Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ogi Prastomiyono dalam konferensi pers yang dipantau secara daring di Jakarta, Rabu (20/07/2022). (ANTARA/Agatha Olivia Victoria)

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ogi Prastomiyono dalam konferensi pers yang dipantau secara daring di Jakarta, Rabu (20/07/2022). (ANTARA/Agatha Olivia Victoria)

Inflasi Gerus Perolehan Premi Asuransi Komersial

Kamis, 28 Juli 2022 | 20:09 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Akumulasi premi dari industri asuransi komersial turun 0,03% secara year on year (yoy) pada semester I-2022. Perolehan tersebut dinilai sebagai imbas dari pergerakan tingkat inflasi, tercermin pada kenaikan harga yang meluas sehingga membuat pola pengeluaran masyarakat lebih konservatif.

Kepala Eksekutif Pengawas IKNB sekaligus Anggota Dewan Komisioner OJK Ogi Prastomiyono menyampaikan bahwa upaya pemulihan ekonomi tidak berimbang dengan situasi geopolitik sehingga turut serta mempengaruhi sisi supply dan demand, termasuk kondisi perusahaan. Sebagai langkah antisipasi, otoritas moneter di sejumlah negara mulai mengimplementasikan kebijakan guna mengantisipasi risiko inflasi, termasuk diantaranya kebijakan meningkatkan suku bunga.


Dampaknya, beberapa lembaga dunia seperti World Bank merevisi pertumbuhan ekonomi global dari 4,1% yang diproyeksikan pada Januari 2022, menjadi hanya 2,9%. IMF bahkan dalam laporan pekan lalu memberikan proyeksi yang pesimis dengan judul "Global Economic Growth Slows Amid Gloomy and More Uncertain".

"Bagi sektor asuransi, dampak utama inflasi akan terlihat pada kenaikan biaya klaim, khususnya pada sektor asuransi umum. Potensi risiko inflasi yang tinggi juga dapat mempengaruhi penerimaan premi untuk new business karena pola pengeluaran masyarakat yang lebih konservatif," kata Ogi dalam seminar berjudul "Membangun Industri Keuangan Non Bank yang Sehat", Kamis (28/7).

Dia mengatakan, dampak kenaikan harga secara meluas juga akan dirasakan oleh pemegang polis, baik itu eksisting maupun yang akan datang. Sehingga berpengaruh terhadap surrender ratio, sehingga penurunan daya beli untuk memenuhi kebutuhan bayar premi lebih lanjut.

"Salah satu indikator yang kita cermati dan mendapat perhatian adalah akumulasi penerimaan premi. Selama periode semester I-2022, penerimaan premi industri tercatat menurun sebesar 0,03% year on year (yoy) dibanding dengan periode sebelumnya. Sementara itu di sisi lain, nilai klaim pada periode yang sama justru meningkat 9%," terang Ogi.

Oleh karena itu, OJK dalam hal ini mengimbau beberapa hal bagi perusahaan asuransi komersial. Pertama, perlu permodalan yang memadai di tengah situasi yang tidak pasti seperti saat ini. Kedua, menahan diri dari strategi pemasaran yang terlalu agresif seperti menawarkan premi yang terlalu rendah, sehingga tidak sesuai dengan manfaat yang ditawarkan dan risiko yang dijamin.

"Kadang-kadang (perusahaan asuransi) menikmati premi yang diterima sekarang, padahal risikonya lebih dari setahun atau multiyears. Enak di depan tetapi risikonya tidak diperhitungkan," imbuh dia.

Selanjutnya, OJK ikut mengimbau perusahaan asuransi komersial lebih prudent dan bertanggung jawab dalam menjalankan kegiatan investasi. Mengingkat ancaman inflasi dan dinamika perekonomian global dapat menimbulkan downside risk bagi kinerja investasi perusahaan.

"Dengan demikian, rasio likuiditas dan solvabilitas perusahaan tetap terjaga sebagai indikator yang menggambarkan kapasitas perusahaan untuk memenuhi kewajiban pembayaran klaim asuransi pada konsumen," tandas dia.

Kepala Departemen Pengawas IKNB 2B OJK Bambang W Budiawan menambahkan, sejatinya sektor perasuransian komersial pada periode ini sebenarnya tumbuh cukup bagus. Aset tumbuh sampai dengan 8% dan nilai investasi asuransi komersial Rp 628,13 triliun tercatat naik 5,8% pada periode Juni 2022

"Investasi yield asuransi jiwa juga rata-rata mencatat ada penurunan sedikit tapi tidak material dan signifikan di angka -0,15%. Asuransi umum dan reasuransi mencatatkan kenaikan positif," kata dia.

Sedangkan dari sisi risk based capital (RBC), perusahaan asuransi ini sangat terjaga baik jauh di atas threshold 120%. Asuransi jiwa mencatat RBC di angka 481% dan asuransi umum dengan RBC sebesar 318%.

Tim Kerja Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) sekaligus Direktur Utama BRI Life Iwan Pasila menuturkan bahwa kinerja asuransi jiwa pada kuartal I-2022 memang ada penurunan. Perlambatan sebesar 18% terutama terjadi pada premi baru yang dicatatkan penuh.

"Ini menunjukkan bahwa tahun lalu dibandingkan tahun ini bahwa banyak perusahaan asuransi jiwa banyak bermain di single premi. Ini menjadi catatan tersendiri karena hal ini perlu berhati-hati bagaimana memanage-nya," kata dia.

Sedangkan klaim-klaim karena meninggal dunia ini telah menurun signifikan sekitar 42% pada kuartal I-2022. Begitu juga klaim surrender yang menunjukkan perbaikan. "Ini menunjukkan bahwa tekanan dari sisi perekonomian saat ini sangat terasa bagi industri perasuransian," kata Iwan.

Menurut dia, perusahaan asuransi jiwa memang harus mengedepankan pengawasan berlapis dan berjenjang, dimulai dari lembaga jasa keuangan itu sendiri dengan manajemen risiko yang baik dan tingkat kepatuhan yang memadai. Dengan begitu perusahaan bisa bertahan, berkelanjutan, dan tumbuh dengan baik dalam kondisi saat ini.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) sekaligus Direktur Utama Asuransi Bintang HSM Widodo menerangkan, terjadi pergerakan signifikan pada sisi liabilitas asuransi umum pada kuartal I-2022. Total liabilitas naik 12%, tidak sebanding dengan total aset yang hanya tumbuh 7%.

"Hal ini mencerminkan ada suatu masalah pada liabilitas di industri asuransi umum. Artinya, pada kondisi bahwa tidak ada periode catastrophic yang signifikan pada 2021-2022, tapi cadangan naik, kita melakukan perbaikan terhadap cadangan premi yang ada," ungkap dia.

Selain itu, fenomena mengenai permodalan juga menjadi sorotan. Saat ini, separuh atau 50% dari jumlah perusahaan asuransi umum memiliki ekuitas di bawah Rp 500 miliar, bahkan sebesar 33% atau sekitar 24 perusahaan ada di bawah Rp 200 miliar.

Menurut dia, hal ini perlu dicermati bersama untuk memperkuat industri asuransi umum di Indonesia. "Mungkin ke depan kita akan melihat konsolidasi dari perusahaan untuk meningkatkan ekuitasnya agar bisa melaju," ungkap Widodo.

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN