Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Kepatuhan PT AXA Mandiri FInancial Services (AXA Mandiri) Rudy Kamdani.

Direktur Kepatuhan PT AXA Mandiri FInancial Services (AXA Mandiri) Rudy Kamdani.

Cegah Komplain, Begini Cara AXA Mandiri Monitoring Penjualan

Rabu, 6 Januari 2021 | 12:14 WIB
Windarto

Jakarta, Investor.id – Misinformasi mengenai produk masih sering terjadi dalam pemasaran asuransi. Penjelasan tenaga pemasar yang kurang paripurna, dan literasi keuangan calon nasabah yang rendah akhirnya berujung persoalan alias sengketa di kemudian hari. Pengaduan atas kekecewaan nasabah terhadap asuransi masih mewarnai laporan ke Layanan Konsumen OJK juga Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Tak jarang, pemegang polis juga menuangkan kekecewaan melalui media sosial, sehingga persoalannya bergulir secara luas.

Secara umum, di industri asuransi jiwa yang kerap menjadi persoalan dan dikeluhkan nasabah adalah produk-produk yang dikaitkan dengan investasi (Paydi) seperti produk unit link. Banyak nasabah tidak siap menghadapi fluktuasi investasi seiring dengan perubahan yang terjadi di bursa. Direktur Kepatuhan PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri) Rudy Kamdani mengatakan, ada dua hal yang menjadi penyebab banyaknya komplain terkait produk asuransi di saat pandemi. Pertama, nasabah sedang membutuhkan dana, sementara kondisi market sedang turun. Akibatnya, nilai tunai dari dana investasi yang dimilikinya ikut pula tergerus. “Coba kalau market lagi stabil atau naik, mereka tidak akan ribut,” tuturnya.

Sebagian masyarakat memang belum cukup memahami dengan baik risiko memiliki produk unit link. Pada saat pasar saham tengah bergejolak, akan berdampak langsung terhadap portfolio pilihan investasi nasabah. Jika pilihan investasi pada instrumen saham maka apa yang dialami pada awal-awal pandemi hingga triwulan ketiga membuat pemegang polis cemas. Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) selama tiga kuartal tersebut hasil investasi asuransi jiwa terhempas cukup dalam dibandingkan perolehan pada tahun 2019. Bagi nasabah yang tidak mendapatkan penjelasan secara memadai terkait korelasi kondisi bursa dan produk unit link akan serta merta menyalahkan perusahaan asuransi. Karena itu tenaga pemasar perlu pula menyampaikan informasi risiko yang bisa dialami saat memberikan ilustrasi produk. Penjelasan yang baik dan benar atas suatu produk merupakan bagian dari praktik tata kelola perusahaan yang baik.

Rudy mengakui, untuk menerapkan governance dalam penjualan memang sulit mencapai 100%, tapi yang penting ada monitoring. Ada berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya pelanggaran dalam proses penjualan, tapi terpenting bagaimana perusahaan semaksimal mungkin menerapkan kontrol. Rudy mencontohkan apa yang dilakukan AXA Mandiri dalam menjaga governance terkait dengan pemasaran produk asuransi sebagai berikut,

1. Meninjau ulang (review) materi pelatihannya. Hal ini untuk memastikan bahwa materi yang diajarkan sesuai dengan produknya, dan produk tersebut sesuai dengan POJK.

2. Financial Advisor (FA) atau tenaga pemasar tidak diizinkan memasarkan produk sebelum mengantongi lisensi (sertifikasi).

3. Kadang ada mistery shopping, yakni karyawan atau manajemen yang berpura-pura menjadi customer untuk menilai bagaimana cara FA menjual suatu produk. Biasanya, AXA Mandiri memilih daerah-daerah yang kerap terjadi misselling. Cara ini merupakan bentuk kontrol perusahaan.

4. Bentuk kontrol dilakukan pula terhadap profil risiko, analisa kebutuhan keuangan, dan produk yang dijual kepada nasabah. Jika tidak matching, FA akan kena tegur, dan leader-nya akan ikut bertanggung jawab.

Dikatakan Rudy, ketika calon nasabah diketahui profil risikonya, serta merta produk yang bisa dia beli pun dibatasi sesuai dengan profil risikonya tersebut. Namun jika calon nasabah tersebut ingin memilih penempatan investasi tidak sesuai dengan profil risikonya, ia harus mengisi form dan menandatangani. Dengan kata lain, calon nasabah tersebut mengerti akan risiko yang mungkin terjadi atas pilihan investasinya tersebut.

5. Identifikasi secara teknologi, misalnya KTP atau KK dicek melalui data Ditjen Dukcapil Kemendagri. Hal ini untuk memastikan orang tersebut memang ada dan tercatat secara resmi sesuai data yang disampaikan.

6. Proses selanjutnya dinamakan welcome call untuk memastikan. Pada saat welcome call, akan disampaikan kepada nasabah tentang produk asuransi yang dibeli, premi yang dibayarkan, jangka waktu, manfaat, serta risiko. Nasabah akan ditanyakan apakah sudah mengerti atau tidak, jika sudah mengerti maka akan lanjut.

Menurut Rudy, welcome call ini bagian dari upaya perusahaan untuk melakukan verifikasi terhadap proses penjualan produk setelah polis diterima nasabah.

Editor : Maswin (maswin@investor.co.id )

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN