Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon  saat paparan kinerja industri asuransi jiwa kuartal I-2021 secara virtual, Selasa (8/6).  Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon saat paparan kinerja industri asuransi jiwa kuartal I-2021 secara virtual, Selasa (8/6). Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Rasio Klaim Terus Meningkat, Tarif Premi Asuransi Jiwa Belum Tentu Naik

Kamis, 10 Juni 2021 | 04:31 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Perusahaan asuransi jiwa terus mencatatkan peningkatan rasio klaim dalam kurun lima tahun terakhir. Pada kuartal I-2021, rasio klaim menembus level 82,99%. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menilai bahwa peningkatan rasio klaim tersebut tidak serta merta membuat perusahaan asuransi menaikkan tarif premi.

Berdasarkan data AAJI yang dikumpulkan Investor Daily, rasio klaim perusahaan asuransi jiwa memang terus meningkat sejak tahun 2016 sampai awal 2021. Rasio klaim pada 2016 terjaga di level 56,99%, naik menjadi 61,67% pada 2017, dan kembali meningkat jadi 65,28% pada 2018. Tren berlanjut pada 2019, rasio klaim menjadi 76,14% dan naik menjadi 80,54% pada 2020. Dari laporan terakhir, klaim rasio asuransi jiwa kembali terkerek menjadi 82,99%.

Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon mengakui tren peningkatan klaim rasio pada asuransi jiwa pada beberapa tahun belakangan. Tapi menurut dia, kenaikan klaim lebih banyak dipengaruhi realisasi klaim maturity benefit atau pembayaran manfaat asuransi karena polis jatuh tempo. Sehingga fenomena peningkatan rasio klaim tidak menakutkan karena memang telah terjadwal.

Budi juga mengatakan, peningkatan rasio klaim tidak serta merta membuat perusahaan asuransi lekas menaikkan tarif preminya. Banyak faktor bagi suatu perusahaan asuransi jiwa memutuskan untuk meningkatkan tarif premi. Secara umum, fenomena peningkatan klaim rasio beberapa tahun terakhir tersebut tidak secara otomatis menyeret tarif premi untuk naik.

"Kalau asuransi kesehatan rasio klaimnya naik maka akan dicermati oleh perusahaan asuransi. Kalau cuma karena satu atau dua tahun (rasio klaim) naik, belum tentu tarif premi dinaikkan oleh asuransi jiwa, itupun kalau sifatnya temporer atau sesaat. Kalau (diketahui) penyebabnya adalah pandemi dan ke depan diperkirakan akan turun lagi, rasanya asuransi jiwa tidak akan menaikkan preminya," ucap dia pada konferensi pers secara daring, Selasa (8/6).

Budi menjelaskan, indikasi tarif premi bahkan bisa turun dengan sejumlah pencapaian di kuartal I-2021. Faktornya bisa berupa jumlah tertanggung, premi, dan pos lain yang tercatat tumbuh positif. Jumlah tertanggung yang semakin banyak akan ikut menekan risiko dari perusahaan asuransi jiwa. Apalagi pihaknya meyakini kesadaran (awareness) masyarakat yang kian meningkat akan ikut mendorong penambahan jumlah tertanggung di masa mendatang.

"Ketika awareness pentingnya memiliki proteksi asuransi meningkat dan semakin banyak masyarakat yang memiliki proteksi asuransi jiwa, maka rasio klaim akan semakin stabil. Selain itu, besar kemungkinan malah premi bisa turun. Dalam hal ini, tabel mortalitas Indonesia dari waktu ke waktu itu semakin turun. Karena jumlah tertanggung semakin banyak, rasio klaim bisa semakin stabil," ungkap dia.

Berdasarkan data AAJI sampai kuartal I-2021, jumlah polis asuransi jiwa mencapai 17,78 juta atau tumbuh 1,8% secara tahunan (year on year/yoy). Polis perorangan tumbuh 2,7% (yoy) menjadi sebanyak 17,24 juta, sedangkan polis kumpulan tercatat melambat 21,6% (yoy) menjadi sebanyak 533,36 ribu.

Selanjutnya, jumlah tertanggung tercatat melambat 4,7% (yoy) menjadi sebanyak 63,87 juta orang. Perlambatan diakibatkan oleh segmen tertanggung kumpulan yang turun 7,3% (yoy) menjadi sebanyak 45,59 juta orang. Sedangkan tertanggung perseorangan tumbuh positif 2,6% (yoy) menjadi sebanyak 18,28 juta orang.

Realisasi Klaim

Ketua Umum AAJI Budi Tampubolon: Agen yang profesional, kompeten, dan berhasil, memiliki tingkat penghasilan yang tidak terbatas
Ketua Umum AAJI Budi Tampubolon: 


Di sisi lain, asuransi jiwa turut membuktikan komitmennya tetap membayarkan klaim dan manfaat asuransi. Terlepas klaim dan manfaat selama lima tahun terakhir yang terus meningkat, AAJI mencatat klaim dan manfaat dibayarkan pada kuartal I-2021 pun masih tumbuh sebesar 23,5% secara tahunan (yoy), dari Rp 38,6 triliun di periode sama tahun sebelumnya menjadi Rp 47,68 triliun untuk awal tahun ini.

Jika dirinci, total klaim kesehatan mencapai Rp 2,59 triliun atau melambat 13,3% (yoy). Total klaim tersebut dicatatkan pada semua lini. Klaim kesehatan perorangan turun 0,2% (yoy) menjadi Rp 1,42 triliun. Adapun klaim kesehatan kumpulan turun 25,2% (yoy) menjadi Rp 1,17 triliun. Perlambatan pada klaim kesehatan mengindikasikan bahwa nasabah asuransi jiwa tidak melakukan kunjungan ke dokter karena banyak aktivitas di rumah dan ada keengganan untuk mendatangi fasilitas kesehatan karena pandemi Covid-19.

Untuk klaim meninggal dunia, asuransi jiwa tercatat membayarkan sebesar Rp 4,45 triliun atau naik 62% (yoy). Komitmen asuransi jiwa juga dibuktikan dengan realisasi klaim menyangkut Covid-19 sebesar Rp 1,46 triliun terhadap sebanyak 24.997 polis dari periode Maret 2020 sampai dengan Februari 2021. Klaim mencakup 87,41% itu sudah selesai diproses, sedangkan sisanya 12,59% masih dalam proses.

Kontribusi terbesar masih dicatatkan klaim nilai tebus (surrender), pada kuartal I-2021 mencapai Rp 28,54 triliun atau tumbuh 30,6% (yoy). Klaim tersebut menyumbang 59,9% dari total klaim. Manyusul klaim partial withdrawal yang mencapai Rp 6,20 triliun atau tumbuh 53,1% (yoy), atau berkontribusi 13,0% dari total klaim. Klaim lainnya mencapai Rp 1,53 triliun atau meningkat 5,3% (yoy).

Sementara itu, Budi mengatakan, pandemi memang tidak bisa dianggap remeh tapi perusahaan asuransi jiwa kini dalam kondisi yang lebih siap terhadap tantangan yang ada. Meski begitu, digitalisasi menjadi hal yang wajib dilakukan perusahaan asuransi untuk memastikan keberlangsungan usaha, sekaligus menjawab potensi di masa mendatang.

"Sudah ada kanal keagenan, bancassurance, telemarketing, dan beberapa kanal lainnya untuk menjangkau masyarakat Indonesia seluas-luasnya. Tetapi karena sebaran geografis kita, kanal digital bisa menjadi solusi membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat Indonesia mendapatkan proteksi asuransi. Bukan hanya membeli, tapi juga untuk mendapatkan layanan. Jadi kalau ada perubahan cara bayar, perubahan premi, perubahan manfaat polis, atau mengajukan klaim, dan sebagainya, digital bisa menjadi jawaban," papar dia.

Budi pun berharap, setiap perusahaan asuransi jiwa semakin mengerahkan daya upayanya ke arah digital dengan turut didukung para pemangku kepentingan. Dengan bekal digitalisasi dan mitigasi yang telah dilakukan atas pandemi, pihaknya meyakini industri asuransi siap melesat di masa mendatang.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN