Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kantor Pusat PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Kantor Pusat PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Jadi Penyelamat Jiwasraya, IFG Life Bakal Pangkas Manfaat Nasabah

Kamis, 10 September 2020 | 06:03 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Penyelamatan PT Asuransi Jiwasraya semakin jelas lewat pembentukan perusahaan baru bernama IFG Life, berikut dengan opsi penyelamatan berupa restrukturisasi, transfer, dan bail-in. Namun demikian, selisih ekuitas (equity gap) negatif dari Jiwasraya yang kadung membengkak membuat skema restrukturisasi polis ikut memangkas manfaat nasabah.

Direktur Utama PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) atau BPUI Robertus Bilitea menyampaikan, ada tiga model yang disiapkan untuk menyelamatkan Jiwasraya yaitu bailout; restrukturisasi, transfer, dan bail in; serta likuidasi. Masing-masing model itu memiliki dampak yang telah diperhitungkan.

Model bailout sendiri tidak dapat dilakukan kepada Jiwasraya karena belum ada peraturan yang bisa memfasilitasi, baik regulasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun aturan yang diakomodasi oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Sedangkan tidak dipilihnya model likuidasi (pembubaran perusahaan) karena dinilai memiliki dampak ekonomi dan politik yang cukup signifikan.

Selain itu, risiko hukum dan reputasi juga diprediksi berdampak masif, apalagi dampak finansial pada program pensiun Jiwasraya.

"Karenanya dari tiga opsi yang kami diskusikan dalam tim, kami tentukan opsi untuk para pemegang polis lewat restrukturisasi, transfer, dan bail-in. Karena opsi ini jauh lebih memberikan perlindungan kepada para pemegang polis. Jauh dari tuntutan atau gugatan hukum di kemudian hari," papar Robertus saat rapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (9/9).

Dalam paparannya, dia mengatakan, model restrukturisasi, transfer, dan bail-in telah disetujui oleh pemerintah melalui Buku II Nota Keuangan Beserta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN). Serta persetujuan Kementerian BUMN atas Rencana Penyehatan Keuangan (RPK) Jiwasraya Nomor S-177/MBU/03/2020 tanggal 20 Mei 2020.

Model atau skema yang dipilih itu kemudian membeberkan pendekatan-pendekatan yang bisa dilakukan. Robertus membeberkan, nantinya PBUI akan mendirikan perusahaan baru bernama IFG Life yang sebelumnya sempat dicanangkan bernama Nusantara Life. Nama perusahaan baru diganti karena nama tersebut sudah pernah dipakai dan turut berbuntut gagal bayar.

Dia menuturkan, IFG Life akan mengambil alih portofolio Jiwasraya yang sudah direstrukturisasi. Melihat keperluan dana untuk membangun perusahaan baru dan meneruskan kewajiban Jiwasraya, PBUI kemudian merancang tiga skenario kebutuhan modal dengan membandingkan biaya setup IFG Life serta equity gap pada Jiwasraya.

Pada skenario pertama, equity gap portofolio Jiwasraya pada akhir tahun 2020 diperkirakan mencapai minus Rp 50,9 triliun. Jika ditambah dengan setup IPG Life sebesar Rp 510 miliar, maka dibutuhkan penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp 51,4 triliun. Perhitungan itu dilakukan tanpa adanya restrukturisasi polis, tanpa pemotongan (haircut) manfaat, dan imbal hasil investasi sebesar 5,5%.

Untuk skenario kedua, equity gap portofolio Jiwasraya pada akhir tahun 2020 diperkirakan mencapai minus Rp 33,5 triliun. Jika ditambah dengan setup IPG Life sebesar Rp 510 miliar, maka dibutuhkan penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp 34 triliun. Perhitungan itu dilakukan dengn merestrukturisasi seluruh polis Jiwasraya, dan memotong manfaat seluruh polis 20%, dan imbal hasil investasi 5,5%.

Sedangkan pada skenario ketiga, equity gap portofolio Jiwasraya pada akhir tahun 2020 diperkirakan dapat mencapai minus Rp 24,2 triliun. Jika ditambah dengan setup IPG Life sebesar Rp 510 miliar, maka dibutuhkan penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp 24,7 triliun. Perhitungan itu dilakukan dengn merestrukturisasi seluruh polis Jiwasraya, dan memotong manfaat seluruh polis hingga 40%, dan imbal hasil investasi 5,5%.

Deretan skenario tersebut sudah memperhatikan kebutuhan modal untuk mencapai rasio risk based capital (RBC) diatas 120% sesuai aturan OJK. Robertus menyatakan, oleh karena itu, demi kesehatan Jiwasraya, kepentingan nasabah, dan kelangsungan bisnis IFG Life di masa mendatang perlu dengan segera dilakukan restrukturisasi dan pemangkasan manfaat polis.

Adapun sampai akhir Juli 2020, Jiwasraya tercatat negatif ekuitas sebesar Rp 37,7 triliun. Karena total aset pada saat yang sama sebesar Rp 16,4 triliun, dengan catatan banyak dari aset yang berkualitas buruk. Lalu liabilitas mencapai Rp 54,0 triliun, dengan liabilitas produk tradisional sebesar 37,4 triliun dan liabilitas produk Saving Plan sebesar Rp 16,6 triliun. Nilai tersebut bisa terus membengkak seperti yang telah dipaparkan di skenario pertama tanpa adanya restrukturisasi dan pemangkasan manfaat polis. Per Juli, RBC Jiwasraya negatif 1.803%.

Per Juli 2020, Jiwasraya memiliki hutang klaim mencapai Rp 18,7 triliun. Dengan rincian, klaim produk Saving Plan mencapai Rp 16,6 triliun terhadap 17.449 peserta. Lalu klaim produk tradisional korporasi mencapai Rp 1,1 triliun terhadap 20/187 peserta. Dan klaim produk tradisional ritel mencapai Rp 1 triliun terhadap 20.109 peserta.

Dengan demikian, lanjut dia, merujuk pada skenario terbaik yakni skenario ketiga kebutuhan dana bagi IFG Life adalah sebesar Rp 24,7 triliun. Jika dirinci, sumber dana akan dihadirkan pemerintah melalui PMN sebesar Rp 20 triliun yang yang juga telah tercantum dalam RAPBN. Kemudian, BPUI melakukan fundraising dividen anak perusahaan guna memenuhi kebutuhan equity gap sebesar Rp 4,7 triliun.

Selain itu, kata Robertus, sumber dana juga akan didatangkan dari rencana divestasi Jiwasraya Putra yang memiliki estimasi mencapai Rp 2 triliun. Jika rencana itu tidak bisa direalisasikan, maka pihaknya bakal menempuh upaya lain guna memastikan sumber dan yang dibutuhkan bisa terpenuhi.

Adapun menurut dia, kondisi saat ini membuat BPUI bersama Jiwasraya, BUMN, dan Kemenkeu mencari opsi yang paling memungkinkan untuk dijalankan. Delapan tahun di LPS, membuat Robertus menilai penyelesaian suatu permasalah di perusahaan asuransi lebih rumit dibandingkan perbankan yang telah diatur secara detail. Sedangkan penanganan asuransi gagal sampai kini belum mempunyai model yang benar-benar bisa mengakomodasi, khususnya jika merujuk pada UU Perasuransian.

"UU ini mengamanatkan dibuat LPP (Lembaga Penjamin Polis), pasal 53, hanya sampai saat ini program perlindungan polis belum dilakukan. Akibatnya itu ketika menangani Jiwasraya mencari model, baik penugasan atau business to business terhadap pemegang polis yang kehilangan pertanggungannya," imbuh Robertus.

Bisnis IFG Life
Di sisi lain, Robertus mengemukakan, pendirian IFG Life atau Indonesia Financial Group didasarkan kepada kebutuhan industri asuransi. Termasuk dengan menimbang asuransi jiwa yang memiliki peran besar di industri asuransi. Hal tersebut didasarkan hasil riset BPUI atas potensi di industri asuransi.

"Itu yang menyebabkan kami mempunyai alasan yang kuat untuk membangun suatu industri asuransi jiwa, dan asuransi jiwa ini nantinya akan menyelamatkan pemegang-pemegang polis yang berhasil direstrukturisasi di Jiwasraya," ungkap dia.

Selanjutnya, IFG Life akan fokus kepada produk yang sehat dengan menerapkan manajemen risiko lewat implementasi three lines of defense. Selain itu, perusahaan baru itu juga fokus kepada proteksi dalam bentuk term life, whole life, maupun produk proteksi yang dikaitkan dengan investasi namun tetap market oriented dalam bentuk unit linked.

Untuk bisnis baru IFG Life, nantinya akan menyasar segmen nasabah umum dan karyawan BUMN dengan produk yang ditawarkan berupa asuransi jiwa dan kesehatan. Guna mendukung rencana dan kapabilitas perseroan, BPUI pun bakal mengakuisisi pemain asuransi kesehatan. IFG Life juga akan menggarap dana pensiun, dengan menggabungkan seluruh BUMN yang ada di Indonesia.

Untuk portofolio eksisting Jiwasraya, perseroan menyiapkan roadmap pengembangan bisnis bagi nasabah. Ditunjang penggunaan kanal distribusi yang ada saat ini untuk melakukan cross selling. Serta tentu dengan melakukan restrukturisasi polis. Dengan demikian, proyeksi tersebut membutuhkan dukungan konsesi bisnis dari pemerintah, termasuk kerja sama dengan BPJS Kesehatan dan PMN untuk menutupi gap equity dari transfer portofolio Jiwasraya.

"Menjelaskan model bisnis holding ke depan, sinergi antar kelompok capital market dengan asuransi dan penjaminan. Kemudian, kami mempunyai kajian detail mengenai rencana bisnis IFG Life kedepannya seperti apa. Sudah kami siapkan 3-4 bulan ini. Kami bersedia datang kembali untuk menjabarkan lebih detail tentang model bisnis, tata kelola, pendekatan risk management, SDM," pungkas dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN