Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Fungsi Manajemen Risiko Konglomerasi Bantu LJKNB Hindari Intervensi Induk

Jumat, 11 September 2020 | 05:34 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menambahkan ketentuan fungsi manajemen risiko bagi lembaga jasa keuangan non bank (LJKNB) yang menerapkan integrasi manajemen risiko konglomerasi. Kebijakan itu dinilai bisa membantu LJKNB, khususnya perusahaan asuransi menghindari intervensi induk.

Mengacu pada pasal 24 ayat (1) POJK 44/2020 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi LJKNB menyatakan, dalam hal LJKNB menerapkan manajemen risiko terintegrasi sebagaimana dimaksud dalam POJK mengenai penerapan Manajemen Risiko terintegrasi bagi konglomerasi keuangan, fungsi manajemen risiko sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf b (fungsi manajemen risiko) dapat digabung dengan fungsi manajemen risiko dalam struktur konglomerasi keuangan LJKNB yang bersangkutan.

Kapler A Marpaung
Kapler A Marpaung

Pengamat Asuransi Kapler A Marpaung mengatakan, LJKNB tentu akan terbantu dengan aturan tambahan tentang manajemen risiko yang diperluas kepada fungsi manajemen risiko konglomerasi. Artinya akan terjadi check and balance, sehingga tidak ada lagi peraturan perusahaan yang berbeda satu dengan lainnya yang berada dalam satu konglomerasi atau grup usaha.

"Kalau selama ini mungkin anak usaha mendapat tekanan dari induk usaha atau pengendali, maka dengan adanya pengawasan terintegrasi konglomerasi ini penerapan manajemen risiko bisa menjadi lebih optimal. Perusahaan induk tidak lagi dapat melakukan hal semena-mena atau intervensi yang tidak perlu kepada kebijakan anak usaha," kata dia kepada Investor Daily, Rabu (9/9).

Adapun Surat Edaran OJK Nomor 14/2015 tentang penerapan Manajemen Risiko Terintegrasi bagi Konglomerasi Keuangan menerangkan, konglomerasi keuangan wajib menerapkan manajemen risiko terintegrasi secara komprehensif dan efektif, yang paling kurang mencakup beberapa unsur. Pertama, pengawasan direksi dan dewan komisaris entitas utama. Kedua, kecukupan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit manajemen risiko terintegrasi. Ketiga, kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko secara terintegrasi, serta sistem informasi manajemen risiko terintegrasi. Keempat, sistem pengendalian intern yang menyeluruh terhadap penerapan manajemen risiko.

Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe. Foto: IST
Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe. Foto: IST

Sementara itu, Direktur Eksekutif Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe menerangkan, konglomerasi keuangan adalah lembaga jasa keuangan yang berada dalam satu grup atau kelompok karena keterkaitan kepemilikan dan/atau pengendalian. Kapitalisasi dalam konglomerasi sangatlah besar, dan dapat memberikan dampak kepada masyarakat jika mengalami masalah.

"Untuk itu pihak konglomerasi tersebut perlu menerapkan manajemen risiko secara terintegrasi dalam satu pengelolaan keuangan, termasuk pengaturan permodalan. Sehingga dapat memetakan dengan baik risiko-risiko yang bisa saja terjadi secara kelompok besar (group wide), tidak lagi perbagian (individual)," kata Dody

Menilik lebih lanjut, sambung dia, regulasi manajemen risiko konglomerasi juga diharapkan bisa menjadi pemantik bagi entitas induk dan anak perusahaan dalam satu grup konglomerasi membuat kebijakan manajemen risiko terintegrasi. Hal itu diantaranya memuat mitigasi risiko, perumusan strategi, hingga sistem pengendalian internal yang terintegrasi. "Sehingga dalam hal saling memanfaatkan fasilitas dalam satu grup namun tetap ada batasan yang harus diatur dalam pedoman manajemen risiko," imbuh Dody.

Menurut dia, regulasi yang dikeluarkan OJK tersebut sebagai tindakan mitigasi yang diantaranya agar semua stakeholder kembali menaruh kepercayaan lebih pada lembaga jasa keuangan. Terlebih lagi kepercayaan terhadap industri asuransi.

Di sisi lain, Direktur Kepatuhan AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri) Rudy Kamdani menyatakan, implikasi pasal penambahan fungsi manajemen risiko hanya berlaku kepada LJKNB yang menerapkan manajemen risiko terintegrasi. Dalam hal ini, disebutkan bahwa fungsi manajemen risiko perusahaan anak (tim risk management AXA Mandiri dapat digabung dengan fungsi manajemen risiko dalam struktur konglomerasi atau tim risk management konglomerasi Bank Mandiri.

Menurut dia, kata 'dapat digabung' diartikan bahwa pilihan ini dikembalikan kepada AXA Mandiri untuk memilih tetap dengan struktur sekarang (terpisah) atau digabung. Oleh karena itu, AXA Mandiri mengambil posisi untuk tetap memiliki fungsi manajemen risiko yang terpisah dari perusahaan induk, namun tetap menjadi bagian dari konglomerasi keuangan terintegrasi Bank Mandiri.

"Salah satu faktor yang mendasari adalah bisnis utama yang berbeda dengan Bank Mandiri, dimana AXA Mandiri bergerak di bidang Asuransi sedangkan Bank Mandiri di bidang Perbankan, sehingga risiko yang dimiliki juga berbeda dan membutuhkan perhatian tersendiri," jelas Rudy.

Selanjutnya, kata dia, dengan tetap memiliki tim manajemen risiko sendiri, AXA Mandiri menjadi lebih berkonsentrasi dalam mengelola risiko yang dimiliki perusahaan. Selain itu, perseroan tetap menjalankan wewenang dan tanggung jawab seperti tertuang dalam pasal 20 ayat (4). Diantaranya

Adapun isi pasal yang dimaksud berisi, sembilan wewenang dan tanggung jawab fungsi manajemen risiko mengulas mengenai identifikasi, penyusunan strategi, memantau pelaksanaan dan risiko, mengkaji ulang, mengkaji usulan, mengevaluasi, memberikan rekomendasi, dan melaporkan profil risiko atas manajemen risiko.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN