Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia pada acara Media Gathering di Bandung, Kamis (30/6). (Prisma Ardianto/Investor Daily)

Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia pada acara Media Gathering di Bandung, Kamis (30/6). (Prisma Ardianto/Investor Daily)

Penetrasi Setara Thailand, Aset Asuransi Jiwa Indonesia Bisa Capai Rp 3.000 Triliun

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:00 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

BANDUNG, investor.id - Tingkat penetrasi industri asuransi jiwa nasional berkutat di kisaran 1,2-1,4% dalam beberapa tahun belakangan. Besaran tersebut diharapkan tumbuh tiga kali lipat seperti Malaysia atau Thailand agar industri asuransi jiwa bisa lebih kontributif terhadap perekonomian nasional dengan potensi total aset mencapai Rp 3.000 triliun.

Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon menyampaikan, misi dan harapan industri tentu ingin semua penduduk bisa terproteksi asuransi jiwa. Namun demikian, penetrasi asuransi jiwa dari negara sekaliber Hongkong atau Jepang pun masih di bawah 20%.

"Seumpama penetrasi dan densitas kita ada di tingkat Malaysia atau Thailand saja, kita sempat simulasikan, harusnya hari ini total aset asuransi jiwa bisa sekitar Rp 2.500-3.000 triliun. Bisa dibayangkan kalau ada Rp 2.000 triliun tambahan untuk diinvestasikan, berapa banyak tambahan pelabuhan, bandara, jalan tol atau jembatan yang bisa didanai?" ungkap Budi di acara Media Gathering AAJI di Bandung, belum lama ini.

Baca juga: MDRT Bisa Menjadi Branding dan Role Model Tenaga Pemasar Asuransi

Dia mengatakan, pertumbuhan penetrasi asuransi jiwa akan seiring dengan meningkatnya ketahanan finansial keluarga Indonesia atas risiko sakit atau meninggal dunia. Lebih jauh lagi, tentu industri asuransi jiwa dapat berkontribusi kepada pertumbuhan ekonomi nasional.

"At the end of the day, kami percaya bisnis kami ini tidak hanya sekedar berbisnis, tapi juga menciptakan insan-insan Indonesia yang lebih tahan akan risiko keuangan dan lebih punya rencana masa depan lebih baik. Kami juga percaya, pada saatnya bisa mendukung sumber daya manusia yang ada untuk bisa lebih andal dan bersaing dengan negara-negara tetangga," kata Budi.

Mengacu data OJK yang dikutip AAJI, tingkat penetrasi asuransi jiwa Indonesia pada tahun 2020 terjaga di kisaran 1,2%. Sedangkan Thailand di level 3,4%, Malaysia sebesar 4%, Jepang 5,8%, Singapura 7,6%, dan Hongkong sebesar 19,2%. Indonesia bahkah tercatat paling bontot di bawah Vietnam 1,6% dan setara dengan Filipina 1,2%.

Advertisement

Baca juga: Asuransi Sinar Mas Bayarkan Klaim untuk BSSPKuartal I-2022, Ekuitas Reasuransi Menyusut 22%

Jika disandingkan dengan tingkat densitas, pada tahun 2020 Indonesia mencatat US$ 56. Sedangkan Thailand dan Malaysia masing-masing sebesar US$ 244 dan US$ 415. Adapun total aset industri asuransi jiwa pada kuartal I-2022 tumbuh 6,6% menjadi sebesar Rp 617,02 triliun.

Sementara itu, Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi AAJI Wiroyo Karsono mengatakan, asosiasi memang tidak mematok angka pasti untuk besaran penetrasi asuransi jiwa. Meski begitu, diharapkan Indonesia tidak terus tertinggal dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

"Penetrasi asuransi bisa dibilang kita masih yang paling rendah. Ini suatu potensi besar, kalau bisa mencapai seperti Thailand, dimana penetrasi dapat meningkat tiga kali lipat," ujar dia.

Baca juga: Sasar Pasar Ritel, Asuransi Kendaraan Bermotor dan E-Commerce Perkuat Sinergi

Menurut dia, salah satu akar masalahnya adalah tingkat literasi dan inklusi keuangan, khususnya terkait asuransi. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2019, indeks inklusi keuangan mencapai 76,19% dan indeks literasi keuangan mencapai 38,03%.

Pada survei yang sama, tingkat inklusi asuransi hanya 13,15% pada 2019, meski relatif naik dari tahun 2013 sebesar 11,80%. Menariknya, tingkat literasi sektor asuransi tercatat lebih tinggi sebesar 19,40% pada 2019, meningkat dibandingkan 17,80% pada tahun 2013.

"Ini peran semua stakeholders, AAJI sudah menempuh beberapa hal seperti mengajak beberapa perguruan tinggi untuk ikut memahami dan untuk juga meningkatkan awareness masyarakat tentang pentingnya berasuransi," jelas Wiroyo. 

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN