Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI),  Tatang Nur Hidayat pada konferensi pers Kinerja dan Analisis Asuransi Syariah Indonesia pada Kuartal I-2021 secara virtual, Senin (7/6). (Prisma Ardianto/Investor Daily)

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Tatang Nur Hidayat pada konferensi pers Kinerja dan Analisis Asuransi Syariah Indonesia pada Kuartal I-2021 secara virtual, Senin (7/6). (Prisma Ardianto/Investor Daily)

Kontribusi Bruto Asuransi Syariah Melesat 45,20%

Senin, 7 Juni 2021 | 21:11 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id - Industri asuransi syariah membukukan kontribusi bruto senilai Rp 5,82 triliun sampai kuartal I-2021, melesat 45,20% secara tahunan (year on year/yoy). Pencapain positif kontribusi dicatatkan asuransi jiwa syariah, asuransi umum syariah,  dan reasuransi syariah.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Tatang Nur Hidayat mengungkapkan, meski pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terkontraksi atau minus 0,74% pada kuartal I-2021, kinerja asuransi syariah secara umum terbilang sangat baik. Pencapaian awal tahun ini diharapkan bisa dipertahankan.

"Kalau kita lihat data kuartal I-2021 dengan pertumbuhan jasa keuangan yang minus 2,99%, asuransi syariah dari sisi aset naik 7,32% (yoy). Kemudian berdasarkan kontribusi atau premi pun demikian, meningkat amat luar biasa, tumbuh 45,29% (yoy)," kata Tatang pada konferensi pers Kinerja dan Analisis Asuransi Syariah Indonesia pada Kuartal I-2021 secara virtual di Jakarta, Senin (7/6).

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dirangkum AASI, total aset asuransi syariah tumbuh 7,32% (yoy) menjadi Rp 44,13 triliun. Peningkatan kontribusi pun diikuti klaim bruto yang tercatat tumbuh 56% (yoy) menjadi Rp 4,88 triliun. Maka rasio klaim dana tabarru' asuransi syariah di Indonesia tumbuh paling tinggi, mencapai 94,67%.

Data OJK juga menyebutkan,  total investasi asuransi syariah tumbuh 3,29% (yoy) menjadi Rp 36,28 triliun. Adapun komposisi investasi asuransi syariah terbesar ditempatkan pada saham syariah senilai Rp 12,18 triliun, reksa dana syariah Rp 7,85 triliun, surat berharga syariah negara (SBSN) Rp 7,50 triliun, dan deposito Rp 6,18 triliun. Sisanya sebesar Rp 2,41 triliun pada sukuk, dan Rp 147 miliar pada instrumen investasi lainnya.

Dengan komposisi tersebut, tingkat pengembalian investasi (return on investment/RoI) tercatat minus 1,32% dan rasio pengembalian atas aset (return on asset/RoA) minus 3,84%. Dengan demikian, hasil investasi asuransi syariah anjlok 96,44% (yoy) menjadi minus Rp 143 miliar. Namun, penetrasi asuransi syariah sampai kuartal I-2021 naik menjadi 0,15% dan densitas meningkat menjadi Rp 85.008.

Menurut Tatang Nur Hidayat, pencapaian tersebut bisa menjadi dasar bagi semua pihak, baik regulator, investor, pelaku usaha, maupun peserta bahwa asuransi syariah siap menyongsong pertumbuhan ekonomi dan menjadi tulang punggung ekonomi syariah.

Khusus bagi investor, kata Tatang, pencapaian itu membuktikan bahwa investasi pada industri asuransi syariah sangat menarik. Bagi peserta, manfaat asuransi syariah akan bisa dinikmati lebih. “Bagi regulator, tentu diharapkan mampu mendorong pertumbuhan asuransi syariah yang lebih sehat,” ujar dia.

Asuransi Jiwa Syariah

Sementara itu, Ketua Bidang Riset dan Inovasi Asuransi Jiwa Syariah, Ronny Ahmad Iskandar mengemukakan, di tengah pandemi, asuransi jiwa syariah membukukan kontribusi bruto sebesar Rp 5,10 triliun atau melonjak 54,14% (yoy). Hal itu mencerminkan bahwa minat masyarakat terhadap proteksi asuransi jiwa syariah kian meningkat.

Melihat indikasi dan performa pada kuartal I-2021, menurut Ronny, seharusnya asuransi jiwa syariah bisa melanjutkan tren positif itu sampai akhir tahun. "Mudah-mudahan tidak ada hal-hal signifikan yang bisa mengganggu pertumbuhan ekonomi, sehingga kontribusi bisa tumbuh double digit tahun ini," tandas dia.

Ronny menambahkan, klaim bruto asuransi jiwa syariah pada kuartal I-2021 naik signifikan hingga 88,17% (yoy) menjadi Rp 4,49 triliun. Lonjakan klaim itu membuat rasio klaim asuransi jiwa mencapai 101,65%, terus meningkat sejak kuartal I-2020 yang tercatat 81,53%.

"Tapi kan kembali lagi, fungsi dari asuransi jiwa adalah memberikan proteksi terhadap masyarakat. Jadi, klaim besar ini harus dilihat positif karena perusahaan asuransi syariah membayarkan kewajibannya sebagai pengelola dana," tutur dia.

Ronny menjelaskan, pada kuartal I-2021, aset asuransi jiwa syariah naik 8,83% (yoy) menjadi Rp 35,91 triliun. Salah satunya karena total investasi ikut tumbuh 3,56% (yoy) menjadi Rp 30,62 triliun. Tetapi RoI dan RoA asuransi jiwa syariah masing-masing minus 1,61% dan minus 5,20%. Dengan demikian, hasil investasi terperosok di posisi negatif Rp 191 miliar atau turun 95,32% (yoy).

Meski begitu, kata Ronny Ahmad Iskandar, perusahaan dan peserta asuransi jiwa syariah tetap memercayakan dananya pada sejumlah instrumen investasi pasar modal. Komposisi saham syariah naik dari Rp 11,15 triliun pada Maret 2020 menjadi Rp 12,17 triliun per Maret 2021. Adapun portofolio reksa dana naik dari Rp 6,59 triliun menjadi Rp 6,75 triliun.

Asuransi jiwa syariah menempatkan 88,18% dana investasi di pasar modal dan 11,59% di perbankan. "Dari sisi hasil investasi, perbandingan konvensional dan syariah, Jakarta Islamic Indeks (JII) menunjukan kinerja saham syariah masih tertinggal dibandingkan konvensional,” ucap dia.

Ronny mencontohkan, di konvensional, perbaikan hasil investasi didorong perbankan. Berbagai sektor lainnya pun menunjukkan perbaikan. Hal itu belum terjadi pada bagi hasil investasi asuransi syariah. “Tapi kami yakin vaksinasi yang sudah berjalan akan mendorong perbaikan," tegas Ronny.

Asuransi Umum Syariah

Pada kesempatan sama, Ketua Bidang Riset dan Inovasi Asuransi Umum Syariah, Pristiawan Bani menuturkan, kontribusi bruto asuransi umum syariah meningkat 3,43% (yoy) pada kuartal I-2021 menjadi Rp 501 miliar. Portofolio kontribusi asuransi umum syariah di antaranya kendaraan bermotor 39%, kecelakaan diri 34%, harta benda 15%, aneka 4%, kesehatan 4%, dan lain-lain 4%.

Dia mengatakan, para pelaku asuransi umum syariah optimistis bisa mencatatkan pertumbuhan yang lebih baik pada periode-periode berikutnya, didukung terus meningkatnya kesadaran masyarakat menggunakan layanan syariah. Dengan begitu, akhirnya permintaan terhadap asuransi umum syariah pun akan ikut terkerek.

"Ke depan, kami optimistis asuransi syariah tetap tumbuh. Pelaksanaan haji sedang terhenti, dari sana ada sekitar Rp 10 miliar premi, kemudian asuransi perjalanan umrah juga dihentikan. Tapi vaksinasi tentu akan membuka peluang asuransi umum syariah untuk kembali menawarkan asuransi perjalanan umrah dan asuransi terkait haji dengan menjalin konsorsium bersama asuransi jiwa syariah," papar Bani.

Dia mengemukakan, klaim bruto sampai kuartal I-2021 turun 27,77% (yoy) menjadi Rp 136 miliar. Maka rasio klaim dana tabarru' relatif menurun sejak Maret 2020 menjadi 52,34%. Selain itu, aset asuransi umum syariah tumbuh 2,25% (yoy) menjadi Rp 6,14 triliun.

Peningkatan aset diikuti total investasi yang tumbuh 2,39% (yoy) menjadi Rp 4,14 triliun. Komposisi investasi terdiri atas 50,43% di perbankan, 48,07% di pasar modal, dan 1,50% pada instrumen lain-lain. Namun, hasil investasi hanya tercatat Rp 28 miliar, turun 36,79% (yoy). RoI dan RoA masing-masing tercatat 0,19% dan minus 0,39%.

Kondisi pada asuransi umum syariah sedikit berbeda dengan reasuransi syariah pada kuartal I-2021. Perbedaan yang paling mencolok adalah rasio klaim yang melonjak menjadi 127,85% akibat klaim yang meningkat 28,04% (yoy) menjadi Rp 245 miliar.

Padahal, kontribusi bruto sepanjang kuartal I-2021 hanya tumbuh tipis 1,90% (yoy) menjadi Rp 221 miliar. Aset cenderung turun 1,80% (yoy) menjadi Rp 2,08 triliun, dengan investasi naik tipis 0,33% (yoy) menjadi Rp 1,52 triliun. Tapi hasil investasi berhasil dibukukan positif sebesar 15,29% (yoy) menjadi Rp 20 miliar.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN