Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fankar Umran, Direktur Utama PT BRI Insurance dalam Economy Outlook 2022  sesi Akselerasi Digitalisasi untuk Mendorong Penetrasi Asuransi Umum yang digelar Beritasatu Media Holding (BSMH), Senin (22/11/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Fankar Umran, Direktur Utama PT BRI Insurance dalam Economy Outlook 2022 sesi Akselerasi Digitalisasi untuk Mendorong Penetrasi Asuransi Umum yang digelar Beritasatu Media Holding (BSMH), Senin (22/11/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

ECONOMIC OUTLOOK 2022

BRI Insurance Soroti Peluang Proteksi Bisnis Pelaku UMKM

Senin, 22 November 2021 | 22:04 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -- PT BRI Asuransi Indonesia (BRI Insurance/BRINS) menyoroti tantangan sekaligus peluang untuk melakukan penetrasi proteksi asuransi terhadap bisnis para pelaku UMKM. Dari 65 juta pelaku UMKM, baru sebanyak 10% yang terproteksi asuransi mikro.

Direktur Utama BRI Insurance Fankar Umran menyampaikan, keberlangsungan suatu usaha selalu dihadapkan dengan berbagai risiko. Sekalipun bisnis didorong dengan pertumbuhan ekonomi yang baik, tapi akan terganggu jika bisnis terpapar dengan risiko. Selain proteksi atas pembiayaan, pelaku usaha mesti memberi perlindungan asuransi atas bisnisnya.

"Pilar proteksi menjadi penting ketika bisnis sedang bertumbuh dan ada pembiayaan yang menunjukkan perkembangan. Tapi tetap ada risiko terhadap kelangsungan usaha, di sanalah bisa terjadi masalah, khususnya bagi mereka yang berusaha pada bidang-bidang UMKM. Karena mereka tidak banyak memiliki kesadaran, dana cadangan yang cukup, juga karena literasi kurang," kata Fankar pada sesi diskusi virtual dengan tema “Kebangkitan Sektor Keuangan” pada acara Economic Outlook 2022 yang digelar Beritasatu Media Holdings (BSMH), Senin (22/11).

Apalagi, kata dia, salah satu eksposur dari tantangan saat ini adalah adanya risiko perubahan iklim. Faktor eksternal tidak selalu datang dari aspek politik, ekonomi, dan sosial, kemudian luput akan isu lingkungan. Padahal, setidaknya ada lima risiko terhadap perubahan iklim seperti cuaca ekstrem, diikuti climate action failure, human environmental damage, lalu ada penyebaran infeksi, dan biodiversity loss.

"Climate change itu perlu kita waspadai. Bahkan kalau melihat data dari BMKG, sudah 2.208 bencana sepanjang 2021 sampai dengan Oktober. Bencana yang paling tinggi itu adalah banjir, kemudian puting beliung. Ini kita memang kurang sadari, hubungannya dengan usaha, ini sangat berdampak pada usaha kecil khususnya yang berada di dalam wilayah banjir," kata Fankar.

Pelaku usaha, khususnya UMKM, sejatinya rentan dan butuh proteksi. UMKM menyumbang 61% terhadap PDB dan menyerap tenaga kerja hingga 97%. Namun banyak yang belum menganggap penting proteksi terhadap usaha mereka, yang nyatanya sulit untuk bangkit saat terpapar risiko.

"Mereka sulit bangkit karena tidak punya cadangan untuk me-recovery usahanya secara mandiri. Belum lagi kalau mereka punya kewajiban perbankan atau kewajiban pembiayaan, sementara sumber usaha sudah tidak ada karena adanya risiko," jelas Fankar.

Oleh karena itu, potensi besar bagi asuransi umum untuk menggarap sektor tersebut, sekaligus dalam rangka mendukung ketahanan ekonomi nasional. Karena ada 65 juta pengusaha usaha kecil di Indonesia tapi pemilik asuransi mikro baru mencakup 10%. "Sehingga potensi untuk masuk untuk penetrasi dan membangun literasi masih sangat besar," imbuh dia.

Berikutnya, kata Fankar, inklusivitas asuransi faktanya masih kecil yakni di angka 13% berdasarkan data OJK. Dibandingkan dengan inklusi keuangan yang sudah 76% maka jaraknya sangat jauh dan tidak sebanding. Ada tantangan sekaligus potensi besar bagi pelaku di industri asuransi untuk kolaborasi serta meningkatkan produksi.

Walaupun potensi besar, pelaku asuransi juga dihadapkan dengan tantangan untuk menjangkau para pelaku usaha kecil yang tersebar di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, penetrasi yang paling memungkinkan adalah melalui kanal digital secara masif.

"Tapi harus ingat, asuransi tidak bisa berjalan satu sisi saja, paling tidak harus dijalankan hybrid, model konvensional tidak bisa ditinggalkan. Banyak orang yang masih butuh sentuhan secara langsung," beber Fankar.

4 Model Penetrasi

Melihat fenomena itu, dia memaparkan, ada empat model untuk bisa melakukan penetrasi secara masif dan efektif. Pertama adalah skema D2C (direct to customers) yaitu membuat aplikasi untuk kalangan digital native. Karena model pertama memiliki keterbatasan, maka perlu model kedua yaitu B2B (business to business). Model ini merupakan kerja sama dengan institusi yang memiliki kanal supply chain memadai dengan UMKM, termasuk kerja sama melalui API untuk proses bisnis yang lebih efektif.

Ketiga adalah model B2B2C atau business to business to customers. Ketika model pertama dan kedua berjalan tapi belum maksimal, model ini memungkinkan menjangkau melalui kanal digital dan diteruskan dengan cara konvensional melalui kehadiran agen. Misalnya adalah agen bank yang kini menggunakan fasilitas digital tapi tetap menjangkau konsumen secara konvensional.

"Di Indonesia saat ini ada sekitar 2 juta agen bank. Kalau mereka mengakselerasi masing-masing 100 orang di lingkungannya, itu bisa kita hitung sendiri berapa banyak nasabah baru asuransi, peningkatan inklusi keuangan?" ujar Fankar.

Sedangkan model keempat yaitu memperbaiki proses bisnis masing-masing perusahaan asuransi umum supaya tidak tersendat ketika model yang sudah ada diterapkan. Revitalisasi proses bisnis dapat dilakukan secara digital sebagai proses pendukung aktivitas bisnis.

"Asuransi umum benteng pertahanan pelaku usaha menuju ketahanan ekonomi nasional. Maka asuransi umum harus terus meningkatkan kolaborasi untuk meningkatkan ketahanan nasional," ucap Fankar.

Dia menambahkan, BRI Insurance optimistis kinerja akan semakin baik seiring dengan kredit perbankan dan situasi perekonomian di masa mendatang yang diproyeksi bergerak positif. Sampai saat ini, BRI Insurance mencatat telah menjangkau sebanyak 8 juta nasabah.


 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN