Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi asuransi. Sumber: bumn.go.id

Ilustrasi asuransi. Sumber: bumn.go.id

Juli, Aset Asuransi Jiwa Capai Rp 515,78 Triliun

Jumat, 11 September 2020 | 05:00 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa total aset industri asuransi jiwa mencapai Rp 515,78 triliun, turun sebesar 6,94% tahun berjalan (year to date). Penurunan dipengaruhi aset investasi dari saham dan reksa dana.

Deputi Direktur Pengawasan Asuransi II Kristianto Andi Handoko memaparkan, total aset asuransi jiwa dari 56 perusahaan asuransi itu terkontraksi 5,47% secara tahunan (year on year). Penurunan aset terjadi sejak awal tahun dan terkoreksi cukup dalam pada Maret 2020. Meski begitu, sejak April-Juli 2020 total aset secara bulanan (month to month/mtm) menunjukan perbaikan. Per Juli sendiri, toal aset meningkat 2,46% (mtm).

"Penurunan aset perusahaan asuransi jiwa disebabkan adanya penurunan nilai investasi meningkat lebih dari 80% aset perusahaan asuransi jiwa dalam bentuk investasi. Sedangkan penurunan aset investasi perusahaan asuransi jiwa disebabkan oleh adanya penurunan investasi berupa saham dan reksadana," ucap dia lewat diskusi daring, Kamis (10/9).

Andi menerangkan, sampai Juli 2020 aset investasi tercatat Rp 453,40 triliun turun 7,13% (ytd) atau berkontraksi sebesar 5,46% (yoy). Sama halnya dengan total aset, pergerakan aset investasi sempat anjlok pada Maret 2020 dan tren perbaikan terjadi mulai April-Juli 2020. Per Juli aset investasi naik 2,83% (mtm).

Jika dirinci, aset reksa dana memiliki portofolio terbesar dengan porsi sebesar 33,7%, diikuti aset saham sebesar 22,7%. Kemudian, portofolio SBN sebesar 17%, obligasi korporasi dan deposito masing-masing sebesar 6%, properti investasi sebesar 3%, dan MTN sebesar 2%.

Sedangkan jika dibandingkan dengan aset di industri asuransi, termasuk asuransi komersial, asuransi wajib, asuransi sosial, dan asuransi syariah tercatat sebesar Rp 1.355,51 triliun atau naik 1,60% (yoy) sampai Juli 2020. Dari nilai tersebut, sebesar Rp 1.155,15 triliun merupakan aset investasi.

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

Di samping itu, Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa (AAJI) Budi Tampubolon menyampaikan, aset investasi berupa saham dan reksa dana di asuransi jiwa memiliki nilai masing-masing lebih dari Rp 110 triliun. Penempatan instrumen investasi itu disesuaikan dengan karakteristik asuransi jiwa yang berorientasi jangka panjang.

"Sifat asuransi jiwa itu jangka panjang, sedikit banyaknya menjaga aset dan investasi pasar modal. Karakteristik asuransi jiwa itu dananya datang dari polis jangka panjang dan sangat tepat juga dibelikan surat utang berupa obligasi atau sukuk," ucap dia.

Sambutan Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon. Foto: Investor Daily/David Gita Roza
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Budi mengungkapkan, di masa mendatang diharapkan penetrasi asuransi bisa terus tumbuh. Adapun mengacu pada data OJK, penetrasi per Juli 2020 baru mencapai 1,11% dengan densitas sebesar Rp 554,97 ribu. Berdasarkan data AAJI, masih berkutat di peringkat 13 di G20 atau peringkat 4 di Asia Tenggara, di bawah Singapura, Thailand, dan Malaysia.

Jika penetrasi bisa ditingkatkan, sambung dia, industri asuransi pun bisa mendukung pembangunan berbagai infrastruktur pemerintah melalui penempatan instrumen investasi jangka panjang. Karena menurut dia, ketika kebutuhan dana dari penyelenggara sesuai dengan maksud dari penempatan investasi asuransi jiwa, seyogianya bakal memangkas biaya dana (cost of fund). Sehingga terlahir dana murah juga untuk pemerintah dalam membangun berbagai infrastruktur.

"Tantangannya adalah edukasi dan sosialisasi. Kita harus pikirkan bagaimana awareness masyarakat Indonesia untuk mau berasuransi," imbuh Budi.

Dia menuturkan, sejatinya pilihan investasi atau alokasi investasi sudah diatur oleh OJK, tidak sembarangan. Dalam hal ini, perusahaan asuransi jiwa berupaya memposisikan diri untuk setidaknya mengikuti ketentuan minimum tersebut, bahkan sejumlah perusahaan asuransi jiwa menerapkan mitigasi yang lebih ketat saat menempatkan investasinya.

Premi Terkontraksi
Sementara itu, Andi mengatakan, produksi premi dari asuransi jiwa terlihat terus menurun sejak awal tahun 2020. Hal itu terlihat mulai Maret-Juli 2020 nominal pendapatan premi dibawah atau lebih rendah dari pencapaian sepanjang Maret-Juli 2019. Adapun sampai Juli 2020, total pendapatan premi asuransi jiwa tercatat sebesar Rp 95,13 triliun atau turun sebesar 8,74% (yoy). Jika

"Dengan kondisi pandemi saat ini, produksi premi dari asuransi jiwa menurun sangat signifikan dibandingkan asuransi umum. Untuk asuransi umum memang turut terdampak namun penurunan premi tidak terlalu dalam seperti di asuransi jiwa," ucap dia.

Dalam hal ini, Andi mengatakan, pihaknya setuju jika penetrasi pasar penting untuk menggenjot produksi dari asuransi jiwa. Tapi sebelum itu, penetrasi good corporate governance (GCG) juga mesti diterapkan dengan baik. Hal itu terbukti dari sejumlah perusahan yang diketahui OJK menerapkan GCG dengan baik, maka implikasi atas penetrasi pasar juga baik.

Dia menambahkan, OJK berpesan dengan melihat kondisi saat ini agar perusahaan asuransi tidak semata-mata mengejar produksi. Andi mengaku, terdapat satu perusahaan yang perlu dicontoh. Perusahaan itu mendapat permintaan produksi besar tapi ditolak lantaran cadangan yang dibukukan tidak cukup.

"Sehingga keamanan pada polis kedepannya tetap terjaga. Jadi penetrasi tidak hanya sekedar penetrasi pasar, dalam skup besar kita sering katakan tata kelola perusahaan yang baik," ujar dia.

Di samping itu, Chief Risk and Compliance Officer Prudential Indonesia Rianto Ahmadi mengungkapkan, penjualan produk unit link mulai banyak dilakukan pasca krisis moneter tahun 1998. Peralihan dari produk tradisional itu dipengaruhi kesadaran perusahaan asuransi akan keseimbangan antara aset dan liabilitas.

Menurut dia, ke depan imbal hasil dari investasi akan semakin menurun dan mesti disesuaikan dengan proyeksi perusahaan dalam memberikan manfaat polis. Jika manfaat atau guarantee rate yang ditawarkan saat ini tidak sesuai dengan imbal hasil di masa mendatang, maka akan berimplikasi gagal bayar seperti yang ramai terjadi saat ini.

"Industri kita itu ada masalah di beberapa tahun terakhir, infeksinya karena ketidaksesuaian aset dan liabilitas. Kita bisa pisahkan aset produk PAYDI dan produk tradisional. Kita menduga produk tradisional itu banyak yang tidak matching. Kalau begitu tinggal menunggu waktu sampai nantinya terjadi missmatching antara aset dan liabilitas," kata dia.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN