Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama merangkap Direktur Operasional Asabri

Direktur Utama merangkap Direktur Operasional Asabri

Asabri Proyeksikan Ekuitas Positif Rp 136 Miliar

Rabu, 26 Januari 2022 | 12:08 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Asabri (Persero) membukukan perbaikan ekuitas dari minus Rp 13,3 triliun (audited) pada 2020, susut menjadi minus Rp 4,7 triliun (unaudited) per akhir 2021. Upaya penyehatan masih berlanjut melalui sejumlah strategi dan inisiatif, sehingga ekuitas diproyeksikan berbalik positif menjadi Rp 136 miliar pada akhir 2022.

Proyeksi ekuitas perseroan tersebut ditampilkan saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI dengan Asabri dan Taspen pada Selasa (25/1).

Pada kesempatan itu, Direktur Utama merangkap Direktur Operasional Asabri Wahyu Suparyono memastikanbahwa upaya penyehatan keuangan sampaisaat ini berjalan dengan baik.

“Posisi sampai dengan 31 Desember2021, ini masih unaudited dan pemeriksaan masih berjalan, tapi ekuitas sudah membaik. Dengan aset Rp 34 triliun yang dikelola, sekarang ini ekuitas sudah minus Rp 4,7 triliun (unaudited) dibandingkan akhir 2020 yang sebesar minus Rp 13,3 triliun (audited),” kata Wahyu, Selasa (25/1).

Dia menuturkan, perbaikan pada ekuitas tersebut ikut membuat rasio pencapaian solvabilitas membaik. Tahun 2020 solvabilitas Asabri tercatat -819%, lalu membaik menjadi -209% pada akhir 2021.

“Namun, nilai solvabilitas itu masih di bawah ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yakni 120%,” jelas dia.

Data yang ditampilkan Asabri dalam rapat tersebut menerangkan bahwa dengan ekuitas diproyeksi berbalik positif Rp 136 miliar pada akhir 2022, dan rasio solvabilitas baru akan mencapai 61%.

Dengan demikian, masih dibutuhkan dana sebesar Rp 1 triliun untuk mencukupi rasio solvabilitas sebesar 120%. Kebutuhan dana itu relatif kecil dibandingkan dua tahun sebelumnya, yakni masing-masing Rp 15,2 triliun dan Rp 4,6 triliun.

Untuk mencapai ekuitas positif, Asabri memproyeksikan mengelola total aset mencapai Rp 42,27 triliun, tumbuh 24,32% (yoy). Nilai itu diharapkan konsisten meningkat dibandingkan total aset pada 2021 sebesar Rp 34 triliun,tumbuh 9,40% (yoy).

Wahyu menuturkan, peningkatan aset pada 2021 dipengaruhi penurunan pencadangan teknis untuk pembayaran pensiun masa depan atau liabilitas manfaat polis masa depan (LMPMD) senilai Rp 8,7 triliun. Tercermin dari liabilitas Tabungan Hari Tua (THT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Jaminan Kematian (JKM) yang susut dari Rp 22,63 triliun menjadi Rp 13,96 triliun.

Sedangkan perbaikan ekuitas disokong dari peningkatan laba komprehensif yang naik Rp 8,6 triliun.

Untuk proyeksi tahun ini, pertumbuhan total aset akan ditopang dari pertumbuhan aset THT, JKK, dan JKM sebesar 55,12% (yoy) menjadi Rp 14,29 triliun. Lalu, aset akumulasi iuran pensiun (AIP) naik 13,05% (yoy) menjadi Rp 26,58 triliun. Selain itu, aset pembayaran pensiun meningkat14,42% (yoy) menjadi Rp 1,38 triliun.

Di sisi lain, liabilitas THT, JKK, danJKM pada 2022 diproyeksi sedikit naik 1,43% (yoy) menjadi Rp 14,16 triliun. Liabilitas AIP menjadi Rp 26,56 triliun atau tumbuh 12,79% (yoy), serta liabilitas pembayaran pensiun meningkat14,50% (yoy) menjadi Rp 1,38 triliun.

“Mudah-mudahan ini juga akan terkover dengan investasi yang akan mulai lagi melalui tata kelola yang baru, baik itu perizinan, anggaran dasar dengan  jumlah tertentu melalui komite. Saya kira tata kelola investasi, mohon maaf kalau pakai bahasa serampangan, sudah tidak bisa ugal-ugalan,” beber Wahyu.

Penyehatan Keuangan Berlanju

Wahyu juga menerangkan, beberapa strategi penyehatan yang disampaikan ke Komisi VI DPR pada 9 Juni 2021 telah tereksekusi dengan baik dan terus berlanjut, yakni perbaikan tata kelola Asabri termasuk perubahan anggaran dasar (AD) terkait kewenangan dewan komisaris dalam pelaksanaan investasi telah direalisasikan.

Saat ini dewan komisaris akan ikut mengawasi dan dimintakan persetujuan dengan nilai investasi tertentu. Strategi penyehatan berikutnya optimalisasi bisnis dan efisiensi biaya.

Dalam hal ini, Asabri bersinergi dengan Taspen seiring kolaborasi pada klaster BUMN asuransi sosial. Lalu, strategi penetapan bunga aktuaria khusus untuk tahun 2021 telah diputuskan Menteri Keuangan dan sedang dalam proses pembahasan untuk penetapan bunga aktuaria 2022.

Sejalan dengan perhitungan bunga aktuaria, hasil kajian Asabri dalam rangka penyehatan perusahaan ke depan dan agar berkesinambungan turut diusulkan kepada pemerintahv untuk segera melakukan penyesuaian premi program THT.

“Saya dan Pak Steve (Dirut Taspen) sudah mengirimkan surat kepada Menteri BUMN (Erick Thohir), dan Pak Menteri sudah meneruskan ke Menteri Keuangan untuk penyesuaian atau reformasi premi THT,” beber Wahyu.

Menurut dia, premi THT yang dibebankan pada peserta sebesar 3,25%, tapi besaran ideal adalah kisaran 4-5%. Wahyu berharap, besaran iuran premi THT bisa dibahas agar penyehatan keuangan berkesinambungan. Sebab, perseroan harus membukukan pencadangan yang lebih besar, akibatnya sisi underwriting terus tergerus cukup besar.

Selain itu, strategi penyehatan lainnya menyangkut adanya unfunded past service liability (UPSL) yang telah disetujui oleh Menteri Keuangan, termasuk metode dan perhitungannya. Kelanjutan mengenai UPSL diharapkan bisa diputuskan pada kuartal I-2022 senilai Rp 4,5 triliun, sehingga turut mendongkrak pencapaian rasio solvabilitas.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN