Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas mengecek suhu karyawan di kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) di Jakarta, beberap waktu lalu. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Petugas mengecek suhu karyawan di kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) di Jakarta, beberap waktu lalu. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

2022, Premi Asuransi Jiwa Diproyeksi Tumbuh Double Digit

Selasa, 30 November 2021 | 07:00 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Premi industri asuransi jiwa diproyeksi tumbuh double digit di tahun 2022. Sampai dengan Oktober 2021, asuransi jiwa membukukan pertumbuhan pendapatan premi sebesar 7,89% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi sebesar Rp 150,53 triliun.

Ketua Bidang Aktuaria, Produk & Risk Management Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Fauzi Arfan menyampaikan, industri asuransi jiwa berpandangan optimis bahwa situasi akan terus membaik. Terutama pada akhir tahun 2021 sejalan dengan mulai diberikannya vaksin Covid-19 di awal tahun ini.

"Dengan tetap berhati-hati dalam menjalankan bisnis, industri asuransi jiwa juga melihat bahwa perkembangan industri asuransi jiwa membaik, dengan melihat beberapa faktor. Salah satunya pendapatan premi asuransi jiwa sampai dengan Oktober 2021 mengalami pertumbuhan sebesar 7,89% (yoy) menjadi sebesar Rp 150,35 triliun, berdasarkan data OJK," kata Fauzi kepada Investor Daily, Senin (29/11).

OJK. Foto: ojk.go.id
OJK. Foto: ojk.go.id

Statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun menerangkan bahwa perolehan premi cenderung stabil secara bulanan. Pada periode Agustus-Oktober 2021, industri asuransi jiwa berhasil meraup premi masing-masing sebesar Rp 13,6 triliun, Rp 15,1 triliun, dan 14,1 triliun.

Dia menerangkan, seiring dengan arus rebound yang mulai terlihat, hal positif dari pandemi Covid-19 adalah meningkatnya awareness masyarakat akan pentingnya perlindungan asuransi jiwa di tengah berbagai ketidakpastian yang semakin meningkat. Pihaknya juga melihat pergerakan perekonomian ke depan akan semakin kondusif.

"Kami memperkirakan bahwa permintaan asuransi akan mendapat manfaat dari momentum pertumbuhan di masa depan, tetapi inflasi global, dan munculnya varian-varian baru Covid-19 tetap menjadi perhatian. Ketika pemerintah berupaya membuka kembali ekonomi mereka, respons kebijakan yang optimal harus mengatasi risiko jangka panjang sehingga mendorong pemulihan yang berkelanjutan," jelas Fauzi.

Dia menerangkan, target AAJI salah satunya adalah kesadaran berasuransi masyarakat yang perlu dibangun sedini mungkin. Utamanya agar 10-20 tahun mendatang, tercipta masyarakat Indonesia yang lebih sadar akan pentingnya proteksi asuransi, perencanaan keuangan dan jasa/layanan keuangan lainnya.

Dengan sejumlah faktor dan upaya tersebut, AAJI pun memproyeksi premi bisa meningkat signifikan di tahun mendatang. "Estimasinya double digit growth. Tahun depan (2022) ya," demikian beber Fauzi.

AAJI berharap bisa diberikan kebijakan insentif pajak (tax incentive) seperti di negara-negara lain agar densitas dan penetrasi industri asuransi jiwa di Indonesia bisa tumbuh menjadi lebih baik. Hal itu akan diikuti tiga pilar target atas peta jalan industri asuransi jiwa.

Pertama yakni pengembangan produk dan layanan asuransi jiwa berkelas dunia dengan mengedepankan customer centricity, customer protection, dan digital experience. Pilar kedua, peningkatan operational excellence industri asuransi jiwa melalui penguatan tata kelola dan manajemen risiko. Sedangkan pilar tiga adalah penguatan permodalan dan portofolio investasi.

Dihubungi terpisah, Direktur Utama PT Asuransi BRI Life (BRILife) Iwan Pasila menyampaikan, kinerja bisnis perusahaan terus meningkat sejak tahun lalu meskipun industri asuransi jiwa sempat mengalami kontraksi. Sampai dengan Oktober 2021, total pendapatan premi bruto tumbuh 12% (yoy) atau menjadi Rp 5,5 triliun.

Pihaknya terus berupaya mendorong momentum saat ini agar hasil yang diperoleh di akhir tahun bisa sesuai dengan yang diharapkan. Pencapain sekarang juga menjadi landasan perusahan untuk mencapai target pertumbuhan yang signifikan di tahun 2022.

"Untuk proyeksi 2022 tidak bisa saya sampaikan, namun kami ingin bertumbuh signifikan di atas rata-rata perusahaan asuransi jiwa karena target kami untuk membesarkan pangsa pasar. Kami akan terus fokus mendorong penetrasi yang lebih dalam di seluruh nasabah BRI dengan memanfaatkan teknologi untuk mendorong efektivitas dan efisiensi," kata Iwan.

Dia mengungkapkan, kini pihaknya telah merencanakan strategi untuk terus mendorong produk berbasis proteksi untuk dipasarkan dengan lebih intensif di seluruh segmen nasabah-nasabah BRI. Perusahaan turut menyiapkan produk-produk untuk memenuhi kebutuhan nasabah retail dan prioritas (private), dengan melakukan bundled products guna memenuhi kebutuhan proteksi nasabah.

Edy Tuhirman, Direktur Utama PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia dalam Economy Outlook 2022  sesi Akselerasi Digitalisasi untuk Mendorong Penetrasi Asuransi yang digelar Beritasatu Media Holding (BSMH), Senin (22/11/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Rosa
Edy Tuhirman, Direktur Utama PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia  Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Sementara itu, CEO Generali Indonesia Edy Tuhirman mengungkapkan, bisnis Generali tahun 2021 masih menunjukkan pertumbuhan yang positif. Hingga kuartal III-2021 premi dicatatkan sebesar lebih dari Rp 2,2 triliun dan aset meningkat sebesar 16% menjadi lebih dari Rp 7,7 triliun.

Dia menerangkan, pencapaian itu menunjukkan semakin bertumbuhnya kepercayaan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya proteksi asuransi. "Untuk menutup tahun 2021, kami optimis pertumbuhan akan terus berjalan, karena kita bisa liat bersama, pandemi sudah jauh mereda, ekonomi sudah bertumbuh, dan iklim investasi juga terus membaik," kata Edy.

Edy juga mengatakan, proyeksi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, berikut hybrid working terbukti efektif meningkatkan produktivitas yang bisa memicu pertumbuhan dan yang terpenting kesadaran orang akan pentingnya proteksi juga semakin tumbuh. Melalui sejumlah faktor tersebut, pihaknya juga optimistis industri asuransi jiwa mampu mencatatkan pertumbuhan bisnis di akhir tahun ini.

Adapun untuk tahun 2022, sebagai bagian dari perusahaan terbuka (public listed) di Milan, Italia, pihaknya memang belum bisa menyampaikan target bisnis secara spesifik. Sebaliknya, Generali tentu berharap dapat memberi proteksi asuransi ke lebih banyak orang.

"Pandemi telah mengajarkan kita bahwa risiko hidup pasti selalu ada, dan memiliki proteksi jiwa dan kesehatan merupakan langkah penting untuk meminimalisir risiko finansial yang mungkin terjadi. Untuk mencapai hal tersebut, kebutuhan nasabah akan terus menjadi fokus kami. Inovasi produk dan layanan juga akan terus hadir untuk bisa menjawab pain point nasabah serta memberikan nilai tambah bagi nasabah," jelas Edy.

Dalam strateginya, Generali selalu berupaya memberi pelayanan komprehensif diseluruh customer journey-nya, baik dari sisi pre-sales, sales sampai after sales. Hal itu selaras dengan visi untuk perusahaan menjadi lifetime partner bagi nasabah.

"Seluruh langkah dari mulai dari konsultasi dengan tenaga pemasar, penawaran produk hingga customer experience menjadi perhatian kami. Tidak hanya fokus pada pelayanan, kami juga memberikan value added bagi nasabah agar mereka bisa lebih mudah menjaga kesehatan," tandas Edy.

Tantangan 2022

Jajaran Pejabat Eksekutif PT Asuransi BRI Life pada acara Media Gathering di Jakarta, Selasa (26/10). Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto
Jajaran Pejabat Eksekutif PT Asuransi BRI Life.  Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Di sisi lain, Iwan mengatakan, tantangan besar di tahun 2022 adalah kondisi perekonomian yang belum stabil pasca Covid-19, sehingga hal itu akan mempengaruhi daya beli masyarakat dan mempengaruhi potensi tenaga pemasar untuk dapat menemui nasabah secara face-to-face.

Selain itu, kata dia, ketersediaan aset sebagai pemenuhan kewajiban menjadi tantangan tersendiri. "Hal lain adalah dari sisi ketersediaan asset yang dapat memenuhi kewajiban kami kepada nasabah baik dalam jangka pendek, maupun jangka menengah dan jangka panjang," imbuh Iwan.

Dia memaparkan, BRILife tetap mendorong inisiatif untuk meningkatkan kualitas pemasaran, meliputi standarisasi kompetensi tenaga pemasar, standarisasi tools pemasaran yang digunakan, dan standarisasi proses dalam memasarkan produk asuransi. Di sisi layanan nasabah, perseroan pun terus berbenah untuk melakukan digitalisasi proses dan mendorong digitasi dokumen, untuk mempercepat proses pelayanan nasabah dengan tetap mengedepankan akurasi dan efisiensi.

"Semua inisiatif ini kami satukan dalam inisiatif strategis untuk melakukan transformasi digital. Kami juga terus berupaya untuk memastikan orang-orang yang akan melakukan semua inisiatif strategis ini memiliki kemampuan dan budaya yang memadai, dan hal ini kami satukan dalam inisiatif strategis untuk melakukan transformasi budaya. Hal lain yang terus kami upayakan adalah ketersediaan infrastruktur IT yang memadai dengan tingkat security yang memadai," tandas dia.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN