Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Tiongkok Ikut Gelombang Pelonggaran Moneter

Kamis, 5 Februari 2015 | 13:53 WIB
ah

BEIJING – Bank sentral Tiongkok, People’s Bank of China (PboC), pada Rabu (4/2) memangkas giro wajib minimum (GWM) perbankan sebesar 0,5 poin persentase. Hal ini menandakan, otoritas Tiongkok mengikuti gelombang pelonggaran moneter yang dijalankan bank-bank sentral dunia, dalam rangka membangkitkan perekonomian masing-masing. Kebijakan yang dijadwalkan berlaku efektif pada Kamis (5/2) ini menyusul pengumuman bulan lalu bahwa produk domestik bruto (PDB) 2014 tumbuh 7,4% atau terendah dalam 24 tahun.


“Kami akan mendorong perekonomian yang sehat dan stabil,” bunyi pengumuman PboC. Namun, bank sentral ini tidak menyebutkan level GWM sebelumnya. Berdasarkan pernyataan-pernyataan sebelumnya, GWM itu akan turun menjadi 19,5%. Pada November 2014, PBoC untuk pertama kalinya dalam lebih dua tahun memangkas suku bunga acuan. Kalangan analis memperkirakan pelonggaran moneter lebih lanjut karena perekonomian Tiongkok terus menunjukkan tanda-tanda pelemahan.


Hasil survei pemerintah yang diumumkan akhir pekan lalu juga menunjukkan, untuk pertama kalinya dalam lebih dua tahun aktivitas manufaktur mengalami kontraksi. Hal itu mengindikasikan tekanan penurunan terhadap perekonomian. Purchasing managers’ index (PMI) yang dirilis badan statistik mencatat angka 49,8 pada bulan lalu. Langkah terbaru PBoC itu mengikuti lebihi dari 12 bank sentral dunia yang melonggarkan kebijakan moneter tahun ini. Faktor pendorongnya adalah kemerosotan harga-harga komoditas menghambat cakupan pertumbuhan ekonomi.


Adapun perekonomian Tiongkok juga melambat karena dipengaruhi kejatuhan pasar properti dan kelebihan kapasitas produksi industri. Akibatnya, Tiongkok arus keluar modal terbesar, setidaknya sejak 1998 pada kuartal IV-2014. “Pemangkasan ini terutama disebabkan oleh arus keluar modal dan seretnya likuiditas di sistem finansial dalam negeri. Arus keluar modal adalah tren jangka panjang dan struktural sehingga membutuhkan cara jangka panjang pula untuk mengatasinya,” ujar Ding Shuang, ekonom senior Citigroup Inc di Hong Kong.


Langkah bank sentral itu juga menunjukkan peralihan menuju kebijakan-kebijakan pro-pertumbuhan, yang berpotensi terus menaikkan jumlah utang. Gelombang penyaluran kredit pada 2009-2013 di Tiongkok memicu lonjakan utang. Kalau di negara-negara lain, kata Dana Moneter Internasional (IMF), hal itu sudah bisa krisis perbankan. Langkah PBoC itu mengikuti Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of Japan (BoJ) yang juga sudah mengeluarkan stimulus baru.


Kendati akan menurunkan biaya kredit, tapi pemangkasan GWM meningkatkan likuiditas karena perbankan bisa memperluas penyaluran kredit. Indeks harga produsen (IHP) juga memberi ruang bagi pelonggaran moneter lebih lanjut di Tiongkok. IHP pada Desember 2014 turun 3,3% dibandingkan tahun sebelumnya dan menunjukkan penurunan 34 bulan berturut-turut.


Deputi Gubernur PBoC Hu Xiaolian mengatakan, pihaknya pada dasarnya menghentikan intervensi rutin nilai tukar. Hal ini akan melonggarkan tekanan untuk menyedot likuiditas sehingga ada ruang untuk menurunkan GWM. (afp/bloomberg/sn)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN