Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sharia, Goverment Relations and Community Investment Director Prudential Indonesia Nini Sumohandoyo saat peluncuran produk PruCinta, salah satu produk syariah andalan Prudential Indonesia.

Sharia, Goverment Relations and Community Investment Director Prudential Indonesia Nini Sumohandoyo saat peluncuran produk PruCinta, salah satu produk syariah andalan Prudential Indonesia.

Potensi Bisnis Asuransi Syariah 10 T, Ini yang Dilakukan Prudential Indonesia

Windarto, Kamis, 21 Mei 2020 | 17:00 WIB

Jakarta-Bisnis asuransi syariah memiliki potensi yang cukup besar di Indonesia. Kendati secara pangsa pasar masih belum terlalu besar dibandingkan asuransi konvesional, secara bisnis asuransi syariah terus bertumbuh cukup baik. Sharia, Goverment Relations and Community Investment Director Prudential Indonesia Nini Sumohandoyo, menyatakan dalam tiga tahun ke depan potensi bisnis asuransi jiwa syariah mencapai Rp 9,6 triliunan-Rp 10 triliun. Angka ini didasarkan analisa data-data dan survei. Nini menyebut, dari total potensi tersebut, 81% berasal dari kalangan muslim dan 19% non muslim.

Mengutip hasil survei Kadencte bertema Usage & Attitude on Sharia Life Insurance yang dirilis Maret 2020 tersebut, Nini menyebut ada peningkatan yang cukup berarti dalam hal pemahaman dan minat masyarakat terhadap asuransi jiwa syariah. Sebagai gambaran, pada survei tahun 2016 pemahaman masyarakat ada di tingkat 31%, menjadi 39% pada 2020. Sementara dari sisi minat terhadap asuransi syaraiah juga naik dari 40% menjadi 58%. “Yang menarik dari angka tersebut 44% atau hampir 50% dari mereka adalah generasi milenial. Jadi semakin hari mereka ini semakin paham prinsip-prinsip syariah,” ujarnya dalam Prusyariah Media Gathering dan Iftar secara virtual (18/5).

Berdasarkan survei tersebut, ada lima jenis manfaat asuransi jiwa yang menjadi pertimbangan masyarakat untuk memilikinya yakni asuransi kesehatan (75%), asuransi kecelakaan diri (58%), asuransi pendidikan (45%), asuransi yang dikaitkan dengan investasi (43%) dan asuransi untuk masa pensiun (30%).

Menyikapi potensi yang besar tersebut, bisnis syariah Prudential Indonesia, lanjut Nini menyiapkan beberapa langkah yang sudah dan akan dilakukan antara lain dengan melakukan inovasi produk, ekspansi bisnis, peningkatan profesionalisme tenaga pemasar, membuat Sharia Knowledge Centre, menciptakan kemitraan digital untuk syariah, literasi dan inklusi, serta mempersiapkan untuk spin off.

Secara bisnis, Prudential Indonesia melalui PruSyariah menjadi pemimpin pasar asuransi jiwa syariah di Indonesia. Per 2019, total kontribusi yang diperoleh sebesar Rp 3,7 triliun, tumbuh 1% dari Rp 3,6 triliun atau menguasai 28% pangsa pasar industri asuransi jiwa syariah. Kontribusi dana tabarru sebesar Rp 2,5 triliun tumbuh 8 %, dari Rp 2,3 triliun. Sementara aset yang dimiliki mencapai Rp 9,1 triliun.

 

Gaya Hidup Halal

Disampaikan Afdhal Aliasar, direktur Pengembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), dengan potensi pasar Rp 10 triliun tersebut, para pelaku asuransi syariah harus berpikir bagaimana untuk mengembangkan industri tersebut apalagi di tengah kondisi pandemi seperti sekarang yang mengharuskan untuk physical distancing. Salah satu yang perlu dikembangkan, lanjutnya, adalah ekonomi digital. KNEKS sudah mencanangkan masalah ini sejak 2019. Artinya dengan kondisi pandemi dan penerapan physical distancing, digitalisasi industri syariah jadi salah satu solusi agar tetap bisa berbisnis.

Hal yang perlu diperhatikan, kata Afdhal, adalah sektor Halal Lifestyle. “Banyak peluang di situ yang memang belum tergarap. Kita bicara haji dan umrah, properti, consumer goods, otomotif, sangat banyak peluang dimana keuangan syariah bisa bermain di sana. Halal lifestyle menjadi konsep yang menarik di Indonesia menjadi sesuatu trigger yang utama, untuk pengembangan ekonomi dan keuangan syariah,” urainya.

Karenanya, Afdhal mengharapkan dengan bermunculannya ekonomi dan keuangan syariah pada industri pariwisata, makanan, fashion, kosmetik, farmasi, pendidikan, dan hiburan semestinya menjadi potensi yang menarik bagi asuransi untuk masuk ke sektor-sektor tersebut. “Semua sektor ini menjadi lahan yang sangat baik untuk bisnis asuransi. Jadi bagaimana bisnis asuransi bisa masuk ke sini, ini tantangan tersendiri,” paparnya.

Afdhal pun menilai komunitas muslim seperti mesjid-mesjid, lembaga-lembaga Islam, majelis taklim, BMT, dsb, bisa pula menjadi komunitas yang kuat untuk pengembangan ekonomi syariah.

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN