Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank Riswinandi menyampaikan pidato dan membuka Indonesia Rendezvous ke-25 di Bali (17/10).

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank Riswinandi menyampaikan pidato dan membuka Indonesia Rendezvous ke-25 di Bali (17/10).

Asuransi Harus Adaptif terhadap Perkembangan Teknologi

Windarto, Kamis, 17 Oktober 2019 | 15:39 WIB

Nusa Dua, Bali-Teknologi sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari entitas bisnis jasa keuangan saat ini. Perubahan-perubahan cara berbisnis sudah mulai dirasakan industri. Hal ini harus direspons para pelaku industri dengan kesiapan yang baik. Asuransi ke depan akan banyak didukung big data serta artificial intellegence (kecerdasan buatan) dan ditopang Internet of Things (IoT). Lompatan teknologi tersebut tidak bisa dihindari karena sudah ada di pasar, seperti perangkat sensor teknologi yang bisa merekam kebugaran pengguna, dan akan diikuti dengan pakaian, bahkan sepatu. Data tersebut bisa dikirimkan ke perangkat tertentu dan bisa dijadikan basis data buat aktuaria untuk mendapatkan informasi risiko dari pemegang polis, perilaku, tingkat kesehatan, bahkan potensi risiko yang terjadi. Cara-cara ini bisa dipakai untuk meningkatkan pelayanan pada konsumen, di sisi lain perusahaan bisa memahami lebih dalam mengenai kebutuhan konsumen (pemegang polis). Alhasil perusahaan bisa menghasilkan produk baru, premi yang lebih personal dan pemberian layanan yang real time. Sebagai konsekuensinya, teknologi informasi mengubah cara berbisnis asuransi untuk mendorong lebih banyak strategi yang fokus pada pelanggan.

 

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) mengatakan, pasar asuransi harus mempersiapkan diri dalam menghadapi perubahan yang dinamis dan perilaku pasar ini. Dalam 25 tahun ke depan dan seterusnya, akan ada banyak perubahan baik dalam operasional dan bagaimana asuransi melakukan bisnis. Pendekatan yang semula “untuk mendeteksi dan memperbaiki” akan diganti diganti dengan "untuk memprediksi dan mencegah". “Karena itu, kami tidak hanya memikirkan cara kami membayar klaim, tetapi juga memanfaatkan teknologi untuk proses underwriting yang lebih baik dan menurunkan klaim,” ujarnya.

 

Jika dilihat dari perspektif OJK, lanjutnya, regulator senang dengan setiap inovasi yang dilakukan dalam bisnis keuangan. “Padahal, kita akan ditantang bagaimana merumuskan peraturan yang sesuai. Namun secara keseluruhan, semua terobosan baru harus memberi dampak positif bagi pasar,” ujarnya saat memberikan sambutan dan membuka Indonesia Rendezvous ke-25 di Nusa Dua, Bali (17/10).

Ia menyebut meningkatnya akses dan penggunaan teknologi, akan memudahkan konsumen menjangkau produk asuransi dan pada akhirnya meningkatkan inklusi keuangan asuransi yang masih rendah dibandingkan dengan sektor lain.

Apa konsekuensi dari tren yang berkembang tersebut? Riswinandi menyebut jumlah sumber manusia yang diperlukan suatu perusahaan menjadi lebih ramping. Pengelolaan administrasi dan staf akan menyusut karena digantikan oleh teknologi informasi. Sebuah survei menyebut 35% dari semua pekerjaan mungkin telah dilakukan secara otomatis pada 2035. Teknologi akan membantu kita untuk mengembangkan bisnis. Namun, sumber daya manusia adalah aspek paling mendasar yang akan mengembangkan bisnis masa depan. “Kita harus mendorong orang-orang kita untuk selalu menerima tantangan dan mengubah kemampuan mereka agar sesuai dengan kebutuhan masa depan. Oleh karena itu, perusahaan tidak perlu takut untuk mengalokasikan sebagian dari anggaran tahunan mereka untuk pelatihan dan pengembangan SDM,” tuturnya.

OJK juga menanggapi tren terbaru dari praktik bisnis asuransi di mana ada lebih banyak perusahaan asuransi yang menjual produk mereka melalui InsurTech aggregator & broker yang berlawanan dengan cara konvensional. “ Untuk alasan ini, kami sedang mengkaji regulasi perantara insurtech dan fokus pada peningkatan tata kelola TI, mitigasi risiko dan juga transparansi produk. Fokusnya adalah membina bisnis asuransi sambil memastikan perlindungan konsumen,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Umum AAUI Dadang Sukresna mengatakan, mengutip risk & insurance.com, ada lima hal yang membuat teknologi akan mengubah asuransi di masa depan. Pertama, penggunaan dan pengolahan data menjadi tantangan utama saat terjadi ledakan jumlah data. Kedua, kecerdasan buatan, aritificial intellegence dibutuhkan agar data dapat digunakan. Ketiga, teknologi pencegahan kerugian akan menurunkan frekuensi dan keparahan klaim dari waktu ke waktu; 4. Teknologi akan menggeser model bisnis asuransi. Kelima, perubahan akan terjadi melalui banyaknya perubahan-perubahan kecil.

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA