Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi asuransi .  Foto: Istimewa

Ilustrasi asuransi . Foto: Istimewa

Penetrasi Asuransi Konvensional dan BPJS Tembus 3,06%

Rabu, 21 Juli 2021 | 04:28 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Penetrasi asuransi dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) menembus level 3,06% pada kuartal I-2021. Penurunan produk domestik bruto (PDB) nasional menjadi salah satu faktor utama penetrasi tersebut terlihat tumbuh positif.

Data penetrasi tersebut dipaparkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam laporan kuartal I-2021 yang terbit pada 16 Juli 2021. Selain penetrasi, rata-rata pengeluaran setiap penduduk Indonesia untuk membayar premi atau densitas pun ikut meningkat.

"Selama periode laporan, densitas asuransi yang menggambarkan rata-rata pengeluaran tiap penduduk untuk pembayaran premi asuransi naik sebesar 1,24% menjadi Rp 1,75 juta per tahun. Adapun tingkat penetrasi asuransi yang menggambarkan kontribusi premi bruto terhadap produk domestik bruto (PDB) adalah sebesar 3,06% atau meningkat 0,14%," tulis OJK dalam laporannya dikutip Investor Daily, Selasa (20/7).

Sementara sepanjang 2020, penetrasi asuransi di Indonesia memang cenderung meningkat. Pada kuartal I-2020 tercatat di level 2,88%, lalu naik menjadi 2,92% di kuartal II-2020. Kemudian sempat turun 2 basis poin (bps) menjadi 2,90% di kuartal III-2020, serta kembali menguat di posisi 2,92% di kuartal IV-2021.

Pada saat yang sama, densitas asuransi konvensional dan BPJS memang menunjukkan peningkatan. Namun demikian, densitas sebesar Rp 1,75 juta per tahun di kuartal I-2021 itu masih belum kembali pada posisi sebelum pandemi Covid-19 yang sempat tercatat sebesar Rp 2,15 juta per tahun pada kuartal I-2020.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Dalimunthe paparan kinerja kuartal I-2021 industri asuransi umum secara virtual, Senin (31/5).  Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto
Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Dalimunthe   Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe menyampaikan, pandemi membuat korporasi dan individu merasakan pentingnya memitigasi risiko. Sehingga coverage asuransi akan menjadi kebutuhan untuk menjaga stabilitas usaha.

"Menarik membaca Laporan OJK tersebut, karena industri asuransi masih dapat tumbuh dalam masa pandemi. Kami berharap upaya-upaya pemerintah dalam mendorong aktivitas ekonomi selama pandemi tetap memberikan optimisme bagi Industri, sehingga kebutuhan asuransi jugà mengikuti," kata Dody kepada Investor Daily, Selasa (20/7).

Tapi menurut Dody, meningkatnya rasio penetrasi asuransi konvensional dan BPJS di Indonesia tersebut lebih banyak dipengaruhi penurunan PDB sebagai akibat dari pandemi. Sedangkan rumus penetrasi asuransi adalah total premi nasional dibagi dengan PDB. "Sehingga kenaikan rasio penetrasi asuransi ini masih belum menunjukkan peningkatan riil karena kondisinya adalah menurunnya PDB," ucap dia.

Selain itu, kata dia, kontribusi premi dari asuransi wajib BPJS Kesehatan masih dominan. Meskipun begitu, premi dari penyelenggara Jaminan Kesehatan Nasional dan Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) tersebut diharapkan selalu meningkat untuk selalu berkontribusi lebih terhadap industri perasuransian.

Dody menuturkan, industri asuransi konvensional sendiri akàn selalu berupaya agar literasi asuransi di masyarakat dapat merata dan diikuti dengan inklusi asuransi. Dengan demikian diharapkan masyarakat memang benar-benar merasakan peran asuransi sebagai mitigasi risiko dan stimulus bagi dunia Industri.

"Untuk segmen individu jugà diupayakan produk-produk dan layanan asuransi benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Untuk menyelaraskan dengan kebutuhan tersebut maka implementasi teknologi digital akàn banyak dilakukan oleh perusahan-perusahaan asuransi," ungkap dia.

Lebih lanjut, Dody mengungkapkan, saat ini asuransi kesehatan sedang menunjukkan kinerja yang baik. Mengacu pada laporan AAUI, industri asuransi umum membukukan premi mencapai Rp 2,77 triliun atau tumbuh 5,7% secara tahunan (year on year/yoy) di kuartal I-2021.  

"Kalau dilihat data publikasi AAUI untuk kuartal I02021, lini bisnis yang naik ada di personal accident & health, mostly (asuransi) health sesuai dengan kondisi saat ini (pandemi). Kebutuhan asuransi kesehatan relatif meningkat. Menjadi tren positif. Secara umum memang pandemi ini membuat individu dan korporasi menjadi memahami pentingnya asuransi sebagai mitigasi risiko," kata dia.

Di sisi lain, OJK juga melaporkan perkembangan industri asuransi konvensional dan BPJS sampai dengan kuartal I-2021. Aset industri asuransi naik 2,92% secara kuartalan (qtq) menjadi Rp 1.450,85 triliun. Kenaikan aset itu diiringi dengan kenaikan jumlah investasi sebesar 0,77% (qtq) menjadi Rp 1.214,97 triliun.

Portofolio investasi yang mengalami kenaikan terbesar adalah surat berharga negara (SBN) yang naik sebesar Rp20,49 triliun. Selain itu, obligasi dan reksadana, masing-masing naik sebesar Rp 4,36 triliun dan Rp 3,25 triliun dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Kenaikan portofolio SBN tersebut sebagian besar berasal dari BPJS sebesar Rp 13,80 triliun dan asuransi jiwa sebesar Rp 3,47 triliun. Sementara itu, bila dilihat dari jenis industri asuransi, asuransi jiwa menjadi penggerak utama meningkatnya jumlah investasi dengan kenaikan sebesar Rp 5,51 triliun dibandingkan kuartal sebelumnya.

Dari sisi kinerja industri asuransi secara agregat, pendapatan premi menunjukkan kenaikan jika dibandingkan dengan kuartal yang sama di tahun sebelumnya. Pendapatan premi asuransi meningkat sebesar 9,79% (yoy) menjadi Rp 134,59 triliun. Komposisi pendapatan premi didominasi oleh BPJS dengan porsi sebesar 39,53%, diikuti oleh asuransi jiwa sebesar 37,79%, serta asuransi umum dan reasuransi sebesar 20,58%.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN