Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Jamkrindo. Foto ilustrasi: jamkrindo.co.id

Jamkrindo. Foto ilustrasi: jamkrindo.co.id

Klaim Diindikasikan Meningkat, Askrindo dan Jamkrindo Minta PMN Rp 6 Triliun

Prisma Ardianto, Minggu, 28 Juni 2020 | 23:53 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) atau BPUI sebagai induk dari dua perusahaan penjaminan yakni PT Jamkrindo (Persero) dan PT Askrindo (Persero) mengindikasikan adanya kenaikan klaim pada lini bisnis asuransi kredit. Dengan kondisi itu dan lain hal, kedua perusahan penjaminan perlu mendapatkan penyertaan modal negara (PMN) dengan total sebesar Rp 6 triliun.

Direktur Utama BPUI Robertus Bilitea menyampaikan, pihaknya telah membuat simulasi untuk melihat potensi peningkatan kredit bermasalah (non performing loan/NPL) perbankan, khususnya yang terkait dengan kredit usaha rakyat (KUR) dan kredit UMKM. Alhasil, tingkat NPL menggambarkan peningkatan yang signifikan dan akan terus tertekan sejalan dengan stagnannya pertumbuhan ekonomi.

Kinerja Askrindo
Kinerja Askrindo

Dia menerangkan, penting bagi perusahaan penjaminan seperti Askrindo dan Jamkrindo untuk melihat adanya potensi peningkatan NPL. Sebab, hal tersebut berkorelasi secara langsung terhadap potensi peningkatan klaim asuransi kredit yang mesti dibayarkan perusahaan penjaminan.

"Potensi peningkatan NPL itu korelasinya pada klaim yang mesti dibayarkan. Karena kita masuk pada zona yang belum banyak kita ketahui perkembangan kedepan. Banyak bisnis berhenti, kita mesti melihat seberapa besar NPL yang berpotensi meningkat," kata Robertus saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR secara virtual, pekan ini.

Dia mengatakan, proyeksi NPL tahun 2020 didapati dengan pendekatan simulasi dengan metode Monte Carlo, yakni dengan melihat korelasi pergerakan antara pertumbuhan PDB dan perubahan angka NPL secara historis. Dalam hal ini, pihaknya menggunakan proyeksi dari Kementerian Keuangan yang melihat PDB dengan skenario terburuk sebesar minus 0,4%.

Simulasi itu membuahkan tiga skenario NPL yang mungkin terjadi sepanjang 2020 yaitu optimis, moderat, dan pesimis. Secara rinci NPL pada skenario optimistis diperkirakan mencapai 14%, pada skenario moderat posisi NPL sebesar 20%, sedangkan pada skenario pesimis didapati potensi NPL sebesar 36%. Deretan potensi peningkatan NPL itu jauh dari rata-rata tingkat NPL sebelum penyebaran Covid-19 sebesar 2-2,5%.

Dari sejumlah proyeksi tersebut, kata Robertus, akan diikuti peningkatan klaim asuransi kredit dari Askrindo dan Jamkrindo sebagai perusahaan penjaminan.

Untuk Askrindo, klaim pada penjaminan KUR per Mei 2020 akan meningkat sebesar 19,5% (yoy) menjadi sebesar Rp 471,7 miliar. Sedangkan klaim non KUR akan meningkat sebesar 11,4% (yoy) menjadi sebesar Rp 699,2 miliar.

Pada saat yang sama, bagi Jamkrindo, klaim pada penjaminan KUR akan meningkat sebesar 26,1% (yoy) menjadi sebesar Rp 454,3 miliar. Sedangkan klaim pada bisnis non KUR diproyeksi naik sebesar 4,9% (yoy) menjadi sebesar Rp 241,0 miliar.

Robertus menuturkan, dengan peningkatan potensi klaim itu, maka Askrindo dan Jamkrindo perlu tetap menjaga rasio kecukupan modal dan gearing ratio di bawah 20 kali.

"Hanya saja yang perlu mendapatkan perhatian dari Askrindo dan Jamkrindo adalah ketentuan dari OJK yang mengatur bahwa gearing ratio mesti lebih rendah dari 20 kali modal. Kemudian, Askrindo dan Jamkrindo perlu mendapat PMN," ungkap dia.

Berdasarkan materi yang disampaikan kepada Komisi VI DPR, gearing ratio Askrindo dan Jamkrindo pada 2021 diprediksi bakal meningkat melebihi 20 kali. Oleh karena itu, adanya PMN akan membantu kondisi permodalan perseroan dan turut mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Adapun PNM yang dibutuhkan sebesar Rp 6 triliun, dengan pembagian secara rata pada Askrindo dan Jamkrindo, masing-masing sebesar Rp 3 triliun.

"Manfaat PMN terhadap PEN, bank dapat menyalurkan kredit baru. Askrindo dan Jamkrindo dapat meningkatkan kapasitas penjaminan. Askrindo dan Jamkrindo diproyeksikan bisa memberikan dividen. Dampaknya NPL turun, UMKM dapat tetap berjalan dan berkembang. Tingkat kebangkrutan dan PHK menurun," papar Robertus.

Dia pun memproyeksi, pada rentang 2020-2024 jumlah UMKM yang akan memanfaatkan KUR sekaligus dijamin Askrindo dan Jamkrindo bakal meningkat menjadi sebanyak 69,2 juta. Terdapat sebanyak 132,9 juta tenaga kerja yang terserap oleh UMKM yang dijamin Askrindo dan Jamkrindo.

Di sisi lain, Robertus memaparkan, bahwa Covid-19 juga memberi dampak pada perusahaan penjaminan dari sisi pendapatan. Antara lain pendapatan subrogasi yang diprediksi menurun karena adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Hal itu membuat perusahaan penjaminan kesulitan melakukan penagihan terhadap kredit macet.

Kemudian, adalah penurunan pendapatan iuran jasa penjaminan (IJP). Hal itu dipengaruhi pihak bank yang lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit baru, karena kekhawatiran usaha tidak berjalan. Dengan begitu, volume penjaminan tahun 2020 pun diperkirakan ikut menurun.

Selanjutnya, yakni penurunan pendapatan hasil investasi. Kondisi itu didasari dari kinerja pasar modal Indonesia yang juga menurun. Sehingga kinerja saham dan reksa dana turut memangkas hasil investasi dari Askrindo dan Jamkrindo.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN