Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI),  Tatang Nur Hidayat   Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Tatang Nur Hidayat Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Bidik Market Share 25%, Aset Asuransi Syariah Harus Tumbuh 30% per Tahun

Senin, 19 Juli 2021 | 04:30 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pangsa pasar (market share) aset industri asuransi syariah diproyeksi mencapai 20-25% dibandingkan asuransi konvensional pada tahun 2030. Untuk mencapai proyeksi tersebut, aset industri asuransi syariah mesti tumbuh 30% per tahun sepanjang 10 tahun ke depan.

Hal itu dipaparkan Ketua Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Tatang Nurhidayat pada diskusi daring dengan tema "Masa Depan Wajah Industri Asuransi Syariah", pekan lalu.

Dia menyampaikan, proyeksi bagi industri asuransi syariah tersebut merupakan hasil diskusi antara AASI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu).

Tatang mengungkapkan, saat ini pangsa pasar aset industri asuransi syariah baru sekitar Rp 40 triliun atau 5% atau triliun dari industri asuransi konvensional. Jika pada tahun 2030 aset industri asuransi konvensional tumbuh dua kali lipat, maka setidaknya aset industri asuransi syariah mesti tumbuh sampai delapan kali lipat untuk bisa mencapai pangsa pasar mencapai 20-25% atau mendekati Rp 300 triliun di 2030.

"Tetapi jika dijabarkan pertumbuhan tahunan, untuk mencapai nilai itu perlu pertumbuhan 30% per tahun. Maka dalam 9-10 tahun aset asuransi syariah bisa mencapai delapan kali lipat dari kondisi saat ini. Sehingga market share bisa mencapai 20-25%. Bahkan waktu itu BKF Kemenkeu menantang untuk aset bisa tumbuh 10 kali lipat sampai dengan 2030. Itu kita usahakan tapi memang perlu usaha semua pihak," kata Tatang.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto: Investor Daily/David Gita Roza
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Mengacu pada data OJK, total aset industri asuransi syariah pada tahun 2020 mengalami penurunan sebesar 2,23% (yoy) menjadi Rp 44,44 triliun, yang dipengaruhi oleh penurunan investasi sebesar 6,29%. Hal itu dikarenakan portofolio investasi asuransi syariah didominasi oleh investasi di pasar modal sehingga terdampak penurunan kinerja dari pasar modal Indonesia.

Kondisi itu tercermin dari aset industri asuransi jiwa syariah yang susut 3,12% (yoy) menjadi Rp 36,31 triliun. Sedangkan asuransi umum syariah masih mampu tumbuh tipis 1,88% (yoy) menjadi Rp 6,01 triliun. Diikuti pertumbuhan aset dari perusahaan reasuransi syariah sebesar 2,22% (yoy) menjadi Rp 2,10 triliun. Kendati total aset cenderung menurun, tapi kontribusi bruto masih mampu meningkat 3,84% (yoy) menjadi Rp 17,34 triliun.

Tatang menerangkan, proyeksi mengenai pangsa pasar itu sangat terbuka untuk dicapai. Asuransi syariah masih memiliki potensi yang besar seiring dengan penetrasi yang juga masih rendah.

Dia mengilustrasikan, kondisi asuransi syariah saat ini seperti wilayah Jonggol yang masih tertinggal padahal memiliki potensi yang luar biasa untuk berkembang, dibandingkan dengan wilayah Cibubur.

"Nilai ekonomi wilayah Cibubur ini nilai ekonomisnya sudah lebih besar karena dikelola dengan baik. Tapi Jonggol sebenarnya punya lahan yang lebih luas untuk digarap. Kalau bisa dioptimalkan melalui infrastruktur dan regulasinya tentutu Jonggol bisa menjadi kota yang memiliki nilai ekonomi lebih besar dibandingkan dengan Cibubur," ungkap dia.

Dia menjelaskan, saat ini banyak perusahaan asuransi syariah yang masih tertidur. Dengan dorong spin off dan permodalan, diharapkan  bisa mendongkrak gairah industri asuransi syariah di masa mendatang. Hal itu bisa saja terjadi meskipun turut diproyeksi jumlah pemain akan semakin menyusut.

"Tantangan market share aset sampai 20-25% itu memungkinkan digarap meskipun dengan pemain yang lebih sedikit. Tapi hal itu perlu mengoptimalkan setiap penyelenggara asuransi syariah, jangan cuma punya izin tapi tidak beroperasi dengan optimal," kata Tantang.

Di samping itu, Tatang menuturkan, ada sejumlah hal yang juga perlu dilakukan masing-masing entitas asuransi syariah bersama ekosistem ekonomi syariah.

Pertama yang juga digadang-gadang OJK adalah inklusif. Hal itu sudah didukung KNEKS melalui halal value chain atau menyertakan semua pihak dalam pengembangan asuransi syariah seperti dari wakil presiden, bank, dan sebagainya.

Kemudian kedua yaitu aspek kolaboratif. Jika aspek inklusif lebih pada masing-masing pihak, maka aspek kolaboratif dilakukan bersama untuk menonjolkan keunikan konsep syariah itu sendiri. Sedangkan ketiga adalah inovatif terkait produk dan layanan. Terlepas dari itu, inovatif yang dimaksud juga terkait dengan regulasi dan ketentuan mengenai produk investasi yang inovatif.

"Kita memang kapasitasnya kecil dan daya dobrak yang kurang, serta juga ada kendala pada aspek permodalan, pada akhirnya mungkin tidak berani menjamah pasar baru. Bahkan untuk membuat riset saja kesulitan karena biaya yang dimiliki terbatas. Hal yang penting dari menawarkan produk asuransi syariah itu bukan hanya sekedar memacu kontribusi, tapi juga membentuk konsep produk asuransi untuk sama-sama berkembang," ujar dia.

Aspek keempat terkait dengan jalur distribusi yang kreatif. Hal itu pada akhirnya akan meningkatkan penetrasi. Jalur distribusi agen, broker, dan bank masih perlu diperkuat tapi harus lebih kreatif untuk menjangkau masyarakat yang belum merasakan asuransi syariah.

Kalau sebelumnya banyak mengandalkan agen pemasar, broker, dan bank, itu tetap dilakukan tapi harus lebih kreatif untuk menjangkau masyarakat yang belum merasakan asuransi syariah. Pendekatan itu sudah memungkinkan dengan kehadiran teknologi. Kreativitas kini mungkin dilakukan dengan banyak cara dengan kehadiran teknologi.

Terakhir atau kelima adalah sistem yang mendukung (support system). Keempat aspek sebelumnya harus didukung dengan sistem yang mendukung, termasuk sistem teknologi yang memadai. Hal terpenting dari sistem yang dimaksud adalah agar perusahaan asuransi syariah bisa adaptif atau menyesuaikan diri terhadap perkembangan zaman.

Sementara itu, Ketua Islamic Insurance Society (IIS) M Zamachsyari menerangkan, saat ini ada 13 entitas asuransi yang full syariah, baik asuransi jiwa syariah, asuransi umum syariah, dan reasuransi syariah. Selain itu ada 46 entitas yang berstatus unit usaha syariah (UUS). Dari jumlah itu, Indonesia memiliki entitas terbanyak di ASEAN yakni sebanyak 59 entitas.

Namun demikian, kata dia, banyaknya entitas itu hanya memiliki daya dobrak yang relatif kecil. "Diharapkan seluruh entitas asuransi dan reasuransi syariah tersebut akan menjadi entitas sendiri pada tahun 2024. Meskipun info dari OJK tidak semua UUS akan melepaskan menjadi entitas yang berdiri sendiri, atau ada yang akan menyerahkan portofolionya kepada perusahaan asuransi syariah lain," kata dia.

Zamachsyari menambahkan, pekerjaan rumah lain adalah menciptakan dan menghasilkan ahli-ahli pada bidang asuransi syariah seperti yang diharapkan pihak regulator. Saat ini baru ada sekitar 40 orang ahli asuransi syariah yang bergelar AIIS, tapi sebagian kecilnya sudah pensiun atau tidak aktif dalam perusahaan asuransi.

Padahal diproyeksi, pada tahun 2023 diperlukan setidaknya 210 ahli asuransi syariah untuk menduduki posisi strategis di masing-masing perusahaan asuransi syariah.

"Target itu akan sulit dicapai kalau hanya melalui program yang sudah ada. Oleh karena itu, perlu ada program khusus dan penyesuaian persyaratan," tandas Zamachsyari.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN