Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Kepatuhan PT AXA Mandiri Financial Services Rudy Kamdani : Penilaian praktik GCG  untuk lebih meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap asuransi.

Direktur Kepatuhan PT AXA Mandiri Financial Services Rudy Kamdani : Penilaian praktik GCG untuk lebih meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap asuransi.

Perlu Ada Lembaga Penilai GCG Asuransi

Rabu, 6 Januari 2021 | 11:00 WIB
Windarto

Jakarta, Investor.id – Persoalan good corporate governance (GCG) atau tata kelola perusahaan yang baik masih menjadi catatan bagi industri asuransi. Kasus gagal bayar sejumlah perusahaan asuransi dalam beberapa tahun terakhir menjadi kampanye negatif terhadap upaya mendorong masyarakat berasuransi. Sebagian masyarakat yang masih ragu untuk menitipkan risiko (jiwa, kesehatan, harta benda, dsb) melalui asuransi, dihadapkan pada kenyataan ada risiko lain yang lebih menakutkan baginya, perusahaan asuransi yang dikelola secara tidak amanah.

Kecemasan terhadap risiko tata kelola perusahaan ini tentu beralasan, sebab dalam beberapa kasus mengakibatkan perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban membayar klaim karena tidak ada likuiditas. Dapat dibayangkan, selama bertahun-tahun pemegang polis menyisihkan uang untuk membayar premi dengan harapan pada saat kelak dibutuhkan, apakah karena suatu risiko atau karena jatuh tempo, ia bisa mendapatkan manfaat dari hasil jerih payah 'menabung' premi tersebut. Tapi, pada saat terjadi risiko atau sedang membutuhkan dana, polis asuransi yang dimilikinya ternyata tidak bisa 'dicairkan'. Ibarat sudah kena musibah, terkena 'PHP' pula, kerugiannya menjadi ganda.

Untuk itulah, pengawasan GCG tidak kalah penting dengan pengawasan kinerja finansial. GCG mempunyai lingkup yang luas terhadap berbagai aspek dalam mengelola perusahaan. Seberapa patuh perusahaan dalam menerapkan ketentuan yang sudah ditetapkan regulator dalam hal operasional, pemasaran, pengelolaan investasi, keuangan dll. Dikatakan Direktur Kepatuhan PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri) Rudy Kamdani, secara regulasi terkait GCG sebenarnya sudah cukup baik, hanya dalam implementasinya seperti apa bergantung dari komitmen dari top management dan pemegang saham di setiap perusahaan. GCG tidak akan berjalan dengan baik bila tidak ada dukungan dari top management dan pemegang saham.

Menurut Rudy, GCG idealnya akan mendorong bisnis dan penjualan menjadi lebih baik. Sebab, asuransi merupakan bisnis kepercayaan. Jika perusahaan asuransi melakukan hal yang tidak benar, akan mempersulit langkah ke depan. Rudy mencontohkan, ketika suatu perusahaan menerapkan sistem baru yang harus dipatuhi, mungkin saja di awal-awal berdampak terhadap penjualan, namun begitu sistem tersebut sudah mulai berjalan dengan baik, penjualan akan dengan cepat pulih dan membaik dalam jangka panjang.

“Saya berharap masyarakat belajar dari kasus-kasus yang ada sekarang. Memilih asuransi bukan hanya memikirkan return, jangan terpengaruh return saja. Tapi harus mempertimbangkan juga faktor GCG perusahaan,” tuturnya saat berbincang dengan Investor baru-baru ini.

Selama ini masyarakat seringkali menilai perusahaan asuransi yang baik hanya melihat dari risk based capital (RBC). Semakin tinggi RBC dianggap perusahaan tersebut paling baik. Padahal RBC hanya salah satu aspek dalam menilai perusahaan. RBC yang terlalu tinggi pun justru dinilai kurang bagus bagi perusahaan tersebut, sebab dana (modal) yang dimiliki belum secara optimal digunakan untuk mengembangkan bisnis perusahaan.

Sebenarnya ada aspek lain yang bisa menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih perusahaan asuransi yakni GCG. Sayangnya, informasi mengenai GCG di suatu perusahaan tidak terpublikasi seperti halnya laporan keuangan. Karena itulah, Rudy berharap ada suatu mekanisme atau inisiatif yang dilakukan regulator untuk memberikan penilaian terhadap GCG perusahaan dengan scoring.

Diharapkan ada suatu mekanisme yang membuat nasabah dapat mengakses untuk mengetahui bahwa perusahaan tersebut memiliki GCG yang bagus, risk management-nya juga bagus. Sekarang ini, lanjut Rudy, perusahaan melakukan penilaian sendiri terhadap risk assesment-nya. “Mungkin perlu ada suatu lembaga independen atau dari regulator yang khusus membuat hal itu. Untuk lebih meningkatkan kepercayaan masyarakat, di samping aspek penilaian pada RBC-nya. Hal tersebut bisa dijadikan nilai tambah atau selling point bagi perusahaan asuransi,” imbuh Rudy.

Penilaian GCG juga penting sehubungan dengan rencana pemerintah membentuk Lembaga Penjamin Polis (LPP). Salah satu yang menjadi diskusi dalam pembentukan lembaga tersebut terkait kriteria perusahaan yang menjadi anggota. Bila perusahaan yang memiliki GCG buruk ikut menjadi anggota, hal ini akan meningkatkan risiko dan dapat berakibat terhadap reputasi industri asuransi. Karenanya, perlu ada penilaian terhadap penerapan GCG di perusahaan asuransi yang nantinya akan bergabung di LPP.

Bagaimana secara sederhana masyarakat menilai perusahaan asuransi menerapkan GCG? Menurut Rudy sebenarnya masyarakat bisa menilai dari website yang dimiliki perusahaan. Dengan mencoba menjelajah dan melihat apa saja informasi yang tersaji di situ. Seberapa banyak informasi yang tersedia mengenai manajemen, latar belakang dan pengalamannya. Begitupun informasi mengenai produk yang ditawarkan, apa saja kegiatan CSR dan program lain yang dimiliki perusahaan, termasuk laporan keuangan berkala yang biasa disampaikan secara lengkap. “Kalau website-nya sudah lengkap, itu adalah awal GCG bagus, baca saja laporan keuangan (tahunan/annual report), biasanya ada laporan dari komite independen,” ungkap Rudy.

Editor : Maswin (maswin@investor.co.id )

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN