Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang petugas menghitung dolar AS di sebuah tempat penukaran valas di Jakarta, beberapa waktu lalu.  Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Seorang petugas menghitung dolar AS di sebuah tempat penukaran valas di Jakarta, beberapa waktu lalu. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Rupiah Rabu Ditutup Terkoreksi 38 Poin di 14.030

GR, Rabu, 27 Februari 2019 | 18:20 WIB

JAKARTA- Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu sore, terkoreksi 38 poin menjadi Rp14.030 per dolar AS dari sebelumnya Rp13.992 per dolar di tengah potensi gagal bayar pemerintah Amerika Serikat.

"Potensi gagal bayar utang yang jatuh tempo, mengakibatkan indeks dolar kembali menguat," kata analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi.

Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) buka suara mengenai kemungkinan pemerintah gagal membayar utangnya saat kongres tengah bergulat membahas kemungkinan menaikkan jumlah utang yang dapat dipikul pemerintah AS.

Pada 12 Februari 2019, utang pemerintah AS sudah mencapai US$ 22,15 triliun, dibandingkan pekan sebelumnya yaitu US$ 21,9 triliun.

"Batas atas pinjaman belum jelas. Sejak Obama sampai Trump, batas atas pinjaman tidak jelas. Sedangkan utang luar negeri AS sudah mencapai US$ 22,15 triliun," kata Ibrahim.

Selain itu, tingginya risiko di perekonomian global, seperti perlambatan di Eropa dan China, mendorong pelaku pasar untuk menjadikan dolar AS sebagai bunker perlindungan. "Dolar AS ternyata masih menjadi 'darling' pelaku pasar, meski tanpa dukungan kenaikan suku bunga acuan seperti tahun lalu," ujarnya.

Kemudian, lanjut Ibrahim, naiknya harga minyak juga memberikan sentimen negatif terhadap nilai tukar rupiah sebab biaya impor minyak akan membengkak.

"Padahal Indonesia adalah negara net importir minyak, mau tidak mau harus ada impor untuk memenuhi kebutuhan karena produksi dalam negeri yang tidak memadai. Ini akan membuat pasokan devisa terkuras dan rupiah tidak punya modal untuk menguat. Fondasi rupiah menjadi rapuh sehingga rentan terdepresiasi," kata Ibrahim.

Nilai tukar (kurs) rupiah sendiri pada pagi hari sebenarnya dibuka menguat Rp13.985 dolar AS, namun kemudian bergerak melemah hingga sore hari. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp13.980 per dolar AS hingga Rp14.042 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Rabu menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp14.004 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp13.990 per dolar AS.

Sumber : ANTARA

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA