlook 2022  sesi Akselerasi Digitalisasi untuk Mendorong Penetrasi Asuransi yang digelar Beritasatu Media Holding (BSMH), Senin (22/11/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Edy Tuhirman, Direktur Utama PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia dalam Economy Outlook 2022 sesi Akselerasi Digitalisasi untuk Mendorong Penetrasi Asuransi yang digelar Beritasatu Media Holding (BSMH), Senin (22/11/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

BERBALIK POSITIF,

Premi Bruto Asuransi Jiwa Tumbuh 17% di Kuartal III-2021

Senin, 22 November 2021 | 20:39 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Premi bruto (gross written premium/GWP) asuransi jiwa tumbuh sebesar 17% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 149,41 triliun di kuartal III-2021. Peningkatan utamanya disokong dari premi bisnis baru (new business premium/NBP).

Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), premi bruto asuransi jiwa sempat susut sebesar 7% (yoy) di kuartal III-2020 dari Rp 143,7 triliun menjadi Rp 133,99 triliun. Nilai itu kemudian berbalik tumbuh 17% (yoy) menjadi Rp 149,41 triliun pada kuartal III-2021.

Perbaikan itu ditopang dari perolehan premi bisnis baru juga berbalik tumbuh positif, setelah sempat turun 11% (yoy) pada kuartal III-2020 dari Rp 89,98 triliun menjadi Rp 80,12 triliun. Sedangkan di kuartal III-2021 premi bisnis baru melesat 18% (yoy) menjadi Rp 94,26 triliun.

"Memang penetrasi asuransi masih rendah dan menjadi tantangan. Kita di kuartal III-2020 dibanding periode sama tahun sebelumnya, GWP asuransi jiwa terjadi penurunan 7% (yoy). Tetapi tahun ini industri asuransi jiwa telah kembali di kuartal III-2021 menjadi (sekitar) Rp 150 triliun tapi memang harus diakui industri ini masih kecil jika dibandingkan dengan perbankan," papar Ketua Bidang R&D, Pelaporan dan IT Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Edy Tuhirman pada diskusi virtual dengan tema Kebangkitan Sektor Keuangan di acara Beritasatu Outlook 2022, Senin (22/11).

Ketua Bidang R&D, Pelaporan dan IT Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Edy Tuhirman pada diskusi virtual dengan tema Kebangkitan Sektor Keuangan di acara Beritasatu Outlook 2022, Senin (22/11). Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto
Ketua Bidang R&D, Pelaporan dan IT Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Edy Tuhirman pada diskusi virtual dengan tema Kebangkitan Sektor Keuangan di acara Beritasatu Outlook 2022, Senin (22/11). Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Dia mengungkapkan, peningkatan premi juga didorong meningkatnya kesadaran (awareness) masyarakat akan pentingnya asuransi, sebagai dampak pandemi. Apalagi, data menunjukkan bahwa klaim atas risiko meninggal dunia meningkat dua kali lipat yang juga menggambarkan bahwa risiko masih sangat tinggi.

Klaim atas risiko meninggal dunia yang dibayarkan perusahaan asuransi jiwa pada tahun 2020 hanya sebesar Rp 7,7 triliun. Nilai itu meningkat hampir dua kali lipat meskipun baru sampai kuartal III-2021 menjadi Rp 12,7 triliun, dipengaruhi puncak Covid-19 pada Juli 2021.

Selain itu, bentuk komitmen juga ditunjukkan industri asuransi jiwa melalui klaim yang dibayarkan terhadap polis asuransi kesehatan. Di 2020, klaim asuransi kesehatan sempat susut 6% dari Rp 7,7 triliun menjadi Rp 7,3 triliun. Hal itu ditengarai karena masyarakat enggan untuk ke rumah sakit. Tapi klaim tersebut mulai meningkat menjadi Rp 7,7 triliun hingga kuartal III-2021.

Melihat situasi pandemi yang mulai terkendali, klaim atas asuransi kesehatan dan asuransi meninggal dunia kini relatif menunjukkan penurunan. Kabar positif untuk neraca keuangan perusahaan asuransi itu pun diikuti dengan perbaikan produksi premi.

"Prospek ke depan sangat menarik, harapan kita di tahun 2022 nanti sudah kembali. Namun demikian, nasabah juga sudah terbiasa dengan digital. Maka kita harus terbiasa dengan dua proses yakni secara offline dan online. Apalagi minat untuk berasuransi itu tumbuh, baik asuransi jiwa maupun asuransi umum. Kami sangat optimis akan prospek industri ini," beber dia.

Edy Tuhirman yang juga menjabat CEO Generali Indonesia menyampaikan, pihaknya bergerak cepat untuk memastikan pelayanan bisa tetap dilakukan meskipun aktivitas dibatasi oleh pandemi. Hal pertama yang dilakukan adalah memastikan para karyawan aman dan sehat untuk mempercepat proses digitalisasi secara end-to-end.

"Meski sedikit merepotkan tapi harus diselesaikan para karyawan di rumah. Seluruh pelayanan saat pandemi dilakukan dari rumah. Perusahaan akhirnya bisa melakukan itu secara menyeluruh," kata dia.

Dia menambahkan, pihaknya hanya memiliki satu cabang yakni di Jakarta sehingga proses bisnis harus bisa dilakukan secara digital agar mampu melayani seluruh wilayah di Indonesia. Agen Generali Indonesia misalnya, kini turut dibekali aplikasi untuk menjual produk asuransi secara digital. Dari sisi nasabah pun demikian, tersedia aplikasi untuk membeli asuransi secara digital.

"Dengan begitu, pembayaran premi, perubahan polis, sampai klaim bisa dilakukan melalui aplikasi mobile. Kita juga masuk ke segmen milenial melalui dua aplikasi. Pertama, aplikasi wakaf untuk berbagi dan disambut baik. Ada nasabah milenial yang ingin membeli asuransi langsung secara mandiri juga bisa melalui platform digital. Kita siapkan berbagai kanal untuk memastikan semua kebutuhan terpenuhi, baik dari sisi nasabah atau dari sisi agen," jelas Edy.

Generali Indonesia, lanjut dia, telah menyiapkan aplikasi Dokter Leo untuk nasabah melakukan konsultasi medis. Melihat saat ini masih ada sebagian nasabah yang enggan untuk pergi ke rumah sakit memeriksa kesehatannya. Aplikasi itupun memungkinkan untuk nasabah menerima obat sampai ke rumah. Berikutnya, aktivitas seminar kesehatan yang sebelumnya masif dilakukan secara offline kini dilakukan secara online.

Dari sisi investasi, Edy memaparkan tiga keluhan pada investasi di unit link yaitu informasi dan pengetahun, waktu untuk monitor, dan disiplin tanpa emotional involvement. Dari tiga permasalahan itu, Generali Indonesia pun menghadirkan robot investasi untuk. Sejak layanan itu diperkenalkan, tahun lalu perusahaan membukukan profit terbaik sejak dilahirkan 13 tahun lalu, dengan risk based capital (RBC) sebesar 475%.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN